Image Background
header
Umum K  O  N  F  L  I  K
K O N F L I K
Konflik adalah setua Adam dan seumur Hawa. Konflik muncul ketika dosa muncul. Ketika dikonfrontasi oleh Allah tentang buah terlarang, Adam menyalahkan iblis, Hawa dan (tersirat) menyalahkan Allah yang menempatkan perempuan itu dalam hidupnya.
Konflik ada sepanjang sejarah gereja. Tuhan Yesus berhadapan dengan konflik dalam pelayanannya. Konflik dari luar berupa perlawanan dari setan, Farisi dan ahli Taurat. Konflik dari dalam team pelayanan berupa murid-murid yang sering telmi dan berebut kedudukan.
Konflik muncul dalam gereja mula-mula. Di Kisah Para Rasul psl 15 ada sidang di Yerusalem untuk menyelesaikan satu konflik yang mengancam gereja purba itu terpecah jadi dua.
Rasul seperti Paulus menghadapi konflik dari awal sampai akhir pelayanannya. Ada orang-orang yang mengaku kristen yang mengikuti pelayanannya kemana-mana untuk merusak apa yang dia tanam.
Jadi? Janganlah heran dengan adanya konflik di gereja saat ini. Jangan berasa mau pingsan, jangan langsung mau pindah ke Timbuktu, jangan juga mau melabrak (baik secara langsung maupun melalui sosmed) pihak ‘sana’ yang mengganggu pihak ‘sini’. Selama Tuhan masih belum panik, kita juga tidak perlu panik.
Ini bukan berarti konflik dibiarkan atau bahkan dianjurkan. Tidak demikian. Yang saya maksud adalah: jangan kaget dengan adanya konflik dalam kekristenan, termasuk antar pendeta. Kesatuan tetap sesuatu yang harus diperjuangkan, dan konflik harus diselesaikan, seperti nasihat rasul kita yang terkasih Paulus dalam suratnya kepada jemaat yang sedang berkonflik, Korintus dan di Filipi:
Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. (1 Kor 1:10)
Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati, supaya sehati sepikir dalam Tuhan. 3 Bahkan, kuminta kepadamu juga, Sunsugos, temanku yang setia: tolonglah mereka. Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil,… (Fil 4:2-3)
Konflik di dalam gereja Tuhan harus diselesaikan karena dia berpotensi merusak banyak hal: nama baik gereja, nama baik hamba Tuhan, hubungan antar manusia, dan bahkan iman beberapa orang yang memang lemah imannya.
Di sisi lain, konflik sebenarnya ada manfaatnya. Manfaat konflik ini bisa kita perhatikan dari beberapa sudut pandangan.
Pertama: jenis konflik akan menentukan apakah manfaatnya muncul atau tidak. Ada 2 jenis konflik: konflik ide/pendapat dan konflik personal. Konflik ide adalah ketika dua pihak memiliki pandangan yang berbeda tentang satu hal, contoh: penafsiran ayat tertentu. Konflik ide ini membukakan pandangan kita terhadap hal-hal yang baru yang selama ini tidak kita lihat. Konflik ide membuat yang terlibat konflik menjadi lebih baik, selama konflik ide tidak menjadi konflik personal. Dalam hal ini, kedua pihak menghargai pandangan lawan konfliknya.
Konflik personal adalah ketika seseorang merasa diserang secara pribadi. Ini bisa benar-benar serangan karena pihak satunya tidak bijak berbicara atau memang sifatnya suka menyerang. Tapi bisa juga ini terjadi karena pihak yang merasa diserang memang gampang tersinggung, anggap diri hebat (ego) atau segala hal dijadikan pribadi. Contohnya: ketika idenya ditentang, dia langsung menganggap yang menentang berusaha menjatuhkan dia atau menganggap dia bodoh dll. Kalau sudah konflik pribadi, apapun yang disampaikan oleh pihak ‘sana’ akan dipermasalahkan. Konflik cenderung melebar.
Dalam hal ini, kedua pihak harus bersikap dewasa, mesti bisa dan mau melakukan introspeksi dan berubah.
Dua: konflik bermanfaat ketika kita melihat gambar besar (the big picture). Ketika Rasul Paulus ada dalam penjara, ternyata ada sesama hamba Tuhan (pengkhotbah) yang berupaya tambah menjatuhkan dia yang sudah jatuh.
Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik… tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. (Fil 1:15-17)
Bagaimana caranya menghadapi hamba Tuhan model seperti ini? Mereka bukan tipe yang bisa diajak berdamai dan berdiskusi baik-baik. Kata Rasul Paulus: Lihatlah gambar besarnya.
Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita, 19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus. 20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.
Gambar besar: Satu, yang penting bukan keadaan diriku, tapi Kristus diberitakan, sekalipun dengan niat jahat. Dua, yang penting adalah keselamatan. Soal orang berupaya membuat kita susah, jangan terlalu dipikirkan.
Tapi introspeksi diri: jangan sampai diri kita dipermalukan atau memalukan, tapi justru hidup dan mati kita memuliakan Tuhan.
Ada kalanya, dalam kasus konflik tertentu, kita harus bersikap seperti Tuhan Yesus: diam di depan para penuduh-Nya. Kasus seperti apa? Tanyalah kepada Tuhan kapan kita harus diam dan kapan kita harus berbicara.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT