Image Background
header
Umum DENDAM
DENDAM
Esau menaruh dendam kepada Yakub karena berkat yang telah diberikan oleh ayahnya kepadanya, lalu ia berkata kepada dirinya sendiri: "Hari-hari berkabung karena kematian ayahku itu tidak akan lama lagi; pada waktu itulah Yakub, adikku, akan kubunuh."
Kej 27:41
Absalom dendam sekali kepada Amnon dan tidak mau lagi berbicara dengan dia karena ia telah memperkosa Tamar adiknya.
2 Sam 13:22 (BIS)

Dr. Hans Selye adalah nama yang barangkali saudara tidak pernah dengar. Beliau ahli endokrinologi, cabang kedokteran yang menangani penyakit kelenjar dan hormon. Dr. Selye menjadi terkenal karena menemukan gejala-gelaja gangguan kesehatan yang dia sebut ‘stress’.
Dia mengatakan bahwa dalam hidup manusia ada 2 perasaan yang sangat kuat, yang mempengaruhi: ‘ketenangan batin, kualitas hidup, rasa aman atau tidak, rasa puas atau frustrasi, pendek kata, tingkat dimana kita bisa menjadikan hidup suatu keberhasilan.’
Perasaan yang pertama adalah DENDAM, yang kedua adalah SYUKUR.
Mari kita bicara soal dendam.
Apabila saudara penggemar film, terutama film laga, saudara pasti tahu soal dendam. Sebab kebanyakan tema film laga adalah berkutat soal balas dendam. Baik dari Holywood di Amerika sana, atau Hongkiwood Hongkong, Bollywood Bombay, sampai Tangkiwood di Mangga Besar (Tangkiwood Mangga Besar adalah lokasi kediaman beberapa bintang film top jaman dulu), pembalasan dendam adalah tema utama perfilman.
Seorang anak muda yang baik, sopan, penolong, dipukul oleh sekelompok penjahat yang sinis, belagu, petantang petenteng, padahal si anak muda itu tidak berbuat salah. Dia ditinggal dalam keadaan hampir mati. Mendadak muncul satu orang tua yang membawa dia naik ke gunung untuk belajar silat menjadi pendekar. Pelajaran silat berlangsung lama sekali, hampir sepanjang film berlangsung. Sementara dia sedang belajar di atas gunung, di bawah gunung penjahat tambah ganas, bunuh sana bunuh sini. Menjelang film selesai (pendekar itu tahu juga bahwa film sudah mau habis, kalau dia kelamaan di atas gunung, bisa bisa dia tidak kebagian kesempatan), pendekar turun gunung, sambil memakai topi lebar yang menutupi setengah wajahnya. Dia berjumpa dengan para penganiayanya. Terjadilah pembalasan yang dahsyat sekali. Sebelum pukulan pamungkas diluncurkan, pendekar membuka topinya.. penjahat ternganga… ternyata kau… Semua penjahat dipukul babak belur, mati tak berdaya, binasa tak bersisa… Kita penonton puas… dendam terbalaskan.
Dendam kadang dikaitkan dengan keadilan. Sehingga terkesan bahwa balas dendam itu boleh-boleh saja, karena itu menegakkan keadilan. Seseorang mengalami hal yang tidak baik, seperti Esau ditipu Yakub, dan adik Absalom diperkosan Amnon, adiknya yang satu lagi. Esau tidak salah kalau mau membunuh Yakub (dia tidak jadi membunuh), sama seperti Absalom tidak salah kalau membunuh Amnon (dia berhasil membunuh).
Tetapi Alkitab sangat jelas sekali berbicara kepada orang-orang yang menyimpan dendam untuk suatu hari dibalaskan:
Sebab kita mengenal Dia yang berkata: "Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan." Dan lagi: "Tuhan akan menghakimi umat-Nya." – Ibr 10:30
Kenapa kita jangan menyimpan atau membalas dendam?
1. Membalas dendam adalah hak Tuhan. Kita harus tahu diri. Kalau Tuhan sudah berbicara bahwa itu hak Dia, kita jangan coba-coba melakukannya. Karena itu berarti kita merampas sesuatu yang adalah milik Tuhan.
2. Kita sendiri juga ada salah. Terkadang kita tidak sadar akan hal ini. Kalau orang lain kita hakimi dan adili, kita sendiri juga harus siap diadili dan dihakimi. Tapi kalau kita mengampuni, kita juga akan diampuni. Ukuran yang kita pakai ke orang lain akan dipakaikan kepada kita sendiri (Mat 7:2). Kalau kita murah hati dengan orang lain, Tuhan juga akan murah hati dengan kita. Kalau kita kejam dengan orang lain, Tuhan juga akan kejam dengan kita.
3. Menyimpan dendam merusak roh, jiwa dan tubuh kita. Dalam dendam ada unsur amarah dan kebencian yang amat kuat. Dua hal ini adalah racun yang bekerja meracuni hubungan kita dengan Tuhan dan dengan sesama. Dendam mempengaruhi sel-sel dalam tubuh kita. Kebencian dan amarah bisa terasa sampai ke badan kita. Tidur tidak tenang, pikiran tidak tenang, nafsu makan terganggu. Orang yang menyimpan dendam adalah seperti orang yang ‘meminum racun tikus dan berharap tikus mati’ (Anne Lamott, penulis Kristen).
4. Kalaupun kita mau membalas kejahatan seseorang, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan (Rom 12:21).
Kita terkadang mengira bahwa dendam akan tuntas dan kita akan mengalami kelegaan kalau kita bisa membalas dendam. Pengalaman menunjukkan bahwa hal begini tidak akan terjadi. Perasaan lega, plong, dan damai hanya akan terjadi saat kita memutuskan untuk membuang semua perasaan dendam melalui pengampunan terhadap orang yang bersalah.
Saat kita mengampuni, tubuh kita memulai proses kesembuhan, jiwa kita menjadi tenang, dan doa kita didengar lagi oleh Tuhan.
Maukah saudara/saudari mengampuni orang yang bersalah kepadamu?
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT