Image Background
header
Umum B  O  L  E  H  ?
B O L E H ?
Segala sesuatu diperbolehkan. Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
(1 Kor 10:23)
Boleh atau tidak? Ini pertanyaan banyak orang Kristen.
Ada hal tertentu sifatnya prinsip, hitam putih, tegas jelas; ini tidak terlalu sulit. Tapi ada hal-hal tertentu sifatnya tidak prinsip. Nah, menentukan mana boleh dan mana tidak boleh bisa bikin pusing untuk hal-hal yang demikian.
Orang kristen boleh nonton film atau tidak? Boleh minum bir atau tidak? Anggur? Vodka? Boleh dansa? Kalau merokok? Ke night club boleh nggak? Ngga boleh? Kalau ke night club untuk menginjil?
Jemaat di Korintus adalah jemaat yang ada di kota besar. Korintus adalah kota perdagangan dan pelabuhan. Orang dari berbagai wilayah Kerajaan Romawi ada di sana. Berbagai bentuk dosa juga ada, termasuk segala model dewa dan agama. Godaan begitu banyak dan pilihan tersedia berlimpah.
Sebagian jemaat Korintus berpendapat begini: Segala sesuatu diperbolehkan. Kita sudah dalam Kristus, merdeka dalam Kristus. Jadi apa saja boleh. Kalau tidak hati-hati, ini sedikit lagi bisa masuk kepada apa yang disebut dengan istilah ‘antinomianisme’ alias ‘anti hukum’. Menurut pemahaman ini, semua boleh, hukum tidak berlaku bagi orang Kristen. Atau: semuanya adalah karena kasih karunia, apapun perbuatan kita tidak akan berpengaruh terhadap keselamatan kita; jadi, semuanya boleh.
Maka Rasul Paulus memberikan nasihat: memang boleh TAPI…
Pendapat ‘semua boleh’ memang ada benarnya (asal jangan dosa yah!). Kita semua sudah merdeka dalam Kristus? Benar! Tapi pertanyaannya: Yang boleh dilakukan itu berguna atau tidak? Membangun atau tidak? Berarti, Paulus menyatakan bahwa ada hal yang boleh dilakukan tapi sebenarnya tidak berguna atau tidak membangun. Kalau demikian, mendingan jangan dilakukan, sekalipun boleh!
Cuma pertanyaannya berikut adalah: apa ukurannya sesuatu itu membangun atau berguna?
Di sini Paulus memberikan 2 patokan yang luar biasa.
Pertama di ayat berikutnya, 1 Kor 10:24: “Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.”
Ini brilian. Ketika bicara soal mana yang membangun dan mana yang berguna, ternyata patokannya bukanlah keuntungan buat diri saya, tapi buat orang lain. Pertanyaan saya jangan: Apakah ini membangun dan berguna buat saya? Pertanyaan saya haruslah: Apakah ini membangun orang lain? Apakah ini berguna bagi orang lain? Kalau jawabannya ‘Iya’ maka itu boleh sekaligus berguna/membangun, maka lakukanlah itu. Jadi sebenarnya tidak rumit-rumit amatlah.
Lalu Paulus memberi contoh soal makan daging yang dijual di pasar Duri Indah di Korintus Barat. Patut diketahui bahwa setiap potong daging yang dijual di pasar daging pada jaman itu kemungkinan besar adalah sisa dari persembahan berhala, baik pasar PIK (Pantai Indah Korintus), pasar Kelapa Daging, Duri Indah ataupun pasar-pasar lain. Kalau beli daging di sana, jangan bertanya-tanya dalam hati atau bertanya kepada yang jual: ini daging sudah dipersembahkan kepada berhala atau belum? Tidak usah tanya, beli dan makan saja. Karena apa? Ayat 26: “bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.”
Begitu juga kalau diundang makan, baik di rumah orang ataupun di restoran Luck King di Korintus Plaza, jangan bertanya dalam hati: ini sudah dipersembahkan ke berhala belum ya? Makan saja, boleh nambah kalau enak.
Kecuali kalau yang jualan atau yang undang makan bilang begini: “Eh, itu daging sudah dipersembahkan ke berhala.” Nah, kalau sudah begitu, jangan makan, karena masalah hati nurani. Tapi bukan hati nurani kita, tapi hati nurani orang lain yang melihat atau ikut makan.
Kata Paulus di 1 Kor 8:9: Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.
Jadi, pikirkanlah dampak perbuatan kita terhadap orang lain, terutama yang tidak sekuat kita. Kalau ini menjadi sandungan bagi orang lain, mendingan jangan makan.
Kedua di 1 Kor 10:31: Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.
Supaya tindakan kita membangun dan berguna, pastikanlah bahwa semua yang kita lakukan untuk kemuliaan Allah. Gampang sekali kita makan dan minum untuk kemuliaan diri kita. Pamerkan makanan kita di Insta dan FB supaya orang kagum dengan makanan kita dan selera kita. Beli makanan tertentu supaya orang terpesona dengan kita. Bangun rumah mewah supaya orang tahu kita kaya. Itu namanya melakukan sesuatu untuk kemuliaan kita.
Kita harus lakukan yang sebaliknya: biar orang melihat apa yang kita lakukan, dan mereka memuliakan Bapa di surga (Mat 5:16).
Mari kita terus peka akan suara Roh dalam hati nurani kita. Mari kita terus instrospeksi diri kita, supaya segala sesuatu menjadi BOLEH, BERGUNA dan MEMBANGUN.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT