Image Background
header
Umum B A H A G I A
B A H A G I A
Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kis 20:25)
Sei Sibo, kabupaten Bengkayang, bisa dicapai dengan naik mobil dalam waktu sekitar 4.5-5 jam dari Pontianak. Dengan catatan cuaca mendukung. Kalau hujan, jalan masuk ke Sei Sibo menjadi kubangan tanah liat. Selasa lalu, kami disarankan tiba agak awal, karena cuaca tidak bisa diramalkan dan hujan sering terjadi di sore hari. Kami berdoa di awal perjalanan dari Bengkayang, meminta kepada Tuhan Yesus, Sang Penguasa atas cuaca, untuk menahan hujan sampai kami selesaikan pelayanan kami. Dan Dia mendengar doa kami.
Ada yang bertanya kenapa saya kelihatan bahagia di foto saya bersama anak-anak kecil di kampung Sei Sibo, Bengkayang, Kalbar. Saya jawab: karena saya sedang di hutan. (Jelas saya bukan orang hutan ataupun penduduk hutan) Tapi jawaban saya bukanlah jawaban main-main. Saya percaya ada banyak orang yang salah kaprah tentang yang namanya bahagia.
Bahagia itu tidak tergantung lokasi, tapi suasana hati. Seseorang bisa saja ada di suatu tempat yang dimimpikan oleh setiap orang, tetapi dia tidak bahagia di sana. Harta berlimpah, dikenal di mana-mana, pesta-pesta meriah, semua itu bukanlah resep bahagia. Marie Antoinette, ratu Perancis di abad ke 18, memiliki segala-galanya. Tapi dia tidak bahagia di istana Versailles (yang katanya memiliki 1000 kamar). Ketika saya mengunjungi istana Versailles di tahun 1991, yang membuat saya terkesan bukanlah istana megah itu, tetapi saya gubuk petani kecil di halaman istana mini Petit Trianon, yang terletak di satu pojok di halaman Versailles. Gubuk petani itu untuk sang ratu, dipindahkan dari kampung di negara asal ratu, Austria. Kalau ratu Marie Antoinette sudah ada di Petit Trianon, pengawal, dayang dll tidak boleh mendampingi beliau. Ratu hanya mau menyendiri, jauh dari hirup pikuk pesta mewah di istana megah. Kata guide, kelihatannya dia lebih bahagia di gubuk daripada di istana.
Kita selalu mengira bahwa orang hanya bisa bahagia di Singapura, New York atau London. Kota besar, tempat semua ada, adalah tempat kita bisa bahagia. Alangkah salahnya pandangan yang dangkal ini. Orang bisa lebih bahagia di hutan belantara daripada hutan beton. Jadi, orang bisa saja bahagia di hutan di pedalaman Kalimantan. Bagaimana keadaaan hati kita, itu yang menjadi kuncinya. Hati yang penuh dengan omelan, dengki, kemarahan, adalah hati yang tidak akan bahagia. Hati yang penuh dengan ucapan syukur adalah hati yang bisa membawa bahagia. Apakah hati sdr penuh dengan ucapan syukur?
Bahagia bukan masalah memiliki, tapi seberapa kita bisa berbagi. Saya mendengar berbagai cerita tentang orang-orang yang mengoleksi barang ini dan itu. Ada yang koleksi uang (baik uang kuno maupun uang yang masih berlaku sekarang). Ada yang koleksi tas bermerk harga sekian juta dan milyar. Ada yang koleksi rumah di mana-mana. Saya baca ada yang koleksi istri di berbagai kota dan negara. Adakah para kolektor ini bahagia? Belum tentu. Dari yang saya tahu, sebagian besar justru merasa sengsara.
Rasul Paulus mengutip perkataan Tuhan Yesus yang justru tidak tercatat di ke empat Injil: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. Camkanlah perkataan Tuhan kita ini. Bahagia itu memberi, bukan menerima, apalagi mengoleksi berbagai barang. Beberapa orang kaya diwawancarai oleh majalah kristen Charisma. Orang-orang ini adalah donatur untuk dapur umum di beberapa kota di Amerika Serikat. Semua menyatakan bahwa kebahagiaan dalam hidup mereka adalah ketika mereka melihat uang hasil jerih payah mereka ternyata bermanfaat buat orang lain. Mereka melihat orang-orang tuna wisma antri untuk mendapatkan makanan di dapur umum yang mereka sumbang.
Seseorang bisa saja memiliki segala-galanya dalam hidup ini, tetapi menjalani hidup yang penuh kesengsaraan.
Centre on Wealth and Philantrophy (Pusat Studi Kekayaan dan Kedermawanan) di Boston College mewawancarai 120 orang super kaya di Amerika. Mereka memiliki uang nganggur (di luar rumah, saham dll) minimal US$ 25 juta alias sekitar Rp 300 milyar. Para milyuner ini disuruh menulis tentang hidup mereka. Ini hasilnya dikutip di majalah The Atlantic: "Para responden ternyata sangat tidak puas. Harta mereka membuat mereka menjadi cemas."
Kenapa saya kelihatan bahagia di Sei Sibo atau di Singaparna atau di manapun juga? Bukan karena saya mendapat sesuatu di sana, tetapi karena saya bisa berbagi kepada sesama.
Kunci bahagia bukanlah memiliki, tetapi bagaimana kita bisa berbagi dan memberi.
Nah, sekarang tergantung saudara semua. Silahkan pilih…
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT