Image Background
header
Umum B  E  N  C  A  N  A
B E N C A N A
Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian."
Luk 13:1-5

Jepang, Lombok, Bali, Kalifornia, pantai timur Australia,…
Inilah lokasi bencana sepanjang bulan Juli/Agustus 2018.
Seiring dengan cuaca ekstrim, maka kekeringan, banjir, kebakaran hutan akan menjadi biasa, gempa semakin sering, topan semakin kuat.
Pada waktu bencana terjadi, ada sekelompok orang yang berjibaku, menembus bahaya dan kesulitan untuk menolong para korban. Kita ingin mengangkat topi, menyatakan penghargaan kepada mereka yang ada di garis depan.
Di sisi lain, ada juga turis bencana, yang datang sesudah bahaya berlalu. Mereka datang untuk foto-foto dan dipamerkan ke ruang medsos.
Bencana selalu mengagetkan dan menarik perhatian karena dia selalu merugikan umat manusia. Bencana juga sering kali menelan korban dalam jumlah yang besar. Selain itu, bencana juga sering kali datang tiba-tiba. Makanya, bencana sering menjadi topik pembicaraan.
Apa isi pembicaraannya? Bukan soal cara menolong para korban, tetapi: kenapa ini sampai terjadi? Dan dari jaman dulu sampai sekarang, biasanya kesimpulannya adalah: yang salah yang kena bencana; pasti ada dosanya maka sampai kena ‘hukuman Allah’. (Di kalangan dunia asuransi, bencana alam memakai istilah ‘Acts of God’ alias tindakan Allah)
Hal ini terjadi pada saat Lombok terkena gempa bumi berkali-kali di bulan Agustus 2018. Hal ini terjadi juga di jaman Tuhan Yesus. Orang-orang datang dan memberitahu kepada Dia tentang orang-orang Galilea yang menjadi korban kekejaman Pilatus. Tuhan kita sedemikian pekanya sehingga Dia tahu apa yang ada di hati mereka: kalian pasti berpikir mereka menderita karena dosa lebih besar daripada dosa orang yang tidak terkena musibah itu. Dia melanjutkan: kalian juga pasti berpikir bahwa mereka yang kena timpa menara Siloam pelanggarannya lebih besar daripada mereka yang tidak kena bencana. Tidak demikian!
Jadi? Jangan menghakimi orang lain. Jangan memakai kata ‘dosa’ dengan terlalu gampang.
Murid-murid Tuhan juga jatuh ke dalam jebakan ini ketika mereka berjumpa dengan satu orang yang buta sejak lahir. Pertanyaan mereka kepada Tuhan menarik sekali di Yoh 9:2:
Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?"
Perhatikan: mereka sudah mengasumsikan bahwa penyakit ini PASTI karena dosa. Maka pertanyaannya adalah ‘ini dosa siapa?’, bukan ‘apakah ini karena dosa?’. Jawaban Tuhan Yesus luar biasa di ayat berikutnya (1 Yoh 9:3):
Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.
Kita jangan terlalu buru-buru dan terlalu sering mencap orang berdosa hanya karena dia terkena masalah atau meninggal dengan cara yang tidak wajar. Sebaliknya, kata Tuhan di Lukas 13, lebih baik kita melakukan instrospeksi ketika kita mendengar kabar bencana.
Pertanyaan kita bukan lagi: Ini dosa siapa?; pertanyaan kita haruslah: Bagaimana dengan hidup saya?
Setelah itu kita harus taati perintah Tuhan: Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.
Selalu ada hal yang harus kita ‘tobati’ dalam hidup kita, kalau kita mau jujur. Selalu ada hal yang harus kita ubah dalam hidup kita, kalau kita mau terbuka. Selalu ada dosa yang harus kita tinggalkan, kalau kita mau blak-blakan. Bencana haruslah dilihat sebagai undangan kepada kita semua untuk kita melihat ke diri kita dan bertobat. Dengan demikian setiap hari kita menjadi orang yang lebih baik.
Tetapi orang sombong sangat terganggu dengan seruan pertobatan. Mereka menganggap itu sebagai tuduhan dan penghakiman terhadap orang baik seperti mereka. Mereka melihat kepada kesalahan orang lain dan kebaikan diri sendiri. Justru yang demikian yang perlu bertobat, paling tidak dari kesombongan mereka.
Apakah anda tersinggung ketika disuruh bertobat? Kalau begitu, memang anda perlu bertobat; paling tidak dari sifat gampang tersinggung itu. Ada amin?
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT