Image Background
header
Umum A M A N (2)
A M A N (2)
3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. 4 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, 5 kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.
(Yoh 13:3-5)
Rasa tidak aman membuat seseorang menjadi posesif (super pencemburu), rapuh (kena sentil sedikit langsung bereaksi), curigaan, merasa hidup tidak adil (akibatnya bisa marah dengan Tuhan), dan berbagai sifat-sifat negatif lainnya. Dari kehidupan raja Saul, kita bisa melihat hal-hal ini. Orang-orang yang ada di sekitar raja Saul sungguh merasakan hidup jadi tidak nyaman. Yonatan, Mehrab dan Mikhal, tiga anak Saul, serta Daud, mantunya, merasakan akibat dari rasa tidak aman Saul ini.
Daud adalah contoh sebaliknya. Sekalipun dia 2 kali bisa membinasakan Saul, dua kali juga dia membiarkan kesempatan itu berlalu. Sebab dia tahu bahwa kalau memang tahta menjadi hak-nya, maka pasti itu tidak akan lari dari dia. Tuhan akan memastikan itu. Memang jadinya kelihatan mengalah sekali dan bodoh (membiarkan kesempatan berlalu), bahkan melakukan hal-hal yang, kelihatannya, terlalu lebay alias berlebihan.
Tapi coba perhatikan contoh Yesus mencuci kaki murid-murid.
Pada jaman itu, orang-orang di Israel memakai kasut, bukan sepatu, apalagi boots mahal yang menutupi kaki sampai ke betis. Kaki mereka terbuka dan terpapar debu dan tanah. Ketika masuk rumah, ada gentong tersedia untuk mencuci kaki. Kalau yang punya rumah orang kaya, ada pembantu yang bertugas membuka kasut dan mencuci kaki boss dan tamu. Hari itu rupanya pembantu sedang tidak ada di rumah tersebut. Lalu Yesus mengambil peran pembantu.
Dia membuka jubah-Nya. Jubah adalah lambang martabat. Ketika anak yang hilang di Lukas 15 kembali kepada bapaknya, perintah pertama dari si bapak adalah: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya… Martabat si anak dikembalikan lagi. Dia bukan lagi hamba atau budak. Yesus menanggalkan jubah-Nya. Dia menanggalkan martabat-Nya dan menjadi hamba.
Jubah juga adalah kenyamanan. Dia memberikan perlindungan terhadap udara dingin dan angin malam. Yesus meninggalkan kenyamanan-Nya untuk melayani.
Dia mengambil kain lenan dan mengikatkan kain itu ke pinggangnya. Itu seperti pelayan rumah makan dengan kain serbet di pundak, siap untuk mengepel meja kotor. Demikianlah Tuhan kita merendahkan diri-Nya.
Lalu Dia mulai mencuci kaki murid-murid-Nya. Bisakah sdr merasakan kesegaran air dingin itu di kaki sdr? Bisakah sdr membayangkan debu dan kotoran mulai mengalir lepas dari kaki sdr? Bisakah sdr membayangkan seperti apa rasanya melihat ke bawah, ke arah kaki kita, dan melihat Yesus sedang berlutut, tangan-Nya bersentuhan dengan debu kotor, menyingkirkan debu itu, lalu membasuh air bersih ke kaki kita, lalu kain di pinggang-Nya mengeringkan kaki kita?
Kenapa Yesus, Juru Selamat dunia, Raja Damai, bisa dan mau melakukan hal ini?
Karena Dia memiliki rasa aman. Ini jelas dinyatakan oleh Yohanes.
Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
Pertama: Yesus tahu bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Yesus tidak usah berupaya meraih lagi, Dia sudah menerima. Apapun yang terjadi, sekalipun Dia disalib, hal ini tidak akan hilang. Kalau kita merasa belum memiliki, kita tidak akan bisa demikian.
Dua: Dia tahu darimana Dia berasal. Dia berasal dari Allah. Dari sini, muncullah rasa aman, karena asal tidak bisa diganti.
Tiga: Dia tahu kemana Dia akan pergi. Dia akan kembali kepada Allah. Dia tidak usah takut atau kuatir bahwa Dia akan ke tempat yang tidak baik.
Orang yang memiliki pengetahuan dan keyakinan demikian akan bisa melakukan hal-hal yang orang anggap rendah, tidak pantas dll. Hal ini karena orang tersebut tahu bahwa pekerjaan yang demikian tidak akan membuat dia rendah, atau kehilangan sesuatu. Dia sudah mantap/aman dengan apa yang diberikan oleh Allah.
Punyakah sdr kemantapan ini?
Kemantapan ini kita dapat ketika kita percaya apa kata Alkitab tentang diri kita.
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,…
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT