Image Background
header
Umum DIAM (2)
DIAM (2)

Semakin lama saya menjalani hidup, semakin saya meyakini pentingnya dan manfaatnya diam. Kehidupan jaman ini menuntut kita untuk aktif, terlibat, bergerak, berbicara. Hasilnya adalah orang-orang yang sibuk, terkadang super sibuk, tapi kosong. Fobia/ketakutan jenis baru yang muncul di jaman internet ini adalah fomophobia (f-o-m-o = fear of missing out alias takut ketinggalan) – kita selalu mencari berita di internet, login Facebook, periksa Twitter, mengamati Instagram, ngecek BBM dan WhatsApp supaya tidak ketinggalan berita. Apalagi orang Indonesia yang sekali bawa minimal 2 HP plus 1 power bank.
Sebaliknya, diam sering dianggap salah. Atau kalah. Atau bingung, tidak tahu mesti berbicara apa. Diam dianggap sebagai posisi yang harus dihindari.
Seandainya anda adalah kiper yang menghadapi tendangan penalti…
Michael Bar-Eli, peneliti dari Israel, menganalisa beratus-ratus tendangan penalti. Dalam tendangan penalti, bola dari kaki penendang menuju ke gawang akan sampai dalam waktu 0.3 detik. Tidak ada cukup waktu untuk kiper melihat arah bola dan baru kemudian bergerak. Pasti dia terlambat. Oleh karena itu, kiper sudah memutuskan mau bergerak kemana SEBELUM bola ditendang. Berdasarkan analisa, 1/3 penendang penalti akan menendang bola ke arah kiri gawang, 1/3 lagi ke kanan gawang, sisa 1/3 ke tengah gawang. Sekalipun kiper dari awal sudah pasti berdiri di tengah gawang, tetapi waktu bola datang, dia cenderung akan bergerak ke kanan atau ke kiri. Jarang sekali kiper akan tetap di tengah, sekalipun ada 1 dari 3 kemungkinan bahwa bola akan ke tengah. Kenapa demikian? Jawabannya: pencitraan. Pasti akan lebih terlihat bagus kalau dia sudah lompat ke kanan atau kiri dan tetap gol daripada dia diam dan gol! Kalau dia diam saja (dan berharap bola lari ke tengah), lalu bola ke kiri dan gol, dia akan diomeli orang satu stadion. Jadi? Begitulah manusia jaman sekarang. Lebih baik kelihatan aktif, bergerak, berbicara daripada duduk diam. Sekalipun hasilnya sama-sama nol.
Alkitab sebenarnya banyak sekali memberikan dorongan untuk kita diam…
Mz 46:11: "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! …" Ini ayat yang dalam sekali...
Yes 30:15-16: Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." Tetapi kamu enggan, kamu berkata: "Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat," maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: "Kami mau mengendarai kuda tangkas," maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi.

Ada lagi petunjuk supaya tidak terlalu banyak bicara:
Am 10:19: Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.
Am 17:27: Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin.
Tuhan Yesus juga menjadi teladan kita:
Markus 1:35: Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.
Markus 6:31-32: Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. (32) Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.
Billy Graham berumur 96 tahun 2014 ini. Saya rasa apa yang dia lakukan untuk pekerjaan Tuhan sudah tidak diragukan lagi. Beliau diwawancarai oleh Van Susteren dari Fox News (http://ow.ly/vxnV4). Pdt Graham ditanya pertanyaan ini:
Seandainya anda harus mengulang lagi hidup anda, apakah ada yang anda akan lakukan dengan berbeda?
Jawab Pdt Graham: Ya, saya akan belajar lebih banyak. Saya akan perbanyak doa, dan mengurangi perjalanan dan undangan khotbah. Saya terlalu banyak berkhotbah di terlalu banyak tempat di dunia.
Kata-kata pendeta tua ini membuat saya merenung panjang. Saya sudah lama meyakini hal ini. Tetapi saya barangkali masih terlalu muda untuk menasihati orang lain tentang hal ini. Istri saya, sebagai pengatur jadwal, tahu benar bahwa saya sangat banyak menolak undangan selama 6 tahun terakhir ini, yaitu sejak GBI Putera berdiri. Saya rasa ada lebih dari 1000 kesempatan/undangan yang saya tolak. Ada banyak orang kecewa dengan keputusan saya. Barangkali saya agak egois. Saya hanya ingin bisa melayani Tuan dan Kekasih Jiwa saya lebih lama lagi. Dan saya merasa bahwa caranya adalah dengan mengurangi frekuensi berkhotbah dan memperbanyak berdoa dan merenung.

Saya juga merasa bahwa semakin saya banyak berbicara dan sibuk, semakin saya jauh dari Tuhan,…dan semakin menurun kualitas khotbah yang saya sampaikan.
Saya akan berumur 52 tahun Desember ini. Semakin saya bertambah umur, semakin saya sadar betapa banyaknya yang saya tidak tahu. Saya melihat ke Alkitab di meja kerja saya dan menyadari betapa sedikitnya pengetahuan saya akan Firman Tuhan. Saya ingin sekali bisa mengambil waktu untuk berhenti memberikan konseling dan khotbah selama 2-3 bulan, banyak menyembah dan berdoa, dan hanya duduk mendengarkan khotbah orang lain tiap hari Minggu. Semoga Tuhan Yesus, Majikan Agung saya, mengijinkan hal ini…
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT