Image Background
header
Kesaksian HIDUP DALAM PENJARA
HIDUP DALAM PENJARA
HIDUP DALAM PENJARA
(NYANYIAN DI TENGAH MALAM)

Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. (Kis 16:23-25)

Belasan tahun yang lalu saya datang ke salah satu Polres di Jakarta. Bukan karena saya ada masalah hukum, tapi untuk mengunjungi salah satu anak rohani saya yang ditangkap polisi karena masalah narkoba.
Dari balik teralis, wajah sendu itu menatap saya. kata-kata berikut meluncur dari mulutnya, "Saya bertekad akan melepaskan diri saya dari teralis ini." Saya menjawab tanpa berpikir panjang, "Tapi bagaimana dengan teralis yang ada di hati kamu?"
Ada dua macam penjara di dunia ini. Penjara fisik dan penjara non-fisik. Penjara fisik berbentuk tembok di 3 sisi dan teralis di sisi yang satu lagi. Penjara non-fisik sama kuatnya, tetapi dengan tembok dan teralis yang tak terlihat.
Paulus dan Silas masuk penjara di Filipi karena hasutan massa, bukan karena mereka berbuat kejahatan. Mereka dicambuk berkali-kali (sampai kulit terkelupas dan darah mengalir). Setelah itu mereka dimasukkan ke ruang penjara paling tengah alias ruangan yang paling susah didatangi. Setelah itu mereka masih dipasung (bukan rantai tapi pasungan, yang lebih berat daripada rantai). Tiga masalah: luka badan, penjara terdalam, badan dipasung. Dan itu bukan karena salah mereka... kalau mau bicara tentang hidup yang tidak adil, inilah dia...
Barangkali ada anda yang merasa demikian...masuk penjara non-fisik. Luka mungkin di badan (sakit) mungkin juga di hati (amarah, sakit hati, dendam membara), di tambah lagi masalah (keuangan? kesehatan? pekerjaan? rumah tangga?), diperparah lagi dengan pasungan (tidak berdaya, tidak bisa berbuat apa-apa). Adakah sdr yang merasa sudah jatuh masih ditimpa tangga sekaligus kejatuhan bata? Masalah satu sudah berat, ini satu belum beres, masih ditimpa dengan yang lain-lain. Hidup ada tantangan, tapi yang begini lebih dari tantangan. Hidup yang demikian membuat orang menjadi putus asa. Gelap gulita, karena sudah tengah malam... saat yang paling gelap. Apa yang bisa orang perbuat dalam keadaan demikian?
...kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah...
Alkitab mengajar kita, dalam keadaan parah begini, untuk berdoa dan menyanyi. Yah...nyanyi...
Bisakah sdr membayangkan orang yang sudah berdarah-darah di punggung (tanpa diobati), dimasukkan ke penjara paling dalam, dipasung ke dinding penjara, di tengah pekatnya malam, malah disuruh menyanyi?
Ada kuasa dalam nyanyian di tengah malam.
Nyanyian di tengah malam adalah nyanyian pengharapan. Dia adalah teriakan lantang bahwa penjara bukanlah akhir dari segalanya. Nyanyian di tengah malam adalah seruan bahwa malam pasti akan berakhir, dan fajar akan menyingsing! Nyanyian di tengah malam bangkit dan mengguncang rantai keputusasaan, tembok kenestapaan, dan teralis ketidakberdayaan!
Nyanyian di tengah malam adalah nyanyian iman. Dia adalah auman keyakinan bahwa masih ada pertolongan nyata. Dia adalah pengakuan bahwa Tuhan masih ada, dan Dia akan berkarya! Nyanyian di tengah malam menantang bilur di punggung, ikatan di kaki, dan kepedihan di hati!
Nyanyian di tengah malam adalah nyanyian kemenangan. Dia adalah pernyataan bahwa sang penyanyi tidak akan menyerah, bahkan akan berjaya. Dia adalah senandung kepastian bahwa sebentar lagi, situasi akan berganti. Nyanyian di tengah malam menantang kegelapan malam, ketidakpastian hari depan, dan ketiadaan pertolongan!
Anda yang sedang di penjara kehidupan, terpasung oleh kelemahan, terluka oleh ketidakadilan, naikkanlah nyanyian di tengah malam. Pujilah nama Tuhan! Sebutkan namaNya! Tataplah keagunganNya! Perhatikan kebaikanNya! Dan alami kuasaNya!
Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. (Kis 16:26)
Mujijat terjadi ketika sang penyanyi di tengah malam beraksi. Gempa bumi terjadi, sendi penjara goyah, belenggu terlepas, pintu terbuka! Sang narapidana terlepas sudah!
Ada ribuan alasan kenapa seseorang kehilangan suara... penjara terlalu parah; punggung terlalu berdarah; pasung di kaki terlalu ketat; malam terlalu pekat; tembok terlalu dingin; lantai terlalu licin;
Hanya ada satu alasan mengangkat suara: Tuhan mau kita menyanyi! (pst)
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT