Image Background
header
Umum DIAM !
DIAM !
Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!... (Mz 46:11)

Christian Choo, teman sekelas saya sewaktu kami mengkuti pendidikan terapi keluarga, mengikuti retret di Thailand. Retret berlangsung 7 hari. Tidak ada TV, tidak ada koran, tidak ada musik, tidak boleh ada handphone, BB, laptop, internet. Tidak boleh berbicara selama 7 hari kecuali beberapa patah kata waktu makan malam. Lain dari itu, yang ada hanya kesenyapan. Di luar mau perang dunia, bencana alam, kerusuhan berdarah, saudara tidak akan tahu. Tahankah saudara di situasi seperti itu?
Berdiam diri adalah salah satu hal yang sulit dilakukan oleh manusia jaman modern ini. Padahal berdiam diri adalah salah satu disiplin rohani yang dipraktekkan oleh Yesus. Selama 40 hari 40 malam dia berdiam diri dalam doa dan puasa, sendirian di padang gurun Yudea yang ganas. Saya susah membayangkan seperti apa sendirian di padang gurun selama 40 hari 40 malam, tanpa teman bicara, tanpa buku, tanpa telpon… terputus dari dunia tetapi tersambung dengan surga.
Setelah itu dari waktu ke waktu, Dia selalu mengambil waktu untuk berdiam diri sendirian dengan Bapa-Nya.
Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. (Mat 14:23)
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. (Mrk 1:35)
Dan ketika Dia diajukan ke pengadilan Herodes, Dia juga diam…
Dimanakah letak pentingnya DIAM?
1. DIAM adalah meluaskan kuasa Allah bekerja, seperti dinyatakan oleh Maz 46:11.
Diam berbicara tentang dua hal: tidak berbicara dan tidak bertindak. Di Maz 46:11, kata ‘diamlah’ mengacu kepada dua-duanya. Tapi bukan diam pasif, melainkan diam dengan mengamati dan melihat kuasa Allah bekerja.
Jadi, diam adalah ‘membiarkan’ Tuhan bekerja dengan leluasa. Sering kali kitalah, melalui omongan atau tindakan kita, yang menjadi penghalang kuasa Tuhan dinyatakan. Martha, yang sibuk pelayanan itu, justru menjadi penghalang ketika Tuhan Yesus mau membangkitkan saudaranya, Lazarus.
Dalam bahasa Indonesia, ada istilah ‘vokal’ untuk menyebut tipe orang yang dengan berani dan mantap menyampaikan pendapatnya. Contoh di Alkitab adalah Rasul Petrus. Kita tahu apa yang terjadi pada dia. Hardikan dari Tuhan kepada Petrus sudah cukup untuk menunjukkan kepada kita apa pendapat Tuhan tentang orang ‘vokal’ yang sembarang membuka mulut. Orang ‘vokal’ sering menjadi sandungan bagi Tuhan.
Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (Mat 16:23)
2. DIAM menolong kita supaya tidak berdosa. Berbagai ayat menunjukkan bahayanya terlalu banyak berbicara.
Makin banyak bicara, makin banyak kemungkinan berdosa; orang yang dapat mengendalikan lidahnya adalah bijaksana. (Am 10:19, BIMK)
Ayat terakhir ini tidak memerlukan penjelasan lebih jauh. Makin banyak bicara, makin banyak kemungkinan berdosa. Berarti: makin sedikit bicara, makin sedikit kemungkinan berdosa. Karena itu:
Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku! (Maz 141:3)
3. DIAM adalah tanda iman percaya. Orang yang percaya akan kuasa Tuhan bisa berdiam, tidak berkata apa-apa dan bertindak apa-apa sambil menantikan pertolongan dari tempat maha tinggi. Orang yang tidak percaya atau ragu akan pertolongan Tuhan dan kebaikan Tuhan akan terdorong untuk mengambil suatu tindakan. Mereka menganggap Tuhan tidak bisa diandalkan, sering terlambat, dan tidak bisa diatur menurut maunya mereka. Hal ini dikecam oleh nabi Yesaya:
(15) Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." Tetapi kamu enggan, (16) kamu berkata: "Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat," maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: "Kami mau mengendarai kuda tangkas," maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi. (Yes 30:15-16)
Tindakan kita yang kita harapkan untuk menolong diri kita justru membawa celaka. Sebab, begitu kita manusia turun tangan, Tuhan angkat tangan. Tetapi begitu kita angkat tangan, Dia turun tangan.
4. Diam adalah senjata. Inilah nasihat Rasul Paulus kepada para istri yang memiliki suami yang tidak taat kepada Firman Tuhan:
…supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, (1 Pet 3:1)
Suami dimenangkan bukan dengan jalan diomeli setiap hari, tetapi justru dengan ‘tanpa perkataan’ melalui kelakuan istri yang tunduk kepada suami.
JADI: ada begitu banyak manfaat dari ‘diam’. Bisakah kita sekarang belajar diam? (pst)
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT