Image Background
header
Umum D E W A S A
D E W A S A
Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia. – Luk 2:52
The Curious Case of Benjamin Button adalah film dengan cerita yang aneh. Benjamin (diperankan oleh Brad Pitt) lahir 11 Nov. Dia lahir sebagai orang yang sudah lanjut usia. Semakin hari Ben semakin bertambah muda, sampai akhirnya dia mati sebagai bayi! Pernah bayangkan ada orang demikian? Jelas itu cuma ada di cerita film. Dalam kenyataan sehari-hari semua orang mulai dari bayi, bertambah tua sampai akhirnya meninggal sebagai orang tua.
Semua orang menjadi tua, tetapi tidak semua orang menjadi dewasa. Ini pernyataan yang agak aneh, barangkali. Tapi coba direnungkan dalam-dalam, terutama dikaitkan dengan kutipan ayat di atas: Yesus tidak hanya bertambah besar (umur) tetapi juga bertambah hikmat-Nya (kedewasaan). Menjadi tua berbeda dengan menjadi dewasa. Menjadi tua adalah keniscayaan; ini masalah umur. Setiap hari kita bertambah tua. Pasti. Tidak mungkin dihindari. Kita tidak bisa apa-apa. Waktu bergulir dan kita bertambah tua. Setuju tidak setuju, suka tidak suka, dia akan terjadi. Boleh coba dilawan, tetapi tidak ada yang bertahan.
Menjadi dewasa lain lagi. Dia bukan berbicara tentang umur, tetapi tentang cara seseorang menjalani hidup ini; bagaimana dia bersikap menghadapi hidup dengan segala lika-likunya. Kedewasaan bukanlah hal yang pasti terjadi dengan sendirinya. Dia adalah hasil pelatihan dan pilihan. Dengan demikian, orang yang tidak dewasa juga adalah hasil pembentukan dan pilihan!
Dalam rumah tangga, kedewasaan penting. Seorang suami yang tidak dewasa tidak akan pernah bisa memimpin rumah tangganya. Dia tidak menjadi berkat, malah menjadi beban.
Dalam bisnis, kedewasaan juga adalah penting. Bisnis memerlukan kesabaran, salah satu ciri kedewasaan.
Dalam pelayanan, alangkah pentingnya kedewasaan. Seseorang yang tidak dewasa tidak akan bisa melayani. Sebab hanya orang dewasa saja yang bisa menghambakan dirinya.
Tua tapi tidak dewasa
Ada orang sudah berumur 50 tahun tetapi kelakuan kekanak-kanakan. Tua tapi tidak dewasa. Minta sesuatu kalau tidak dapat akan ngambek atau ngamuk. Suruh belajar ngantuk. Dikritik, ngancam. Tiap kali buka mulut, ngaco bin ngawur.
Kalau seorang anak dari kecil tidak dilatih dengan benar, dia akan bertambah besar tetapi tidak bertambah dewasa. Kalau maunya apa-apa harus dituruti; kalau tidak pernah belajar susah; kalau semua orang harus mengalah sama dia; kalau apa-apa diurusin; jadilah dia tambah tua tapi tidak tambah dewasa.
Orang tua sering kali terlalu mengasihi sekaligus mengasihani anak. Tidak tega menolak permintaan anak. Tidak sampai hati melihat anak susah sedikit. Jadilah anak ini merasa seluruh dunia wajib tunduk kepada dia. Akibatnya: dia tidak usah tahu perasaan orang lain. Dia tidak tahu atau perduli kesusahan orang lain. Dunia ada untuk kepuasan dia, kesenangan dia, keakuan dia…
Muda tapi dewasa
Sewaktu masih berumur 12 tahun, Yesus sudah menunjukkan kedewasaan yang luar biasa. Kemampuan daya pikir-Nya luar biasa, sehingga Dia bisa berinteraksi dengan para ahli agama. Tetapi kedewasaan-Nya juga terlihat sewaktu Dia mau mendengarkan perkataan mama-Nya yang menyuruh Dia pulang. Padahal Dia sudah siap melayani.
Inilah tanda-tanda orang dewasa:
1. Mampu menguasai emosi. Anak kecil dikuasai oleh emosi. Orang dewasa mengatur dan menguasai emosi.
2. Mampu menyelesaikan masalah. Anak kecil tidak bisa apa-apa. Pakai baju saja tidak bisa. Orang yang dewasa mampu menyelesaikan masalah yang muncul dalam kehidupannya. Bukan berarti semua masalah bisa dia selesaikan. Bukan berarti dia tidak perlu pertolongan orang lain. Tapi secara umum dia bisa menyelesaikan masalah tanpa perlu terlalu mengandalkan orang lain, sekalipun dia tetap memerlukan pertolongan orang lain dari waktu ke waktu.
3. Tahu mana yang benar dan mana yang salah. Anak kecil tidak tahu sama sekali. Yang benar bagi dia adalah yang menguntungkan dia. Orang dewasa tahu bahwa kebenaran tidaklah bergantung kepada dia. Tetapi dia bisa menemukan sumber kebenaran di Firman Tuhan.
4. Bertanggungjawab. Anak kecil tidak bisa bertanggungjawab. Dia malah lari dari tanggung jawab. Orang dewasa tampil ke depan dan berkata, “Ya, saya yang bertanggungjawab. Saya siap terima konsekuensinya.” Suami atau istri yang tidak dewasa lari dari tanggung jawab. Orang tua yang tidak dewasa lari dari tanggung jawab. Mereka menyalahkan orang lain atau menyalahkan keadaan.
5. Dapat menerima teguran dan kritik. Anak kecil tidak terima kritikan. Orang dewasa mampu menerima kritik dan memperbaiki diri, sehingga kritik membuat dia menjadi semakin bertambah baik.
6. Bisa mengalah dalam hal tertentu. Anak kecil maunya menang terus. Orang dewasa belajar bahwa dia tidak harus selalu menang; bahwa ada kalanya mengalah ternyata lebih baik daripada ngotot harus menang.
7. Menghormati orang lain dan menghargai pendapat orang lain, sekalipun dia tidak setuju dengan pendapat itu. Anak kecil akan melecehkan pendapat orang lain yang tidak sesuai dengan pendapat dia.
8. Tahu bersyukur dan berterima kasih. Anak kecil akan menuntut terus. Orang dewasa bersyukur untuk apa yang dia terima dan miliki.
Mari kita semua belajar untuk menjadi dewasa dalam segala hal. (pst)
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT