Image Background
header
Umum GEREJA LOKAL BERDAMPAK GLOBAL
GEREJA LOKAL BERDAMPAK GLOBAL
Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan.
1 Tim 2:1-6

Pada th 1961, Edward Lorenz, seorang ahli matematika, melakukan kesalahan kecil. Dia mengetik angka 0,506 di komputernya untuk meramalkan cuaca. Padahal angka yang seharusnya adalah 0,506127. Bagi kita, perbedaan itu tidak ada artinya, terlalu kecil untuk dihitung: 0,000127. Tetapi Lorenz kaget sekali menemukan bahwa perbedaan kecil itu mengakibatkan perbedaan yang sangat besar dalam ramalan cuacanya. Berdasarkan kesalahan ketik itu, Lorenz mengembangkan teori ‘Butterfly Effect’, yaitu suatu perubahan kecil di suatu tempat akan berdampak besar di tempat lain yang jaraknya separuh bola bumi.
Doa adalah sesuatu yang memiliki kesamaan dengan ‘Butterfly Effect’. Sekelompok kecil orang berdoa di suatu tempat, dan efek doanya dapat terasa di suatu tempat yang jauhnya bukan main.
Rasul Paulus, dalam kutipan di atas, memberi nasihat kepada anak rohaninya, Timotius. Timotius adalah gembala sidang gereja lokal di Efesus. Nasihat ini bisa diterapkan kepada setiap gembala sidang dan setiap gereja lokal di mana-mana. Dalam nasihatnya itu, Paulus meminta Timotius untuk berdoa. Dia memakai kata ‘pertama-tama’. Artinya: ini adalah yang nomor satu. Ini prioritas. Ini yang duluan dilakukan sebelum yang lain. Ini yang paling penting. Yang ini tidak boleh terlewatkan.
Pertama-tama: DOA.
Kelihatannya sepele. Yah, yang namanya gereja pasti berdoa dong?!
Memang, gereja pasti ada doa. Tetapi belum tentu gereja itu memiliki gaya hidup doa. Dia hanya berdoa karena harus berdoa. Doa tidak menjadi andalannya. Doa bukan prioritas nomor satu dalam gereja itu. Doa bukan yang ‘pertama-tama’…
Ini juga berlaku dalam individu. Semua orang berdoa, tetapi tidak semua orang menjadikan doa sebagai prioritas nomor satu.
Sebuah gereja lokal memiliki keterbatasan: terbatas dananya, terbatas orangnya, terbatas koneksi manusianya, terbatas lokasinya, terbatas kehadirannya dll. Sekalipun dalam banyak hal gereja lokal terbatas, dalam satu hal dia tidak terbatas: d o a n y a!
Perhatikanlah kata ‘semua’ dalam kutipan di atas: semua orang, semua pembesar, semua manusia. Tidak ada yang terlewatkan. Kuasa doa kena ke semua orang.
Gereja lokal barangkali tidak bisa berjumpa langsung dengan raja-raja dan pembesar-pembesar. Tetapi doanya sanggup mempengaruhi para raja dan pembesar tersebut. Gereja lokal mungkin tidak bisa secara fisik masuk istana. Tetapi doanya bergema di sana. Gereja lokal tidak bisa pergi memberitakan Injil ke belahan dunia tertentu, tetapi doanya mempengaruhi belahan dunia itu. Inilah gereja lokal yang berdampak global! Dia mempengaruhi dunia dengan doanya!
Doa menembus ruang dan waktu. Dia melompati pembatas-pembatas, dari tembok beton sampai lautan luas, dari hutan lebat sampai pasukan pengawal.
Saudara-saudari sekalian, kita memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam mengarahkan jalannya dunia ini melalui doa kita. GBI Putera hanyalah sebuah gereja lokal yang kecil. Sekalipun kecil, kita bisa menjangkau banyak hal skala nasional dan global.
Mari kita manfaatkan sarana yang luar biasa dan supranatural ini. Mari kita tidak putus-putusnya berdoa. Mari kita tak jemu-jemunya berdoa. – pst
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT