Image Background
header
Umum KEROHANIAN TDK SEHAT
KEROHANIAN TDK SEHAT
KEROHANIAN YANG TIDAK SEHAT SECARA KEJIWAAN

Saudara tidak salah baca. Judul artikel ini memang aneh, diambil dari judul buku karangan Peter Scazzero: The Emotionally Healthy Spirituality. Dia menulis buku itu untuk menggambarkan pengalaman dirinya sendiri dan ribuan orang Kristen lain. Banyak orang Kristen terlihat baik-baik kerohaniannya tetapi, kalau diteliti, sebenarnya dari segi kejiwaan orang tersebut bermasalah.
Scazzero adalah gembala sidang dari gereja New Life Fellowship di New York, dengan jumlah jemaat lebih dari 18.000 orang. Sekalipun sekarang dianggap sukses, Scazzero sebenarnya dulu pernah mengalami masalah di awal pelayanannya. Istrinya minta berpisah dari dia, jemaatnya tetap bergumul dengan hidup lama mereka, dan dia sendiri berhadapan dengan masalah dalam kejiwaannya: rasa tidak percaya diri, rasa tidak aman, sering berbohong dll. Dia akhirnya dipulihkan oleh Tuhan melalui suatu proses panjang. Istrinya dan jemaatnya juga alami pemulihan.
Scazzero memberikan beberapa tanda orang yang kerohaniannya tidak sehat secara kejiwaan. Yang pertama dia sebut adalah:
 memakai Tuhan untuk lari dari Tuhan. Memakai Tuhan untuk lari dari Tuhan adalah upaya seseorang untuk lari dari pembentukan Tuhan dengan memakai nama Tuhan. Hal ini susah dideteksi. Tapi coba renungkan contoh ini: bukankah cara efektif untuk lolos dari pemeriksaan polisi adalah membawa-bawa nama polisi yang kita kenal? Ada orang yang membawa-bawa nama Tuhan supaya lolos dari pembentukan Tuhan yang Dia lakukan melalui orang-orang di sekitar kita.
Di permukaan orang demikian terlihat beres, baik-baik saja, tidak ada masalah. Orang begini rajin ikut seminar, banyak membaca buku dan sibuk dengan berbagai kegiatan rohani. Rajin baca Alkitab dan berdoa. Lalu apa yang salah? Bukankah semuanya ini yang kita semua kejar untuk dekat dengan Tuhan? Memang, semua ini adalah kegiatan yang SEHARUSNYA mendekatkan diri kita dengan Tuhan dan harus kita lakukan. Tetapi ada orang tertentu yang melakukannya HANYA SEKEDAR UNTUK MELARIKAN DIRI DARI LUKA BATIN, bukan untuk mengenal Tuhan. LARI KE TUHAN TAPI MENGHINDARI PEMBENTUKAN TUHAN. Inilah tipe orang yang kita bicarakan. Orang ini mengalami luka batin, lalu menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan rohani sebagai pelarian untuk menutupi lukanya, tanpa mencari kesembuhan untuk lukanya. Masalahnya adalah: luka itu memang jadinya tidak terlihat tapi juga tidak sembuh, masih ada dan akan terus mengganggu dia, entah dia sadar atau tidak.
Beberapa contoh yang diberikan Scazzero: memakai istilah-istilah rohani atau banyak mengutip ayat Firman Tuhan. Alkitab menjadi senjata, bukan untuk melawan kuasa kegelapan, tetapi untuk menghindar dari suatu ketidaknyamanan. Susah menerima teguran. Setiap konselor tahu bahwa tipe orang yang susah dikonseling adalah, antara lain, orang yang banyak tahu Alkitab.
 Membagi hidup menjadi sekuler dan rohani:
Kehidupan orang yang demikian dibagi menjadi dua, sehingga dia seperti memiliki dua kepribadian. Pada hari Minggu atau jam ibadah dia saleh sekali, tapi di luar jam ibadah dia menjadi sangar sekali.
 Hidup tanpa batas-batas:
Orang demikian tidak mengetahui batas-batas yang akan membuat dia lebih sukacita dan sehat. Waktunya diberikan semuanya, 24 jam sehari 7 hari seminggu, untuk kegiatan ‘pelayanan’. Akibatnya dia sendiri hancur karena lupa merawat diri sendiri, baik secara roh, jiwa maupun tubuh. Lupa untuk membina keluarga. Tuhan Yesus sendiri saja memasang batas-batas. Dia sering pergi sendirian dan tidak mau diganggu oleh pelayanan.
 Menutup-nutupi kehancuran, kelemahan dan kekurangan diri:
Orang yang kerohaniannya tidak sehat secara kejiwaan sangat menjaga citra. Kekurangannya tidak boleh diketahui orang lain. Kehancuran hidupnya adalah rahasia. Orang harus melihat dia sebagai orang yang sempurna.
 Menghakimi orang:
Orang yang kerohaniannya tidak sehat secara kejiwaan cenderung cepat sekali menghakimi orang lain. Dia bisa menemukan kelemahan orang lain, sementara kekurangan diri sendiri yang terang benderang sama sekali tidak terlihat.
Jadi apa yang harus kita perbuat untuk menghindari hal-hal ini?
Pertama-tama: memberi diri untuk ‘dibuka’ oleh Tuhan. Ini bisa berupa introspeksi diri dengan pertolongan Roh Kudus. Yang ini gampang-gampang susah. Soalnya sudah ada kecenderungan untuk membutakan diri terhadap kekurangan diri sendiri. Cara lain adalah Alkitab. Alkitab adalah cermin tempat kita bisa berkaca. Tuhan juga bisa memakai orang lain yang menunjukkan kekurangan kita.
Kedua: mengambil keputusan untuk berubah dengan pertolongan Tuhan. Setelah tahu kekurangan kita, janganlah kita berkata: “Memang saya satu keluarga sudah begitu semua, mau bagaimana lagi?”
Ketiga: lakukan langkah perubahan. Minta Tuhan memberi kekuatan kepada kita untuk berubah, lalu mulai ambil langkah perubahan pertama.
Apakah anda termasuk tipe ini atau bukan? Kalau bukan, terpujilah Tuhan! Diperlukan keberanian besar untuk kita bisa introspeksi dan berkata: “Itu saya.” Kesembuhan dimulai dari situ.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT