Image Background
header
Umum B E R T AH AN
B E R T AH AN
Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!
(1 Kor 10:12)

Arthur Rubinstein adalah salah satu pemain piano terbaik di dunia. Dia tampil di muka umum untuk terakhir kalinya di suatu konser ketika umurnya sudah 89 tahun. Pada umur 80an, Arthur masih berlatih bermain piano selama sekitar 4 jam setiap hari.
Pada umur 16, Lindsay Davenport menjadi pemain tenis profesional. Pada umur 20, dia memenangkan medali emas di Olimpiade Atlanta tahun 1996. Selanjutnya dia menjadi juara di turnamen U.S. Open, Wimbledon, dan Australian Open. Setiap minggu, Davenport menghabiskan sekitar 4 jam per hari (di luar hari Sabtu dan Minggu), total 20 jam, untuk latihan tenis.
Apakah seorang juara dunia masih perlu latihan? Bukankah dia sudah mencapai puncak dan ilmunya sudah paling tinggi di dunia? Untuk apa lagi dia latihan?
Jawabannya adalah ‘ya’, seorang juara duniapun tetap harus berlatih. Inilah alasannya:
Satu: Dia harus tetap berlatih karena sehebat-hebatnya ilmu seseorang, kalau dia tidak melatih ilmunya, sebentar saja dia karatan. Ini berlaku baik itu adalah olahraga tenis, atau bahasa, atau naik sepeda. Latihan membuat kita tetap lancar melakukan sesuatu hal. Kata Arthur Rubinstein: “Kalau saya tidak latihan satu hari, jari saya tahu. Kalau saya tidak latihan dua hari, pemain lain tahu. Kalau saya tidak berlatih tiga hari, penonton tahu.”
Dua: Seorang juara menyadari bahwa dia juga punya kekurangan. Tidak ada juara yang sempurna. Kekurangannya ini harus ditutupi melalui latihan.
Tiga: Dia harus tetap berlatih supaya tidak dikejar oleh para pesaingnya. Seandainyapun dengan tidak berlatih ilmunya tidak menurun, saingan dia bisa berlatih keras dan mengalahkan dia.
Kata orang: mempertahankan lebih susah daripada memenangkan sesuatu. Bahaya terbesar adalah rasa puas diri dan kesombongan.
Orang puas diri merasa sudah cukup dan tidak maju lagi. Ini belum tentu kesombongan, tapi lebih mengarah ke kemalasan.
Kesombongan lebih berbahaya. Kesombongan adalah merasa diri lebih hebat dari orang lain. Kesombongan adalah merasa diri tidak akan pernah jatuh. Maka peringatan Rasul Paulus di 1 Kor di atas adalah peringatan untuk semua orang yang merasa dirinya sudah di atas orang lain.
Peringatan lain di Amsal 16:18: Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. Jadi setiap kali kita melihat orang congkak dan tinggi hati, kita sudah tahu: sebentar lagi orang ini akan jatuh dan hancur.
Ketika artikel ini ditulis, tim sepakbola nasional Inggris baru saja kalah dari tim nasional Islandia dan tersingkir dari turnamen Euro 2016. Menurut BBC, ini adalah kekalahan yang paling memalukan dalam sejarah sepakbola nasional Inggris. Nilai jual semua pemain Islandia (23 orang) tidak akan cukup untuk membeli satu pemain Inggris bernama Kane. Pelatih Islandia adalah pelatih amatir yang profesinya adalah dokter gigi. Kenapa tim Inggris bisa dipermalukan demikian? Salah satu pemain Islandia memberikan jawabannya: Mereka masuk lapangan dengan memandang rendah tim Islandia. Tim Inggris yakin mereka akan menang dengan mudah atas tim paling lemah itu. Kehancuran akhirnya menjadi bagian tim Inggris.
Obat untuk kesombongan adalah kerendahan hati.
Kerendahan hati bisa berupa pengakuan bahwa saya belum sempurna. Kerendahan hati bisa berupa kesadaran bahwa kalau tidak hati-hati, saya bisa jatuh. Ini bukan negative thinking, tetapi preventive thinking.
Justru ketika kita ada di atas, kita perlu kerendahan hati supaya kita bisa bertahan di posisi di atas. Semakin naik tinggi, semakin perlu menundukkan diri. Dunia mengajar kita untuk semakin menegakkan diri ketika kita naik tinggi, padahal itu rumus kejatuhan.
Yesus Kristus adalah contoh kerendahan hati yang paling luar biasa. Dia ada di tempat paling tinggi: setara dengan Allah. Tetapi Dia merendahkan diri sampai ke tempat paling rendah dan karena itu, Dia ditinggikan kembali. Fil 2:5-11 mencatat hal ini:
5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Amin!
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT