Image Background
header
Umum H U B U N G A N
H U B U N G A N
Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: "Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita."
(1 Sam 4:3)
Selama 28 tahun, sampai pensiun di tahun 2012, pdt Klaas Hendrikse adalah gembala sidang di gereja Exodus di Gorinchem, Belanda. Setiap hari Minggu, dengan mantap bapak pendeta memimpin ibadah. Umat yang hadir menaikkan suara untuk mengagungkan dan memuji Tuhan, dalam ibadah yang hikmat, di mana pak pendeta juga menyampaikan Firman Tuhan.
Pdt Klaas menjadi terkenal di tahun 2007 karena buku karangan beliau yang judulnya ‘Percaya Kepada Allah Yang Tidak Ada’. Ya, anda tidak salah baca… Pendeta Klaas Hendrikse tidak percaya bahwa Allah itu ada. Dia tidak percaya bahwa Yesus Kristus dari Nasaret, benar-benar ada. Dalam khotbah-khotbahnya, bapak pendeta juga menganjurkan jemaat untuk tidak usah memikirkan surga dan neraka, karena kedua-duanya juga tidak ada.
Lalu kenapa dia jadi pendeta kalau ternyata dia adalah ateis? Yah… hidup terjamin, gaji lumayan, kerja ngga berat-berat amat, dan ada jaminan pensiun.
Kenapa sinode Gereja Protestan Belanda membiarkan beliau terus jadi gembala sidang selama 28 tahun? Sebenarnya sinode bermaksud memecat pendeta ateis ini. Hanya saja, sinode menemukan bahwa pendeta yang ateis ternyata bukan Klaas saja. Satu dari enam (17%) pendeta di sinode itu ternyata ateis! Kalau mau pecat Klaas, harus pecat ratusan pendeta lain… repot deh… akhrnya dia dibiarkan terus menjabat.
Pendeta Klaas dan rekan-rekannya adalah contoh jelas tentang yang namanya ritual tanpa hubungan. Setiap hari Minggu, mereka menjalankan ritual keagamaan, tapi tidak punya hubungan dengan Dia yang menjadi obyek atau sasaran dari ritual itu.
Dalam bacaan Alkitab di 1 Samuel 4, Israel kalah berperang. Israel merasa akan menang kalau membawa simbol ritual mereka, yaitu Tabut Perjanjian. Apakah masih ada kuasa dalam tabut tersebut? Ada. Buktinya: Samuel bertemu Tuhan di tempat tabut ditaruh; Tabut menjatuhkan patung dewa Dagon; Pada jaman Daud orang yang memegang tabut mengalami kematian.
Tetapi dalam kenyataannya, Israel tetap kalah sekalipun mereka membawa tabut tersebut ke medan perang. Mereka melakukan ritual tetapi tidak memiliki hubungan, sebab pada masa itu, Tuhan sudah jarang berbicara (1 Sam 3:1)
Saudara sekalian, isi bingkisan lebih penting daripada bungkusnya. Sama seperti lukisan lebih penting daripada piguranya. Demikian juga dalam kerohanian, hubungan dngn Tuhan lebih penting daripada ritual agama yang kita lakukan. Ritual ibarat pigura, ada untuk mendukung yang lebih penting, yaitu hubungan dengan Tuhan. Beberapa orang hanya menjalankan ritual tanpa hubungan, jadinya mereka beragama, tetapi kosong.
Ritiual saja tanpa hubungan akan mengakibatkan hal-hal berikut:
1. TUHAN hanyalah alat. Alat untuk mendapatkan sesuatu, entah itu kesembuhan, harta, jodoh, gengsi dll; atau alat pembenaran (saya sudah kebaktian, jadi saya sudah OK). Tuhan dimanfaatkan sebagai alat, dan doa akhirnya menjadi mantra.
2. Ibadah dilakukan kalau sempat dan cuaca mendukung. Setelah lain sudah beres baru ibadah. Ibadah bukan lagi prioritas. Ibadah hanyalah satu dari sekian kegiatan di hari Minggu.
3. Ibadah dilakukan tanpa sukacita karena dia adalah kewajiban yang harus dilakukan, bukan berdasarkan keinginan untuk bersekutu dengan Tuhan. Sama seperti polisi yang bertugas di pertandingan bola tidak bisa menikmati pertandingan karena sedang bertugas.
4. Percaya kepada takhyul, bergantung kepada perantara atau alat tertentu: minyak yg diurapi; kain/tongkat atau benda-benda lain yang diyakini membawa pengurapan. Ini bukan mengatakan bahwa Tuhan tidak bekerja melalui alat-alat ini (di Kisah Para Rasul, sapu tangan Paulus bisa membawa kesembuhan). Yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang BERGANTUNG kepada hal-hal ini. Mereka tidak bisa berfungsi tanpa benda-benda ini.
5. Tidak ada perubahan hidup. Beribadah setiap hari Minggu selama berpuluh-puluh tahun, tapi hidupnya tetap sama saja, tanpa perubahan nyata.
6. Tidak ada tuntutan/pengorbanan – pendeta Klaas mengajarkan jemaatnya: lakukan apa yg kamu suka; tidak usah pusing memikirkan apa kata Tuhan atau kehendak Tuhan.
Pada akhirnya, semua ritual seindah apapun, semegah apapun, akan sia-sia dan kosong, tanpa adanya hubungan yang intim dengan Dia yang kita sembah dan puji dalam ritual kita: Bapa, Putera dan Roh Kudus.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT