Image Background
header
Doa BADAI
BADAI
Setelah beberapa hari lamanya baik matahari maupun bintang-bintang tidak kelihatan, dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan diri kami.
(Kis 27:20)
Namanya macam-macam: badai, topan, taifun, angin puting beliung, tornado, siklon. Tapi sebenarnya badai adalah udara yang mengalir alias angin. Hanya, dia adalah angin yang bertiup kencang sekali, sering disertai dengan hujan, dan memiliki daya rusak yang kuat. Kekuatan badai begitu mengerikan sehingga kalaupun tidak membawa korban jiwa, badai sering kali membawa ketakutan yang hebat, seperti catatan dokter Lukas di Kis 27 tentang pengalaman dia di badai.
Ketika bicara tentang badai, kita perlu memahami bahwa badai bisa berupa badai fisik berupa angin super kencang ataupun badai mental berupa masalah super berat dalam hidup kita.
Badai adalah tanda kehidupan. Tidak ada kehidupan bebas badai. Selama kita masih hidup di dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini, kita pasti akan menghadapi badai, terutama badai mental. Ada kalanya Tuhan menenangkan badai dalam hidup kita, tetapi di lain kali Dia tidak menenangkan badai, tetapi menenangkan kita yang sedang ada di tengah badai.
Kenapa?
Inilah pertanyaan yang sudah ditanyakan selama ribuan tahun. Kenapa Tuhan tidak membereskan masalah dalam hidup saya? Kenapa harus ada badai dalam rumah tangga/bisnis saya? Bukankah lebih baik kita tidak menghabiskan waktu dan enerji kita menghadapi badai? Bukankah badai bisa menghancurkan kapal kehidupan kita? Bukankah Yesus menjanjikan damai buat kita?
Jawabannya: karena badai adalah penting buat kita. Memang badai mengandung bahaya, hidup kita bisa hancur. Tetapi di tengah badai kita belajar tentang kehidupan, tentang Tuhan, tentang diri kita. Jarang sekali ada orang yang belajar hal-hal demikian di saat laut kehidupan sedang tenang. Jadi badai adalah arena pembelajaran.
Bagaimana dengan damai? Seseorang yang ada di tengah badai bisa tetap merasakan damai sejahtera. Sebaliknya, seorang yang hidupnya tenang-tenang saja belum tentu memiliki damai. Damai bukan berarti tidak ada konflik atau masalah. Yesus bisa tetap tenang dan tidak hilang damai-Nya di tengah serangan dan konflik yang Dia alami.
Kalau saudara naik di sebuah kapal, nahkoda mana yang saudara pilih: yang pernah atau sering melewati badai atau yang tidak pernah melewati badai sama sekali? Naik pesawat juga sama: pilih pilot berpengalaman di tempat sulit atau yang selama ini main di cuaca aman saja? Pasti saudara memilih seorang pilot atau nahkoda yang sudah mengalami berbagai cuaca yang berat! Karena itulah orang yang teruji!
Kalau saudara mau melatih kapten kapal, latihan terbaik apakah di laut tenang atau di laut bergelora? Pilot pesawat yang dilatih di simulator selalu dihadapkan pada situasi di mana angin ribut dan badai sedang melanda. Di situlah seorang dilatih untuk kuat dan mampu.
Beberapa puluh tahun yang lalu sekelompok orang membangun suatu bangunan raksasa yang disebut Biosphere 2. Luasnya 2-1/2 lapangan sepak bola, terbuat dari kaca tembus pandang. Di dalam bangunan berbentuk kubah ini mereka membuat berbagai jenis cuaca di muka bumi. Ada gurun pasir, ada laut, ada hutan, ada padang rumput, ada lembah berkabut. Lalu mereka tinggal di dalam bangunan itu bertahun-tahun. Ada sesuatu yang menarik. Mereka tidak bisa membuat angin. Memang ada AC tetapi angin AC tetap kecil. Tidak ada angin kencang. Tidak adanya angin ini karena alasan teknis. Adanya angin kuat akan mengacaukan eksperimen mereka. Tetapi ternyata ketiadaan angin ini justru mengacaukan! Pohon yang mereka tanam di dalam bisa bertumbuh besar seperti biasa. Tetapi sewaktu diperiksa, ditemukan bahwa pohon ini rapuh sekali, gampang tumbang, tidak seperti pohon sejenis yang ada di luar bangunan itu. Ternyata penyebabnya adalah tidak adanya angin kencang! Rupanya angin kencang itu yang membuat pohon menjadi kuat!
Apakah saudara ingin kuat dalam hidup ini? Kuncinya: jangan lari dari badai kehidupan. Patricia Christy, penduduk Florida, bosan kena badai terus. Jadi dia memutuskan untuk pindah ke Hawaii. Pada hari dia mendarat di Hawaii, justru di situ terjadi badai…
Hadapilah badai kehidupanmu, seberat apapun dia, sambil minta kepada Tuhan Yesus, Sang Sumber Kekuatan Sejati, untuk memberikan kepada kita keteguhan, dan bimbingan, dan perlindungan, dan pertolongan untuk melewati badai itu. Setelah badai berlalu (dan badai pasti akan berlalu), kita menjadi semakin kuat, semakin beriman, semakin mengenal diri kita, bahkan semakin mengenal Allah Pencipta Semesta Alam, Juru Selamat kita yang hidup, yang sudah menebus kita.
Nabi Yesaya dipakai Tuhan dalam menyampaikan pesan yang sangat indah kepada yang sedang ada di tengah badai:
Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. – Yes 40:29-31 (pst)
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT