Image Background
header
Umum JEBAKAN KEPEMIMPINAN
JEBAKAN KEPEMIMPINAN
P E M I M P I N

Sepanjang tahun 2011 ada sekitar 3 juta judul buku yang dicetak di Amerika Serikat saja. Kategori terbanyak adalah buku tentang bisnis dan kepemimpinan. Sebagian besar isinya sampah, sebagian kecil isinya bagus. Tahun-tahun berikutnya jumlah buku kepemimpinan yang dicetak semakin banyak. Dunia membutuhkan pemimpin dan mencari pemimpin.
John Maxwell, pakar kepemimpinan, mengartikan kepemimpinan sebagai pengaruh. Pemimpin adalah orang yang memiliki pengaruh terhadap orang lain. Kalau begitu, setiap orang adalah pemimpin, karena setiap orang memiliki pengaruh terhadap orang lain, baik itu terhadap 1 orang maupun 1 milyar orang. Seorang mama memiliki pengaruh terhadap anak. Seorang anak memiliki pengaruh terhadap adiknya atau temannya. Setiap orang adalah pemimpin.
Buku terbagus tentang kepemimpinan yang pernah saya baca berjudul Alkitab. Berbagai cerita, kisah dan petuah memberikan prinsip-prinsip kekal tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin.
Dalam kitab 1 Samuel, ada 3 orang pemimpin yang tampil: Samuel, Saul dan Daud. Dari 3 pemimpin ini, satu dianggap gagal, yaitu Saul. Dari Saul, kita bisa belajar apa yang jebakan bagi seorang pemimpin.
Apa pelajarannya?
1. Jebakan: memimpin menurut maunya dia. Pemimpin harus taat. Ini adalah kalimat yang barangkali agak membingungkan. Pemimpin mau taat kepada siapa? Kan dia sudah pemimpin? Kita harus ingat prinsip kepemimpinan yang dinyatakan oleh satu orang perwira Romawi, ketika Yesus mau ke rumahnya. Menurut perwira ini di Mat 8:9: “Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”
Seorang pemimpin mendapat legitimasi karena dia mentaati yang di atasnya dia. Tidak ada orang yang paling atas tanpa ada seorangpun di atasnya dia. Seorang raja yang punya kekuasaan mutlakpun perlu sadar akan hal ini. Mungkin yang di atas dia bukanlah seorang yang memiliki jabatan resmi, seperti Samuel. Mungkin secara resmi tidak ada orang di atas seorang raja, tetapi dia tetap ada di bawah kekuasaan Tuhan.
Saul diangkat menjadi raja. Lalu Samuel memberikan dia perintah. Dalam 2 kesempatan, Saul melanggar perintah yang Samuel berikan kepada dia. Saul bukanlah seorang yang taat. Dia gagal di sini.
2. Jebakan: memimpin mengikuti tekanan yang datang. Pemimpin harus bisa melawan tekanan. Seorang kapten kapal diuji kepemimpinannya bukan ketika angin sedang tenang, tetapi ketika badai sedang bergelora. Sewaktu tekanan datang, bagaimanakah sikap sang pemimpin? Saul disuruh ke Gilgal oleh Samuel (1 Sam 13) dan menunggu 7 hari di sana. Tetapi tekanan hebat muncul. Musuh mendatangi dia. Tentaranya ketakutan dan sebagian lari. Samuel tidak muncul. Saul masih menunggu sampai 7 hari. Tapi pada hari ke 7 itu, di mana kalau Saul sabar sedikit saja Samuel sudah datang, Saul justru melakukan apa yang tidak boleh dia lakukan, yaitu membakar persembahan. Hal ini membuat Samuel marah besar.
Tekanan yang dihadapi Saul adalah tekanan yang nyata, bukan dibuat-buat. Catatan Alkitab di 1 Raj 13:6: Ketika dilihat orang-orang Israel, bahwa mereka terjepit--sebab rakyat memang terdesak--maka larilah rakyat bersembunyi di gua, keluk batu, bukit batu, liang batu dan perigi; (7) malah ada orang Ibrani yang menyeberangi arungan sungai Yordan menuju tanah Gad dan Gilead, sedang Saul masih di Gilgal dan seluruh rakyat mengikutinya dengan gemetar.
Saul tidak tahan menghadapi tekanan ini.
Pemimpin akan menghadapi tekanan. Pasti. Dijamin. Tekanan kepemimpinan muncul dari mana-mana. Dari luar dan dari dalam. Dari musuh. Dari situasi lapangan. Dari pengikut sendiri. Dari orang-orang terdekatnya. Dari kelemahan dirinya. Disinilah seorang pemimpin diuji. Bisakah dia menghadapi tekanan?
Pemimpin tidak boleh bergerak mengikuti tekanan. Dia bergerak berdasarkan suara kenabian.
3. Jebakan: rasa tidak aman. Pemimpin harus memiliki rasa aman. Salah satu contoh rasa aman ini adalah dalam hal pemimpin berbuat kesalahan. Pemimpin bukanlah seorang tanpa kelemahan. Dia bisa berbuat salah. Dan kalau dia berbuat salah, dia mesti cukup berani untuk mengakui. Tapi kalau dia tidak bersalah, sekalipun ditekan orang, dia tidak boleh mengalah.
Contoh lain adalah kalau melihat orang lain dipakai Tuhan. Akankah sang pemimpin ini memiliki rasa aman untuk turut senang melihat rekan/bawahannya dipakai Tuhan juga? Atau dia seperti Saul? 1 Sam 18:8: Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya." Rasa tidak aman membuat Saul mengambil langkah-langkah untuk menyingkirkan Daud. Hasilnya malah kebalikan dari yang dia inginkan. Daud justru bertambah populer dan kuat.
Rasa aman muncul sewaktu kita berserah kepada Tuhan, dan menerima kenyataan bahwa kedudukan kita adalah pemberian Tuhan. Kalau Tuhan masih menghendaki kita menjadi pemimpin, tidak ada yang bisa menyingkirkan kita. Tapi kalau Tuhan sudah tidak menghendaki kita lagi, apapun yang kita lakukan untuk mempertahankan kedudukan tidak akan ada gunanya.

Dunia sedang mencari pemimpin-pemimpin. Akankah mereka muncul dari orang-orang yang memegang manual kepemimpinan terhebat di dunia, yaitu Alkitab?
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT