Image Background
header
Umum G  U  E
G U E
Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Luk 9:23)
Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Luk 17:10)
“Gue’ adalah kata penting jaman ini. ‘Gue’ berbicara tentang kenikmatan saya, sudut pandang saya, pendapat saya… pokoknya segala sesuatu yang menyangkut ‘saya’ tapi dari sudut pandang kepentingan ‘saya’. Jaman sekarang adalah jaman di mana ‘gue’ adalah begitu penting.
Pada thn 1950 The Gallup Organization menanyakan kepada para murid SMA apakah mereka menganggap diri mereka orang yang penting. Pada waktu itu, 12% menjawab ‘ya’. Pertanyaan yang sama diajukan lagi pada thn 2005 ke anak-anak SMA, dan kali ini bukan 12% yang menganggap diri mereka orang penting, tetapi 80%.
Dalam satu survei thn 1976, peserta ditanya apa tujuan hidup mereka. Ketenaran menduduki nomor 15 dari 16. Pada thn 2005, ketenaran menjadi tujuan hidup nomor 1. Dalam satu survei lain, siswi-siswi SMA siapa tokoh yang mereka mau ajak makan malam bersama. Tokoh nomor 1: Jennifer Lopez. Tokoh nomor 2: Yesus Kristus. Tokoh nomor 3: Paris Hilton.
Pesan tentang betapa hebatnya ‘gue’ ditekankan di mana-mana. Gerakan ‘self-esteem’ menjadi ekstrim. Dari semula untuk menghancurkan rendah diri, sekarang kebablasan menghancurkan rendah hati. Kamu adalah pribadi spesial. Di acara-acara wisuda, para mahasiswa diberitahu betapa hebatnya diri mereka. Follow your passion. Ikuti dorongan hatimu. Jangan perduli apa kata orang lain.
Bahkan di gereja pun, suara yang mirip didengungkan. “Anda diciptakan untuk menjadi unggul. Anda diciptakan untuk meninggalkan suatu tanda di generasi ini. Mulailah dengan percaya bahwa: Saya sudah dipilih, dikhususkan, ditakdirkan untuk hidup dalam kemenangan,” begitu kata seorang pendeta terkenal.
Apa yang salah dengan pesan-pesan demikian?
Hanya satu saja: bertentangan dengan perkataan Yesus.
Kita kutip dua perkataan Yesus di atas.
Luk psl 9:23 tentang penyangkalan diri. Menyangkal artinya berkata ‘tidak’. Kepada siapa kita berkata ‘tidak’? Kepada keinginan dalam diri kita. Keinginan yang mana? Keingingan daging kita. Daging kita berteriak ‘GUE!’ Gue mau hidup ini mengikuti maunya gue! Gue mau semua orang memusatkan perhatian ke gue! Semua orang harus puji gue! Keinginan gue harus dituruti! Sekarang! Bukan nanti!
Luk 17:10 tentang apresiasi. Tuhan Yesus mengajar kita untuk tidak mengharapkan ucapan terima kasih dan penghargaan atas upaya kita. Ajaran Tuhan Yesus tepat sekali. Kalau kita tidak berharap dan kemudian diberi, senangnya luar biasa. Tapi kalau berharap dan tidak dapat, kecewanya bukan main.
Tuhan Yesus mau kita kembali kepada yang namanya kerendahan hati, sesuatu yang semakin hilang di jaman ini.
Coba lihat pemain bola jaman sekarang ketika habis memasukkan gol…waoh…berlari ke arah penonton dengan kedua tangan dibuka lebar, wajah merah karena eforia, mulut terbuka mengumandangkan auman kemenangan. Lalu teman-temannya berlari ke arah dia sambil memberikan ekspresi cinta dan kebanggaan kepada temannya itu. Dipeluk, dicium, dirangkul… Penonton berdiri dan dengan suara gemuruh menyatakan kekaguman mereka… Hebohnya bukan main…padahal cuma main bola, belum bisa bikin bola… padahal hanya memasukkan bola ke gawang, bukan menciptakan obat panu.
Alkitab sangat jelas memberikan gambaran tentang manusia:
Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu. (Maz 103:14)
Itulah kita manusia, hanya debu saja. Hari ini ada, besok bisa tiada. Apa yang bisa dibanggakan?
Memang benar manusia diciptakan dalam rupa dan gambar Allah. Tapi gambar ini sudah rusak oleh dosa. Memang Maz 8 menyatakan bahwa manusia sangat ditinggikan di atas ciptaan yang lain. Tetapi di situ pemazmur menyatakan keheranannya kenapa Allah melakukan hal ini. Memang kita lebih berharga daripada burung di udara, tapi Yesus menyatakan ini supaya kita jangan hidup dalam kekuatiran. Intinya: sekalipun status kita adalah luar biasa, belajarlah untuk rendah hati.
Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. (1 Pet 5:6)
Lepaskanlah keinginan untuk selalu ditinggikan, diperhatikan, disanjung atau dipuji orang. Tanggalkanlah jubah kedudukan dan martabat, pakaikanlah ikat pinggang hamba. Maka Tuhan akan meninggikan kita tepat pada waktunya.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT