Image Background
header
Umum A M A N (1)
A M A N (1)
6 Tetapi pada waktu mereka pulang, ketika Daud kembali sesudah mengalahkan orang Filistin itu, keluarlah orang-orang perempuan dari segala kota Israel menyongsong raja Saul sambil menyanyi dan menari-nari dengan memukul rebana, dengan bersukaria dan dengan membunyikan gerincing; 7 dan perempuan yang menari-nari itu menyanyi berbalas-balasan, katanya: "Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa."
8 Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya." 9 Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.
(1 Sam 18:6-9)

Saya agak sebel dengan para penari sekaligus penyanyi dalam cerita di atas. Kalau menyanyi yah tolong perhatikan liriknya dong. Jangan yang menyinggung hati orang, apalagi hati raja. Apalagi hati raja yang punya rasa tidak aman alias insecured seperti Saul. Masak, di depan raja, yang dipuji-puji secara terang-terangan malah anak buahnya. Provokatif benar. Jengkellah si raja…
Rasa tidak aman adalah ancaman besar bagi seorang pemimpin. Baik itu pemimpin di rumah, di kantor ataupun pemimpin bangsa. Karena rasa tidak aman, seseorang menjadi diktator bertangan besi. Tapi dia juga bisa menyerang seseorang yang bukan pemimpin. Seorang bawahan pun bisa juga punya rasa tidak aman.
Ini ciri-ciri orang dengan rasa tidak aman:
 Sering merasa tidak layak. Memang dari satu sisi, ini hal yang baik. Ini adalah tanda seseorang yang tidak merasa tahu segalanya. Dari sini, muncullah sikap rendah hati, karena menyadari bahwa jabatan adalah karena anugerah saja. Tetapi pada beberapa orang tertentu, hal ini memunculkan rasa minder. Semua orang yang agak pintar atau populer akan dilihat sebagai ancaman. Saul ketika di awal merasa tidak layak jadi raja (1 Sam 9:21). Tapi dia bukannya jadi rendah hati, malah jadi diktator.
 Serba curiga. Ada perasaan bahwa semua orang ingin kedudukannya; atau setiap orang memperhatikan kekurangannya dan ingin menyerangnya. Karena itu hidupnya jadi tegang terus. Setiap kata yang agak negatif dianggap serangan. Kritik adalah upaya menjatuhkan.
 Takut kehilangan. Ada ketakutan bahwa apa yang sudah dimiliki bisa hilang; baik itu pasangan hidup ataupun kedudukan. Maka orang yang punya rasa tidak aman sering mengambil langkah-langkah radikal untuk mempertahankan apa yang dia sudah miliki. Saul bahkan mencoba membunuh Daud.
 Jiwa kerdil. Tidak bisa menghargai kemampuan bawahan; tidak pernah bisa memanfaatkan kemampuan bawahan. Bahkan cenderung mematikan potensi bawahan dan dengki dengan bawahan. Saul jelas dicatat mendengki Daud.
 Susah minta maaf kalau salah. Minta maaf dianggap sebagai tanda kelemahan, yang akan dimanfaatkan oleh musuh-musuhnya. Selalu punya alasan ketika ketahuan berbuat salah. Saul tidak pernah minta maaf kepada Samuel sekalipun dia dua kali berbuat kesalahan besar.
 Minta disanjung dan dihormati. Orang dengan rasa tidak aman akan menuntut penghormatan dari orang lain. Di sisi yang lain, orang lain tidak boleh dipuji.
Rasa tidak aman bisa muncul karena tertolak. Seperti Raja Saul, sebagian rakyat menolak dia ketika dia terpilih jadi raja (1 Sam 10:27).
Rasa tidak aman bisa muncul karena orang tua yang terlalu kritis, tidak pernah puas dengan apa yang anak capai.
Rasa tidak aman juga bisa muncul karena kegagalan di masa lalu.
Jadi, mestinya Raja Saul bersikap bagaimana, ketika mendengar nyanyian provokatif itu? Harusnya dia besar hati, karena itu kenyataan. Harusnya dia bersenang hati memiliki anak buah jagoan. Harusnya dia bersyukur.
Tapi itu teori…prakteknya susah…
Sedikit banyak kita ini punya rasa tidak aman.
Coba tes yah…
Pernahkah saudara berkata begini di depan orang banyak, “Ah…saya sih belum bisa apa-apa…” (ucapkan sambil agak membungkuk, tangan di dada, mata agak terpejam, air muka usahakan seperti orang kudus). Rasanya gimana gitu…?! Bangga dengan kerendahan hati kita sendiri…
Sekarang bayangkan orang lain ngomong kata-kata yang sama di depan orang banyak, “Ah…Sukirno Tarjadi, dia sih nggak bisa apa-apanya…!” Bagaimana rasanya? Rasa malu campur marah langsung diracik di dalam hati. Gila ini orang…mempermalukan saya sekali…haruskah saya cekek dia sekarang atau tunggu sepi? (bersambung)
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT