Image Background
header
Lessons of Life ANDREW ADALAH KITA
ANDREW ADALAH KITA
seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
(Rom 3:10)
Tengah malam Andrew Chan menghadap Juru Selamatnya. Dia ditembak mati di Nusa Kambangan pada hari itu, Rabu 29 April 2015.
Permohonan, petisi, protes dari berbagai belahan dunia tidak bisa meluluhkan hati Presiden Republik Indonesia untuk memberikan penundaan ataupun pembatalan eksekusi itu (kecuali dalam kasus warga negara Filipina, Mary Jane).
Kenapa Andrew menjadi bahan perdebatan yang begitu keras di mana-mana? Saya rasa salah satunya adalah karena eksekusi ini agak didramatisir untuk kepentingan politik. Tapi ada sebab yang lain: Andrew Chan adalah gambaran kita semua. Kisah Andrew Chan bukanlah kisah asing buat kita.
Andrew adalah penjahat. Ini pengakuan dia sendiri. Ini sudah terbukti di pengadilan. Dia adalah penjahat yang melakukan kejahatan yang berat dan merugikan banyak orang: narkoba. Semua kita anti narkoba. Semua kita muak dengan narkoba. Dalam hal ini, Andrew adalah musuh kita bersama.
Tetapi, sebelum kita menuding lebih sering, dan sebelum kita membenci lebih lagi, adalah penting untuk kita sadar bahwa Andrew itu kita semua, dan kita semua adalah Andrew. Roma 3:10 menuding kita semua: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Ketika kita suatu hari berdiri di depan Hakim atas segala hakim di pengadilan terakhir nanti, kita semua tidak bisa bilang bahwa kita orang suci 100%, tidak pernah berbuat dosa dan salah. Dari semua nama yang pernah ada, dari semua tokoh yang pernah mendunia, hanya ada satu pribadi yang berani menantang musuh-musuh-Nya untuk menunjukkan kesalahan-Nya, Yesus dari Nasaret: Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? (Yoh 8:46) Dan tak seorangpun yang bisa membuktikan bahwa Yesus itu berdosa. Lain daripada Yesus, semua manusia bersalah.
Jadi, semua kita sama dengan Andrew, sudah jatuh dalam dosa. Memang kita tidak menyelundupkan narkoba, tapi barangkali sering muncul pikiran jahat dalam diri kita. Memang kita tidak mengambil senapan menembak orang, tapi barangkali sering muncul dendam dan iri dalam diri kita. Andrew adalah gambaran kita semua: orang berdosa. Kita boleh protes bahwa kita tidak pernah berbuat salah. Tapi suatu hari nanti semua buku dan catatan akan dibuka. Di situ kita tidak lagi berdalih.
Andrew menjadi lambang kita semua.
Sang penjahat ini ternyata menemukan pengharapan dan keselamatan di tempat yang tidak biasa: penjara hina. Di dalam penjara Andrew berjumpa dengan Sang Tukang Kayu dari Galilea. Dia bertobat, dan hidupnya berubah. Dari seorang penjahat menjadi seorang pemberita Kabar Baik. Dari seorang penghancur kehidupan menjadi pembangun pengharapan. Andrew berubah total di dalam penjara.
Kita semua menginginkan cerita ini. Kita haus akan berita seperti begini. Sebab di situ kita menemukan pengharapan kita: bahwa seberat-beratnya dosa kita, ternyata masih ada jalan dan kesempatan untuk kita dipulihkan.
Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. (Yes 1:8)
Andrew adalah inspirasi dan pembawa pengharapan buat kita. Itu sebabnya kita tidak rela dia tergeletak dengan lubang peluru di dada! Kita tidak mau pengharapan kita ikut terkubur di sana!
Protes yang muncul atas kematian Andrew bukanlah protes individu. Itu adalah suara umat manusia. Kita semua memerlukan cerita seperti ini. Tentang penjahat yang bisa berubah.
Dan kalau Andrew saja bisa mendapat kesempatan kedua, semua kita pasti juga bisa mendapat yang sama. Kisah Andrew adalah kisah tentang kerinduan kita akan pengampunan dan pengharapan.
Ketika Andrew mati, kita takut pengharapan kita bisa ikut mati.
Tetapi pengharapan kita tidak perlu ikut mati. Sebab sekalipun Andrew sudah mati, tetapi suaranya tidak ikut pergi. Ceritanya masih bergema, suratnya masih dibaca.
Pengharapan kita akan pengampunan dan perubahan tidak akan punah, ketika kita bukan memandang Andrew, tetapi memandang Juru Selamat-nya Andrew, Sang Pengampun Agung, Yesus Kristus. Dialah sumber pengharapan kita.
Relakanlah Andrew pergi. Dia yang tersesat sudah ditemukan kembali. Si bungsu yang hilang sudah kembali ke rumah Bapa. Pesta siap digelar. Surga berpesta! Haleluyah!
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT