Image Background
header
Umum HIDUP DLM PENJARA (3)
HIDUP DLM PENJARA (3)
HIDUP DALAM PENJARA 3
(PENJARA TERNYATA ADALAH TANGGA)

Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. – Kej 45:5

Penjara fisik berbentuk lubang dalam atau 3 tembok 1 teralis. Dia adalah lubang dalam yang tidak bisa kita tinggalkan. Dia adalah pasungan yang membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kebebasan kita terbelenggu oleh penjara. Penjara kehidupan berwujud masalah kehidupan yang membelenggu kita, yang kelihatannya terlalu sulit untuk dilepaskan.
Yusuf memiliki pandangan yang berbeda. Dia melihat penjara sebagai tangga. Tangga karir.
Kehidupan Yusuf persis seperti huruf U. Dari atas mendadak turun kebawah, agak lama di bawah, lalu naik lagi mendadak. Dia memulai hidupnya di dalam satu keluarga yang agak berantakan. Papanya, Yakub, punya masalah dengan abangnya sendiri, dengan mertua dan dengan diri sendiri. Yakub beristri 4 dan beranak 13. Satu istri saja bisa bermasalah, apalagi empat… Satu anak sudah bisa bikin pusing, apalagi 13.
Sekalipun demikian, hiburan buat Yusuf adalah kasih papa terhadap dia. Kasih sayang ini sayangnya berlebihan. Yusuf menjadi anak kesayangan. Sementara yang lain berkutat dengan kambing dan sibuk dengan domba, dia ada di rumah bersama papa. Hidup yang cukup nyaman. Sampai suatu hari dia diikat oleh saudara-saudaranya dan dijual ke Mesir.
Waktu dijual ke Mesir, umur Yusuf adalah 17 tahun. Dia menjadi Perdana Menteri Mesir pada umur 30 tahun. Sisa waktu 13 tahun itu dihabiskan di rumah Potifar, pegawai Firaun, dan di penjara Mesir. Dia dipenjara lebih dari 2 tahun (tidak ada yang tahu persisnya berapa tahun).
Dari anak orang, menjadi budak di negeri asing, dan akhirnya mendekam di penjara. Dan yang menyedihkan, semua ini terjadi bukan karena dia adalah penjahat kejam yang memang perlu dikurung. Semua ini terjadi justru karena dia ingin hidup benar.
Bagaimana rasanya menjadi Yusuf? Atau mengalami nasib seperti dia?
Kebanyakan orang akan menjadi pemarah, pahit, bahkan dendam. Keluar dari penjara fisik, tapi tetap ada dalam penjara batin. Badan di luar penjara tapi hati masih di dalam penjara. Malah mempertanyakan perlakuan Tuhan yang tidak mengikuti maunya dia.
Yusuf baru bertemu dengan saudara-saudaranya setelah dia 9 tahun lamanya menjadi penguasa Mesir. Papanya berjumpa lagi dengan dia ketika umur dia 41 tahun. Pertanyaan: anak kesayangan papa kenapa tidak langsung memberitahu papa bahwa dia sudah sukses? Jawaban: Yusuf belum siap. Dia harus membereskan hatinya dulu.
Saya mengajak saudara semua untuk belajar dari Yusuf. Dia bisa mengampuni saudara-saudaranya yang memukul dia dan menjual dia ke Mesir. Setelah berjumpa dengan mereka, barulah dia bisa melihat rencana Tuhan dalam hidupnya.
Saudara tidak harus menanti bertahun-tahun dalam penantian dan kepahitan untuk bisa merasakan kemerdekaan. Yusuf mengajar kita:
1. Bisa tetap melihat tangan Tuhan di balik semua peristiwa yang tidak baik sekalipun. Ada dua kali dicatat di Kej 39 ayat 2 dan 21: Tetapi Tuhan menyertai Yusuf… pertama kali waktu dia dijual ke Potifar, dan kedua kali waktu dia di dalam penjara. Pada saat nasib kita terpuruk, jangan pernah mengira bahwa ini adalah final (tidak bisa diubah lagi) dan jangan mengira bahwa Tuhan sudah meninggalkan kita.
2. Bisa menemukan setitik kebaikan di dalam lautan keburukan. Bukan hanya setitik, bahkan sesungai. Justru karena dia dibuang ke Mesir, maka dia bisa menjadi PM. Justru karena dia dipenjara, terbukalah pintu untuk pergi ke istana. Terlalu lama kita terpaku melihat keburukan suatu situasi, dan buta memperhatikan kebaikan di balik suatu situasi. Rencana jahat manusia bisa diubahkan menjadi pintu berkat oleh Tuhan. Kata Yusuf kepada saudara-saudaranya: Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. – Kej 50:20
3. Bisa belajar mengampuni orang-orang yang menyakiti kita. Ini bagian dari pemulihan Yusuf. Sewaktu dia mengampuni, dia menangis begitu keras, sehingga terdengar oleh seluruh istana (Kej 45:2). Begitu beratnya luka di hatinya… Tetapi dia menemukan kesembuhan yang dia cari selama ini. Seandainya dia tidak mengampuni, cerita kehidupannya tidak akan berakhir begitu indah…
Apakah sdr sedang ada di penjara saat ini? Penjara kepahitan… penjara ketakutan… penjara kemarahan… penjara kebiasaan buruk…
Saya punya kabar bagus buat saudara. Yesus berkata bahwa Dia datang untuk: untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan (Luk 4:19).
Hanya dalam Dia, kita menemukan kebebasan sejati dari penjara di hati kita. (pst)

Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT