Image Background
header
Umum G  A  W  A  N  G
G A W A N G
Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman
(1 Timotius 1:9)

Bagian mana dari lapangan sepak bola yang paling penting? Tanyakan ke semua pemain bola, jawabannya jelas: gawang. Semua perhatian diarahkan ke gawang (kecuali Sergio Ramos yang perhatiannya ke bahu lawan). Semua pemain berupaya membawa bola ke gawang seberang (ada beberapa pemain yang bingung membedakan arah, sehingga membawa bola ke gawang sendiri).
Pada final Piala Dunia sepak bola antara kesebelasan Brasil dan Indonesia (jangan tertawa ya, beriman dong…), skor babak pertama adalah 0-0. Ini terjadi karena 11 pemain Indonesia berjejer-jejer di depan gawang dan tidak mau pindah-pindah. Pemain Brasil frustrasi. Mereka menembak terus tapi bola tidak bisa masuk karena gawang penuh pemain Indonesia. Pada saat jedah, diskusi antara FIFA, wasit, pelatih Brasil dan Indonesia, menghasilkan keputusan penting: gawang dihilangkan.
Babak kedua dimulai tanpa gawang. Apa yang terjadi? Pemain Brasil tetap menguasai bola, saling berbagi bola, tetapi karena tidak ada gawang, bola itu mau diapakan? Masak cuma digocek muter-muter begitu tanpa arah sepanjang pertandingan? Akhirnya pemain Brasil menyerah. Setelah 30 menit, mereka putar badan dan balik ke hotel. Siapa yang mau main bola tanpa gawang?
Ini berlaku juga di lapangan basket. Pernah main basket tanpa basket? Atau main golf tanpa ada lubang? Lomba lari tanpa finish?
Begitu juga hidup. Hidup memerlukan gawang atau sasaran. Tanpa adanya sasaran/tujuan, hidup ini sungguh melelahkan; seperti sepak bola tanpa gawang atau lomba lari tanpa finish, demikianlah hidup tanpa tujuan. Sepak bola menjadi menarik untuk dimainkan (dan ditonton) karena adanya gawang. Pemain jatuh bangun lintang pukang tunggang langgang lari sana lari sini sikut kiri sikut kanan jumpalitan mengejar bola untuk dimasukkan ke gawang lawan. Semangat dan enerji terasa sekali. Lomba lari banyak pesertanya karena adanya garis finish. Sudah capek sekalipun, kaki sudah gempor, nafas tinggal satu-satu, mata sudah kabur, jantung kayak mau copot, pelari tetap memaksakan diri mencapai garis finish. Tidak mau menyerah.
Barang kali ada di antara saudara yang pagi-pagi bangun sudah merasa capek; jalani hari-hari letih lesu lelah lemah dan lemas tanpa enerji, padahal cukup rajin minum suplemen dan krating daeng. Seperti orang diputus cinta padahal tidak pernah punya pacar. Kelelahan ini bisa muncul karena saudara belum menemukan tujuan hidup.
Sampai umur 23 tahun, saya tidak tahu hidup saya ini untuk apa. Saya menjalani hari-hari tanpa gairah. Saya sakit-sakitan, minum obat 5 macam setiap hari. Suatu hari Yesus Kristus Sang Juru Selamat Dunia mendatangi saya. Setelah hari itu, hidup saya berubah. Saya menemukan gairah hidup, harapan hidup dan tujuan hidup.
Darimana seseorang bisa menemukan tujuan hidupnya? Saya pernah ditunjukkan dan disuruh mencoba satu mainan dari kayu. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan alat itu. Saya tidak tahu tujuannya. Setelah diberitahu, baru saya ‘ngeh’ dan bilang ‘ooo…begitu…’ Tujuan suatu benda diciptakan hanya diketahui oleh penciptanya.
Begitu juga manusia. Kalau kita ingin tahu tujuan hidup kita, kita harus datang kepada Sang Pencipta. Apa kata Pencipta kita? Dia punya tujuan untuk hidup kita. 1 Tim 1:9 yang kita kutip di atas jelas sekali. Tuhan Allah tidak hanya menyelamatkan kita, tetapi juga memanggil kita dengan panggilan kudus yang didasarkan pada dua hal: tujuan dan kasih karunia-Nya.
Jadi Allah punya tujuan untuk hidup kita, dan Dia memberikan kasih karunia supaya kita bisa menggenapkan tujuan tersebut dalam hidup kita.
Ibarat gawang terbuat dari 3 tiang, maka tujuan hidup kita terdiri dari 3 komponen ini:
1. Menyenangkan hati Allah (ketaatan, ibadah)
2. Memuliakan Nama Allah (karakter, tingkah laku)
3. Meluaskan Kerajaan Allah (pelayanan, misi)
Ini berlaku bagi setiap orang, entah saudara adalah seorang pendeta, atau insinyur, atau pengemudi Gruber, atau ibu rumah tangga, mahasiswa atau pekerja kantor.
Kalau ada sesuatu tindakan atau pilihan saudara yang tidak menyenangkan hati Allah, tidak memuliakan Nama-Nya, dan tidak meluaskan Kerajaan-Nya, maka hal itu harus ditinggalkan. Nah, tinggal sekarang kita memeriksa hidup kita, apakah hidup kita sudah sesuai dengan kehendak-Nya. Kalau tidak sesuai, kita minta kasih karunia dari Dia untuk mampu melakukan kehendak-Nya.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT