Image Background
header
Doa MALU !
MALU !
Seharusnya mereka malu karena telah melakukan semua yang hina itu. Tetapi mereka tebal muka dan tidak tahu malu..." – Yer 6:15

Kesebelasan Brasil dikalahkan oleh Jerman dengan skor 7-1 di semi final Piala Dunia 2014. Bukan masalah kalahnya, tetapi skornya yang susah diterima. Sebagian besar orang Brasil merasa malu, bukan saja dengan kekalahan di kandang sendiri itu, tetapi terlebih karena angka yang begitu besar.
Bisa merasa malu adalah hal yang dijunjung tinggi, terutama di kalangan orang Asia. Karena tahu malu, maka seseorang bisa bertindak dengan benar. Karena tahu malu, seseorang tidak melakukan hal-hal tertentu. ‘Malu’ berbicara juga tentang ‘muka’, gengsi, kehormatan dan kepantasan.
Nabi Yeremia di Yer 6:15 menyampaikan suara Tuhan yang menegur orang-orang yang tidak tahu malu. Tidak tahu malu adalah istilah yang dipakai untuk orang-orang yang tidak sadar diri dan sudah tidak punya harga diri lagi.
Para pemain Brasil sendiri tidak hanya merasa malu, tetapi merasa dipermalukan oleh Jerman. ‘Merasa malu’ dan ‘dipermalukan’ adalah dua hal yang berbeda. Kalah 1-0 adalah bikin penasaran. Kalah 4-0 bikin malu. Kalah 7-1 sama dengan dipermalukan.
Sebenarnya, merasa malu atau dipermalukan bisa menjadi hal yang baik. Dia bisa menjadi pemicu untuk seseorang sungguh-sungguh melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan. Saya membaca berita tentang seorang ibu rumah tangga di Inggris yang bisa menurunkan berat badan dari 100 kg menjadi 60 kg. Ini terjadi setelah dia duduk di kursi di sebuah restoran dan tidak bisa berdiri karena terjepit di kursi. Malunya bukan main. Dia pulang dan memutuskan untuk diet supaya jangan dipermalukan lagi. Rasa malu itu yang mendorong dia untuk kuat dalam menjalankan dietnya.
Tetapi pada beberapa orang, dipermalukan justru memicu mereka melakukan hal-hal yang negatif. Karena ‘dipermalukan’ mengandung unsur emosional yang tinggi. Inilah yang kita harus waspadai hari-hari ini setelah pilpres 2014.
Beberapa orang memilih capres tertentu karena faktor ideologi. Ideologi adalah pendapat atau konsep tentang suatu sistem politik atau ekonomi. Dengan kata lain, ideologi mengandung unsur kepercayaan atau keyakinan. Dia adalah sesuatu yang penting dan berharga. Ideologi sedemikian pentingnya sehingga orang boleh berganti, tetapi ideologi bertahan bertahun-tahun.
Ideologi sendiri adalah sesuatu yang rasional alias berdasarkan akal. Tetapi bagi beberapa orang, ideologi sudah menjadi identitasnya. Dengan demikian dia sudah mengandung unsur emosi. Orang-orang tipe begini tidak dewasa secara emosi dan pola pikir. Seperti orang yang berpendapat begini: menolak ideologi saya adalah menolak saya; menentang ideologi saya adalah menentang saya. Ideologi mereka sudah menjadi kebenaran mutlak.
Dalam pilpres sekali ini, polarisasi atau perkubuan antara masyarakat sangat terlihat. Setiap orang, entah kenapa, menyatakan dukungan mereka terhadap calon mereka. Itulah bedanya pilpres ini dengan sekian pilpres sebelumnya.
Masalah muncul ketika calon mereka kalah. Sudah terlanjur mengatakan di mana-mana bahwa capres mereka lebih baik. Ketika kalah, mereka bisa merasa malu atau dipermalukan.
Orang suka mengira bahwa kalau calon dari seseorang sudah kalah dalam pilpres, urusan sudah selesai. Ini sulit terjadi pada orang-orang yang memilih capres tertentu karena ideologi. Ideologi harus dipertahankan dan diperjuangkan. Capres saya kalah? Bukan berarti capres saya lebih jelek atau ideologi saya salah, tapi karena orang lain bodoh atau capres saya dicurangi.
Mari kita waspadai hal ini, karena orang yang merasa dipermalukan bisa bertindak nekad tanpa berpikir panjang.
Mari hindari hal-hal begini:
1. Jangan menghina capres yang anda tidak sukai, apalagi di depan orang yang mendukung capres tersebut. Ini sering kali terjadi dan sangat ‘rendah’. Jangan sombong.
2. Jika capres yang anda pilih menang, janganlah membesar-besarkan dan terus membicarakan hal tersebut. Terkecuali anda dijanjikan akan menjadi menteri kabinet.
3. Jangan terlalu banyak menganalisa hasil pilpres, kecuali kalau saudara memang mencari makan sebagai analis politik. Pilpres 2014 sudah berlalu. Pemenang sudah ketahuan.
Mari ingat hal-hal ini:
1. Siapapun pemenang pilpres ini, orang tersebut adalah manusia. Sekarang kita ketawa karena calon kita menang, 2-3 tahun lagi kita mungkin akan menjadi kecewa. Barack Obama dielu-elukan ketika terpilih sebagai presiden AS tahun 2009. Sekarang, thn 2014, popularitasnya anjlok karena dianggap mengecewakan banyak rakyat Amerika.
2. Kemungkinan keributan hasil pilpres bisa terjadi. Doakanlah damai atas bangsa Indonesia supaya yang menang tidak sombong, dan yang kalah tidak merasa terhina atau dipermalukan. Kita berdoa supaya yang kalah bisa berbesar hati, dan yang menang jangan tinggi hati.
Damai atas Indonesia!
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT