Image Background
header
ANDREW ADALAH KITA06/05/2015Tengah malam Andrew Chan menghadap Juru Selamatnya. Dia ditembak mati di Nusa Kambangan pada hari itu, Rabu 29 April 2015. Permohonan, petisi, protes dari berbagai belahan dunia tidak bisa meluluhkan hati Presiden Republik Indonesia untuk memberikan penundaan ataupun pembatalan eksekusi itu (kecuali dalam kasus warga negara Filipina, Mary Jane).
Lessons of Life ANDREW ADALAH KITA
batas
BANGKIT !01/04/2015almarhum Lee Kuan Yew memerintah dengan tangan besi, dan memenjarakan lawan politiknya tanpa proses pengadilan.
Bagaimana hubungan beliau dengan Tuhan? Begini kata-katanya: “I wouldn’t call myself an atheist. I neither deny nor accept that there is a God. So I do not laugh at people who believe in God. But I do not necessarily believe in God – nor deny that there could be one.”
Lessons of Life BANGKIT !
batas
KEKOSONGAN JIWA MANUSIA29/04/2013Bulgari menawarkan beberapa produknya agar di atas meja kantor anda, tamu yang datang tetap terpesona.
Lessons of Life KEKOSONGAN JIWA MANUSIA
batas
P R O S E S24/08/2015Keris dibuat dengan memakai besi yang dibakar di api super panas, dipukul berkali-kali, lalu dilipat dan dipukul lagi di atas api berulang-ulang. Berapa kali proses ini diulang? Menurut harian Kompas, keris jaman Majapahit dilipat dan ditempa sebanyak 2.048 kali, bahkan ada yang 4.096 kali. Semua tempaan dibuat oleh pencipta keris untuk mencapai kesempurnaan. Demikian juga kita dibentuk oleh Nya.
Lessons of Life P R O S E S
batas
RUMAH ATAU TOKO?05/09/2011Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,
(Ef 2:19)


James Twitchell adalah dosen di bidang iklan/advertising. Dia mengunjungi beberapa gereja besar di Amerika Serikat dan menuliskan pengalaman dan pengamatannya dalam bukunya “Shopping for God”. Inti daripada bukunya adalah: kerohanian di Amerika sudah menjadi kegiatan ekonomi. Ini memunculkan beberapa pertanyaan:
Gereja adalah rumah atau toko/resto? Yang hadir di gereja adalah anggota keluarga atau pelanggan? Pendeta adalah bapak rohani atau pedagang rohani?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk dijawab, kalau kita serius dengan iman kita, dan tak menganggap iman kita hanyalah tempelan/bagian tidak penting dalam hidup kita.

Gereja bisa menjadi toko bagi jemaat. Toko hanyalah tempat singgah saja. Kita datang, ambil apa yang kita butuhkan, bayar, lalu pulang. Di situ tidak ada hubungan lain selain transaksi dagang. Barangkali ada obrolan singkat dan basa-basi. Tapi penjual tidak diharapkan banyak bertanya tentang kehidupan pembeli. Pembeli juga tidak diharapkan banyak meminta/menuntut dari penjual. Masing-masing tahu posisi dan peran masing-masing.

Ada unsur kepentingan masing-masing yang didapat dari transaksi ini. Tiap-tiap orang ada di toko untuk memenuhi kepentingannya. Tuntutan di toko adalah: berikan apa yang saya butuhkan! Penjual mendapat apa yang dia butuhkan, pembeli menemukan apa yang dia cari. Selama ini berjalan dengan baik, hubungan akan bertahan. Kalau terjadi suatu gangguan, pembeli akan pindah toko. Atau kalau ada toko baru, pembeli akan mencoba toko baru itu, siapa tahu di sana lebih baik/enak. Jadi hubungan di toko adalah hubungan yang sangat dangkal dan rapuh.

Gereja bisa menjadi rumah bagi jemaat. Rumah jelas berbeda dengan toko. Rumah bukanlah tempat singgah, tapi tempat berdiam. Rumah adalah milik kita semua. Di rumah ada hubungan yang dalam dan transparan. Tuntutan datang dari kelompok, bukan dari pribadi. Contoh: semua orang harus perduli satu dengan yang lain. Di rumah kita diharapkan (baik terang-terangan maupun diam-diam) untuk tahu atau untuk bertanya tentang keadaan anggota keluarga yang lain. Kalau kita tidak tahu atau tidak perduli keadaan anggota keluarga yang lain, kita akan dianggap bukan anggota yang baik dan melanggar suatu kesepakatan yang tak tertulis. Dengan kata lain: di rumah ada komitmen, yang tidak terdapat di toko.

Adakah kepentingan tertentu dalam suatu rumah? Ada! Tetapi kepentingan itu tidak lagi untuk diri saya saja. Saya juga berkepentingan supaya anggota keluarga yang lain menjadi baik. Saya bertekad untuk melakukan sesuatu untuk memenuhi kepentingan anggota keluarga yang lain. Itulah rumah! Tempat untuk berbagi dan memberi.

Saat sdr/i datang beribadah ke GBI Putera, apakah ini rumah atau toko buat sdr/i?

Saya berharap GBI Putera adalah rumah bersama buat kita semua. Semua orang yang beribadah di gereja ini adalah pemilik rumah sekaligus anggota keluarga. Rumah ini sedang dibangun. Yang membangun adalah kita semua, bekerja sama dengan Tuhan (Maz 127:1). Sebagaimana rumah yang sedang dibangun, ada banyak bagian yang belum selesai dan masih berantakan. Masih ada terjadi gesekan, konflik, ketidakpuasan, tuntutan tak terpenuhi dll.

Sebagai pemilik rumah, kita tidak akan melihat yang berantakan lalu berkata, “Ah, berantakan sekali rumah ini. Udah…saya pindah aja ke rumah lain…” Sebagai pemilik rumah, kita akan berkata, “Rumah ini masih berantakan karena masih belum selesai dibangun. Saya harus terus terlibat dalam pembangunan ini. Nanti kalau selesai, pasti jadinya bagus sekali, dan saya akan ikut menikmatinya.” Itulah komitmen!

Saya berharap GBI Putera menjadi rumah yang teduh. Keteduhan didapat sewaktu kita semua melakukan apa yang disarankan oleh Paulus di surat Filipi 2:1-11, yaitu semua kita meniru Yesus. Sikap yang harus muncul, antara lain:
1. Saling perduli – semua kita adalah sesama saudara dan anggota keluarga. Kita wajib memperhatikan orang lain. Contoh kecil: menyapa satu dengan yang lain, sekalipun tidak tahu namanya. Contoh lain: kalau ada jemaat yang kelihatan lagi sendirian, kenapa tidak diajak ngobrol?
2. Berbesar hati, saling menerima dan tidak menghakimi – kalau melihat kekurangan orang lain, kita tidak langsung memberi cap negatif. Mari belajar untuk berbesar hati dan selalu berupaya melihat kebaikan dalam diri yang lain. Sadarlah bahwa kita sendiri juga ada kekurangan.
3. Belajar untuk tidak mencari kepentingan diri sendiri. Kita ada di sini bersama-sama sebagai umat Tuhan. Mari lakukan apa yang bisa kita lakukan. Ada orang yang datang ke gereja untuk mendapat sesuatu, mungkin musik yang bagus atau khotbah yang membuai. Semua ini sah-sah saja, tapi saya mengajak kita mengambil satu langkah maju. Mari kita bertumbuh. Mari datang ke gereja untuk memberi juga: pertama-tama memberi kepada Tuhan (pujian dan penyembahan kita). Lalu kita belajar memberi kepada sesama anggota keluarga kita, yaitu jemaat. Mari belajar untuk berbagi dalam hal-hal kecil: senyum, jabat tangan, doa, penerimaan dll. Kalau ini terjadi, maka GBI Putera akan menjadi rumah yang teduh, rumah kesukaan Tuhan dan jemaat.

Jadi, saudara-saudari sekalian, hari ini kita semua sedang ada di rumah kita sendiri. Nikmatilah apa yang ada di rumah ini, terimalah berkat dan jadilah berkat!
Lessons of Life RUMAH ATAU TOKO?
batas
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT