Image Background
header
Umum ANAK & TEKNOLOGI
ANAK & TEKNOLOGI
“Jadi, anak-anak anda pasti menyukai iPad ya?” Begitulah wartawan Nick Bilton bertanya kepada boss perusahaan pembuat iPad, Steve Jobs. Tablet pertama dari perusahaan tersebut baru saja dijual di toko-toko. Ini jawaban Jobs, “Mereka belum menggunakannya. Kami membatasi teknologi yang dipakai oleh anak-anak kami di rumah.”
Saudara pasti membayangkan rumah Steve Jobs adalah seperti surga bagi penggila teknologi; Anak-anaknya memakai HP paling canggih, rumah penuh dengan komputer dan iPad di setiap ruangan. Ternyata tidak demikian.
Setelah kejadian tersebut, Nick Bilton mewawancarai beberapa pimpinan dan investor perusahaan teknologi yang mengatakan hal yang sama: mereka membatasi dengan ketat waktu anak-anak mereka menonton TV, sering kali melarang penggunaan gadget (gadjet = HP dan mainan/alat elektronik lain) pada hari sekolah, dan memberikan jatah waktu tertentu pada akhir pekan.
Para pimpinan perusahaan teknologi ini rupanya mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.
Chris Anderson, Presdir dari 3D Robotics, sebuah perusahaan pembuat drone, menetapkan batas waktu penggunaan dan juga menetapkan pengawasan atas setiap perangkat tekonologi di rumahnya. “Anak-anak menuduh saya dan istri sebagai diktator dan khawatir berlebihan terhadap teknologi. Mereka bilang tidak ada teman-teman mereka yang memiliki peraturan yang sama,” katanya tentang ke lima anaknya yang berumur antara 6-17 tahun. “Itu karena kami telah melihat bahaya teknologi secara langsung. Saya telah melihat sendiri. Saya tidak mau hal tersebut terjadi pada anak-anak saya”
Bahaya yang dimaksud termasuk rentannya anak-anak terhadap konten-konten berbahaya seperti pornografi, bullying dari anak-anak lain, dan yang paling parah adalah anak-anak mejadi kecanduan terhadap gadget mereka.
Evan Williams, pendiri dari Blogger, Twitter and Medium, dan istrinya, Sara Williams, mengatakan sebagai pengganti iPad, anak-anak mereka memiliki beratus-ratus buku yang bisa mereka ambil dan baca setiap saat.
Bagaimana para orang tua ini menentukan batasan yang pantas untuk anak-anak mereka? Secara umum, batasan-batasan itu ditentukan berdasarkan umur.
Anak-anak dibawah 10 tahun kelihatannya adalah yang paling rentan untuk menjadi kecanduan, jadi para orang tua ini menetapkan batasan tidak memperbolehkan penggunaan gadget apapun pada hari sekolah. Di akhir pekan, ada batasan antara 30 menit sampai 2 jam untuk penggunaan iPad dan smartphone. Anak-anak umur 10-14 tahun diperbolehkan menggunakan komputer pada hari sekolah, tetapi hanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah saja.
Orang tua yang lain mengatakan melarang secara total dapat menjadi bumerang dan menciptakan monster digital. Makin dilarang makin kepingin.
Dick Costolo, Presiden Direktur Twitter, mengatakan bahwa dia dan istrinya menyetujui penggunaan gadget tanpa batas sejauh anak-anak mereka ada di ruang keluarga (perhatikan: hanya di ruang keluarga, tidak di ruang lain). Mereka percaya bahwa terlalu banyak batasan memiliki efek yang merugikan pada anak-anak mereka.
Banyak orang tua yang bekerja di perusahaan teknologi menunggu sampai anak-anak mereka berusia 14 tahun untuk diberikan HP. Meskipun anak-anak remaja ini bisa menelpon dan mengirim sms, mereka tidak diberikan langganan data (internet) sampai berusia 16 tahun. Tetapi ada satu aturan yang universal dari para orang tua yang bekerja di perusahaan teknologi:
“Ini adalah aturan nomor 1: Tidak ada gadget di kamar tidur. Sekian. Titik,” kata Anderson.
Menurut saya, dalam keadaan di Indonesia sekarang ini, adalah mustahil kalau kita tidak memperbolehkan anak-anak remaja di atas umur 12 tahun untuk memakai komputer atau HP. Tugas sekolah memerlukan komputer dan email. Terkadang instruksi guru diberikan via BBM. Tapi kita bisa membatasi penggunaannya supaya anak-anak kita tidak menjadi korban atau kecanduan gadget. Saya anjurkan beberapa hal:
1. Jangan jadikan iPad, TV atau games lain sebagai baby-sitter anak-anak kecil.
2. Berikan jam tertentu di mana anak-anak bisa memakai HP, komputer, games dll.
3. Tentukan tempat mereka boleh memegang gadget: tidak boleh di kamar tidur mereka.
4. Jalankan aturan ini dengan ketat tapi tidak kaku. Ketat = jangan terlalu banyak pengecualian. Kaku = tidak ada pengecualian. Pengecualian hanya untuk tugas sekolah.
5. Berikan pengganti mainan elektronik. Apa saja? Bermain antar mereka; buku bacaan; diskusi anak dan orang tua dll.
6. Bersiap-siaplah ketika saudara mencoba menjalankan ini. Beberapa anak bisa mengalami ‘sakaw’ alias gejala putus zat seperti orang berhenti memakai narkoba. Kalau itu yang terjadi, sabarlah dengan mereka, tetapi tetap pegang aturan yang sudah dibuat.
7. Doakanlah anak-anak saudara.
Bagian utama dari artikel ini diambil dari artikel di New York Times: Steve Jobs was a low-tech parent.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT