Image Background
header
Umum B E R U B A H
B E R U B A H
Aku akan menjemput kamu dari antara bangsa-bangsa dan mengumpulkan kamu dari semua negeri dan akan membawa kamu kembali ke tanahmu. Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.
(Yeh 36:24-27)
Apakah ada sesuatu dalam diri saudara yang masih perlu diubah?
Kalau saudara jujur, saudara akan menjawab ‘ada’.
Mungkin itu hidung yang kurang mancung, atau perut yang terlalu mancung. Mungkin itu rambut yang terlalu kaku, atau betis yang ukurannya kesebelasan alias mirip punya pemain bola.
Tapi mungkin juga yang perlu diubah itu bukan hal-hal yang sifatnya fisik, tapi sifat atau karakter, hal-hal yang adanya di dalam diri kita. Sebagian kelihatan oleh orang lain: amarah, sifat berangasan, atau yang lain. Atau mungkin juga hal-hal yang tidak terlihat oleh orang lain karena kita menjaganya dengan rapi.
Kekurangan-kekurangan ini ada karena kita semua masih belum sempurna. Kalau ada orang berkata ‘Oo.. dalam diri saya sudah tidak ada yang perlu diubah…’ maka kemungkinan besar orang ini sudah sempurna. Jikalau demikian tempat beliau sudah tidak dibumi ini lagi. Tapi karena dia masih di bumi ini, maka kesimpulan cuma satu: orang ini tidak punya cermin; entah cermin beneran atau cermin Firman.
Pertanyaan kita bukanlah: mau atau tidak berubah, tetapi bagaimana caranya berubah?
Kita semua bergumul dengan perubahan. Masalah kita bukanlah kemauan, tapi kuasa. Kita harus membedakan antara keinginan untuk hidup benar dengan kuasa untuk hidup benar. Ingin hidup benar tidak menjamin mampu hidup benar.
Mari kita lihat apa kata Alkitab.
Pertama: kabar bagus. Bapa kita di surga mau kita semua mengalami perubahan. Ini terlihat dari ayat-ayat yang kita kutip di Yeh 36:
1. Ayat 24: Aku akan menjemput kamu… Dia mengambil inisiatif. Allah tidak menunggu kita mendatangi Dia. Kita ini sudah tersesat, tidak akan mampu datang kepada Dia. Dia menjemput alias mendatangi kita. Dia mengambil langkah pertama. Alangkah besarnya kasih Allah ini. Tidakkah saudara bersyukur untuk hal ini?
Bayangkanlah saudara seperti orang yang tersesat di satu gunung salju. Kematian sudah pasti mendatangi saudara. Apa yang saudara nanti-nantikan? Pertolongan! Ketika regu penolong datang, seperti apa perasaan saudara? Saking tidak tahannya, rata-rata orang yang demikian akan menangis. Air mata kelegaan, air mata senang, air mata syukur. Pokoknya, senangnya bukan main.
2. Ayat 25: Dia membasuh kita. Dia tidak hanya menjemput kita, tetapi menemukan kita dalam keadaan kotor, berlepotan lumpur dosa. Yang luar biasa adalah: Dia tidak putar badan dan batal menjemput kita. Dia tidak bilang: Ya ampun, kalau tahu jorok begini Aku tidak mau datang. Atau: Kamu jadi orang mbok bersih dikit kenapa sih? Sana mandi dulu!
Tidak! Dia justru mengambil air jernih alias air bersih dan, perhatikan kata berikut, mentahirkan kita. Sebab kita ternyata bukan hanya kotor, tapi najis.
Kotor itu beda dengan najis. Kotor adalah hal fisik, najis adalah kotor yang sudah sampai ke level spiritual. Kita ini tidak cukup dibersihkan, tapi harus ditahirkan.
Membersihkan atau mentahirkan adalah pekerjaan yang tidak enak. Karena selalu menyangkut kotoran – Allah tidak terbiasa melihat kekotoran dan kenajisan – Dia Maha Kudus/Suci/Bersih. Tetapi demi kita, Dia bersedia bersentuhan dengan sesuatu yang najis.
Loh…bukankah kalau demikian Dia akan menjadi najis? Seperti kita yang sudah bersih, kalau bersentuhan dengan yang kotor, kan kita jadi ikut kotor?
Tidak demikian. Ketika yang maha kudus bersentuhan dengan yang najis, bukan yang maha kudus menjadi najis, tapi yang najis berubah menjadi kudus!
3. Ayat 26: Dia memberikan kita hati yang baru dan roh yang baru dalam batin kita, supaya sikap, karakter, pola pikir dan tingkah laku kita jadi berubah. Kita menjadi ciptaan baru! Perubahan yang terjadi bukan perubahan kosmetik, tempelan luar saja. Tetapi transformasi total! Luar dan dalam berubah!
4. Ayat 27: Dia memberikan Roh-Nya. Supaya kita berubah total, Allah memberikan Roh Kudus untuk kita semua. Roh Kudus adalah sumber kuasa perubahan.
Komplitlah sudah. Kita memiliki semua yang diperlukan untuk berubah. Kita tidak hanya dituntut untuk berubah, tetapi diberikan kuasa untuk berubah. Thank God!
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT