Image Background
header
Umum B A L A S  (2)
B A L A S (2)
Mia Landingham dari Cleveland, USA, capek digebukin terus oleh pacarnya, Mikel. Jadi dia membalas. Dengan cara yang hanya dia yang bisa. Dia dudukin si Mikel sampai Mikel meninggal. Maklum, Mia berat badannya lebih dari 170 kg (itu batas timbangan badan di kantor polisi), Mikel hanya 60 kg.
Susan Herzog berumur 18 tahun ketika dia meninggal ditabrak oleh Kevin Tunnel yang menyetir dalam keadaan mabuk. Kevin dihukum 3 tahun percobaan, jadi dia tidak usah masuk penjara. Tapi dia masih digugat secara perdata oleh keluarga Herzog. Akhirnya dia membayar tuntutan itu dengan uang asuransi dari orang tuanya, ditambah dengan syarat yang aneh: Kevin harus membayar denda ganti rugi ke keluarga Herzog sebesar US$ 936. Tidak besar, tapi uang ini harus dibayarkan sebesar US$ 1 setiap hari Jumat. Pembayaran akan selesai dalam 18 tahun, sama seperti umur Susan. Dibayar hari Jumat karena hari itulah Kevin menabrak Susan. Ini membuat Kevin menderita selama 18 tahun, karena terus menerus diingatkan bahwa dia sudah membunuh orang. Itulah cara keluarga Herzog membalas perbuatan Kevin.
Manusia sangat kreatif sekali dalam merancang pembalasan terhadap perbuatan yang menyakitkan atas diri mereka. Bukan hanya itu, manusia juga sering membalas melebihi perbuatan yang dilakukan terhadap mereka. Kita sudah melihat ini di tulisan sebelumnya, dimana anak-anak Yakub membunuh semua pria di kota Sikhem untuk membalas pemerkosaan atas Dina, adik perempuan mereka.
Ketika seseorang disakiti, apa yang harus dia lakukan? Alkitab jelas memberikan beberapa pedoman:
JANGAN MEMBALAS
Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. (Rom 12:19)
Kalau kita membalas perbuatan jahat orang terhadap kita dengan perbuatan jahat juga, kita merampas sesuatu yang adalah milik Tuhan. Dia lah yang berhak membalas. Dan pembalasan Tuhan pasti lebih adil daripada pembalasan kita. Biarkanlah Tuhan yang membalas perbuatan jahat orang terhadap kita.
AMPUNILAH MEREKA YANG BERBUAT JAHAT
Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (Kolose 3:13)
Kenapa kita mengampuni? Karena kita sendiri sudah diampuni oleh Tuhan dan tetap mau diampuni oleh Tuhan kalau ke depan kita berbuat dosa.
Mengampuni bukan berarti mendukung perbuatan yang salah. Salah tetap salah.
Mengampuni tidak menghilangkan tanggung-jawab dari orang yang berbuat salah. Dia tetap harus menghadapi konsekuensi perbuatannya, baik di mata hukum negara maupun di hadapan pengadilan Tuhan. Seorang pembunuh bisa diampuni oleh keluarga korban, tetapi dia tetap harus menghadapi pengadilan dunia dan pengadilan Tuhan.
Mengampuni adalah bermanfaat, tetapi bukan untuk orang yang diampuni, melainkan untuk orang yang mengampuni. Riset ilmiah tentang hal ini sudah banyak dilakukan. Orang yang mengampuni cenderung hidup lebih sehat, bahagia, damai dibandingkan dengan orang yang tidak mau mengampuni.
Tirulah Tuhan kita! Ketika Dia hampir mati di kayu salib, Dia mengampuni orang-orang yang bersalah terhadap Dia.
BALASLAH KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN
20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. 21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Rom 12:20-21)
Kejahatan tidak bisa dikalahkan dengan kejahatan. Cara ini justru membuat kejahatan tambah berkembang. Kejahatan hanya bisa dikalahkan oleh kebaikan.
Ada orang bilang begini:
Membalas kebaikan dengan kebaikan adalah manusiawi.
Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah seperti setan.
Membalas kejahatan dengan kebaikan adalah seperti Tuhan.
Graham Staines membawa keluarganya dari Australia ke India. Dia dan dua anak lelakinya dibunuh dengan cara dibakar hidup-hidup oleh sekelompok ekstrimis di Odessa, India. Padahal Graham ada di sana untuk melayani orang-orang kusta yang dikucilkan oleh masyarakat. Kebaikan Graham dan keluarganya dibalas dengan kejahatan.
Gloria, istri Graham masih hidup bersama dengan anak perempuannya di India. Apa yang dia lakukan? Dia mengampuni para pembunuh suami dan anak-anaknya, dan tetap melanjutkan pelayanan kepada orang-orang kusta. Itulah yang namanya membalas kejahatan dengan kebaikan. Itulah Kristus!
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT