Image Background
header
Fun BERSYUKUR
BERSYUKUR
Bersyukur
Menjelang akhir tahun ini Saya bersyukur mendapatkan kesempatan ini pada saat Saya memutuskan untuk “take a break” dari dunia korporat yang sudah menjadi prioritas waktu Saya selama lebih dari 10 tahun. Banyak hal yang tak pernah Saya sadari (sehingga tak pernah disyukuri) yang Saya temukan.
Pertama Saya sadar bahwa selama ini Tuhan memelihara kesehatan orang tua kami, anak-anak kami, adik-adik kami, bahkan anjing Golden kesayangan kami sehat sejahtera. Di jaman di mana virus makin canggih, cuaca makin tak menentu seperti hati manusia yang mudah galau, dan biaya kesehatan yang mengejar dollar, Tuhan memberi anugerah kesehatan yang mungkin kalau di kurs kan ke Rupiah nilainya lebih dari sebuah mobil baru. Kita lebih mudah bersyukur bahkan pamer kalau punya mobil baru. Sebaliknya seringkali kita “take for granted” soal anugerah kesehatan ini, sampai saat mengalami batuk tak henti selama hampir sebulan ataupun saat merasakan leher begitu sakit hanya untuk menengok ke kiri.
Hal berikut yang patut disyukuri adalah Saya bisa punya waktu untuk tertawa. Untuk melakukan hal-hal yang membahagiakan Saya sebagai seorang pribadi. Saya bisa ketemu dengan teman-teman baik yang selama ini terpaksa Saya tolak saat mengajak “ngupi” bersama, atas nama sibuk. Saya bisa ikut Aquarobics di ujung lain dari Kota Jakarta, bersama kawan-kawan sebaya yang punya semboyan bahwa “Age is just a number”, sehingga tanpa kuatir soal ukuran, bentuk badan ataupun keahlian berenang, kami “nyemplung” dan bergerak bersama sambil ketawa-ketiwi dari awal sampai akhir. Saya baru sadar bahwa tertawa itu adalah anugerah dari Tuhan.
Punya kesempatan ngobrol dengan Suami sebelum dia berangkat ke kantor, menyiapkan sarapan dan vitaminnya, menggosok badannya dengan minyak aromaterapi, sampai mengucapkan “Bless You” saat pamitan tiap pagi, memang kedengarannya biasa saja buat orang lain. Tapi buat Saya, momen-momen ini (plus momen makan Bakmi Bule di Mangga Besar) adalah Anugerah Kebersamaan yang makin Saya syukuri. Di jaman social media di mana Facebook dan twitter dipenuhi dengan status omelan, kekecewaan dan kesepian, Saya masih diberi kesempatan untuk bersama dengan orang yang telah menjadi pendukung dan penggemar utama Saya selama lebih dari 13 tahun.
Melengkapi semua itu, ada satu anugerah yang baru saja Saya sadari. Anugerah menjadi diri sendiri. Betapa seringnya kita terjebak dengan syndrome “Rumput Tetangga Selalu Lebih Hijau”. Saya sering berandai-andai menjadi orang lain yang lebih sukses dalam karir, yang lebih sering dikirim dinas ke luar negeri oleh perusahaan (kalau bisa ke Eropa atau Amerika), yang lebih langsing (kalau bisa berat badan di 54 kilogram forever), dan lebih-lebih lainnya.
Lebih sukses itu pasti bagus, tapi apa sih definisi sukses? Anak Saya pernah bilang dalam Bahasa Inggris, “Most dying people regret the fact that they have been working too much.” Di usianya yang baru genap 13 tahun, ia mencoba mengingatkan Saya bahwa hidup itu tidak hanya tentang mengejar karir. Sempat Saya sedih karena di luar korporat, Saya merasa nothing. Bahkan banyak teman yang seolah meninggalkan Saya. Namun Saya bersyukur ditunjukkan oleh Tuhan, bahwa mereka yang berteman saat Saya punya posisi adalah teman jadi-jadian. Berteman hanya karena posisi kita berpotensi menguntungkan mereka. Saya bersyukur karena bisa melihat siapa teman sejati kita, yang bisa menerima kita apa adanya.
Soal kesempatan tugas ke luar negeri, Saya bersyukur tidak harus pergi dinas keliling dunia sekalipun, karena dengan begitu, Saya tidak harus meninggalkan anak-anak dan Suami terkasih. Lebih baik pergi bareng dengan mereka daripada harus tidur sendirian di kamar hotel di negeri asing.
Tentang berat badan, nah yang ini masih jadi pe-er. Menjadi diri sendiri adalah berusaha menjadi yang terbaik sesuai modal dan talenta yang diberikan oleh Tuhan. Menjadi lebih langsing mungkin akan tetap menjadi resolusi Saya (again) di tahun 2014. Namun kali ini dibarengi kesadaran bahwa menjadi sehat itu prioritas. Tidak ada gunanya berdiet atau olah raga berat sampai sakit-sakitan. Yang penting, makan itu secukupnya saja, tidak berlebihan. Tak usah mengikuti OCD, Food Combining ataupun segala macam teori diet yang ekstrim. Cukup memakai common sense. Target olah raga pun tak perlu muluk-muluk. Daripada berangan-angan ikut marathon seperti teman-teman Saya yang keren itu, lebih baik stretching saja di rumah selama 15 menit setiap hari. Kalau makin fit nanti, dosis bisa ditingkatkan bertahap.
Tahun 2014 tak luput dari banyaknya harapan dan target baru. Antara lain, Saya ingin bisa menari pada saat ulang tahun Saya di tahun depan nanti dan memiliki sesuatu untuk dikerjakan yang sesuai dengan passion dan panggilan hidup Saya. Namun di atas semua itu, Saya ingin membawa seluruh anugerah di tahun 2013 ini ke tahun depan, untuk selalu mengingatkan Saya bahwa Tuhan itu baik.

Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT