Image Background
header
Umum L  E  M  B  U  T
L E M B U T
Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata. (Am 30:10)
Am 31:10 berbicara tentang satu wanita yang luar biasa atau “cakap”, dari bahasa Ibrani: hayil. Artinya adalah: dapat diandalkan, serba bisa. Memang dari konteks Am 31, terjemahan ini benar. Tetapi, kata ‘hayil’ ini di Rut 3:11 diterjemahkan berbeda: …perempuan baik-baik. Terjemahan Am 31:10 dalam 3 versi bahasa Inggris memakai istilah ini: nobel/strong character atau ‘karakter mulia/kuat’. Dari sini kita bisa tahu karakter adalah penting untuk kelangsungan satu rumah tangga. Kata Tuhan Yesus di Mat 19:8: Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.
Banyak masalah muncul dalam rumah tangga karena kekerasan hati. Maka dalam rumah tangga, kita perlu mengembangkan lawan dari hati keras, yaitu hati lembut, atau istilah lain ‘lemah-lembut’.
Kata ‘lemah lembut’ sering disalah-artikan, karena adanya kata ‘lemah’ di depannya. Ini dianggap sesuatu yang tidak baik, kalah. Padahal kelemah-lembutan yang dimaksud oleh kata ‘praeis’ adalah: kekuatan yang terkendali. Jadi, kelihatan lembut tetapi sebenarnya menyimpan kekuatan besar. Hanya saja kekuatan itu tidak ditonjolkan dan hanya dipakai ketika keadaan membutuhkan. Kristus menyatakan dirinya ‘lemah lembut’ di Mat 11:29.

8 hal yang harus dilakukan untuk memiliki hati yang lembut:
1. PANJATKAN DOA minta Tuhan berikan kelembutan hati: doa ini penting, karena ini menunjukkan niat untuk berubah dan diubahkan. Tuhan bukan tidak bisa memaksa kita berubah, tapi Dia menghormati pilihan kita karena Dia mengasihi kita. Begitu kita berdoa demikian, maka Tuhan akan bekerja dan memakai berbagai orang dan situasi kehidupan untuk ‘memaksa’ kita berubah dan menjadi lembut hati.
2. DOAKAN PASANGANMU: kita tidak berhak mengubahkan seseorang atau mengkritik seseorang sebelum kita mendoakan dia. Mendoakan seseorang menunjukkan tanda mulai munculnya kelembutan hati. Karena berdoa adalah menyerahkan suatu situasi atau seseorang ke dalam tangan Tuhan, bukan ke dalam tangan sendiri menurut mau sendiri.
3. UBAH CARA PANDANG: pasanganmu itu siapa dan apa? Beban atau berkat? Pasanganmu (atau orang tuamu, bahkan anak-anakmu) harus dilihat sebagai ALAT TUHAN untuk membentuk karaktermu, bukan sebaliknya (saya adalah alat Tuhan untuk membentuk karakter dia). Jangan juga melihat pasangan sebagai beban (istilah rohaninya: salib yang harus dipikul)
4. BUANG GENGSI DAN KESOMBONGAN: Buang gengsi dan arogansi/kesombongan, terutama bagi pria. Belajar rendahkan hati. Terlalu lama kita merasa laki-laki harus ‘macho’, ‘keras’, ‘ga boleh cengeng’; akhirnya citra itu terbentuk dan kita merasa kita harus jaga citra sebagai laki-laki itu; kita jadi terperangkap dalam satu gengsi dan kesombongan yang menjadi tanda kita ini keras hati. Minta maaf kalau salah, itu baru laki-laki.
5. BELAJAR MENGALAH: saya berubah dulu, bukan berharap orang lain berubah dulu. Orang yang lembut hati tidak menuntut, tetapi memutuskan untuk mendahului. Suami tidak menuntut istri tunduk dulu, tetapi dia mulai dengan mengasihi dulu. Begitu juga sebaliknya. Saya melihat ke diri saya dan bertanya: apa yang perlu saya ubah dalam diri saya?
6. BANYAK BERSYUKUR: kurangi mengeluh. Melihat kekurangan itu tidak susah. Bersyukur untuk pasanganmu: belajar lihat kebaikannya dan positifnya. Pasanganmu bukan beban yang harus kamu pikul, tapi seseorang yang Tuhan pasangkan dan berperan dalam keberhasilan hidupmu.
7. MILIKI BELAS KASIHAN: bukan mengasihani, tapi punya belas kasihan/empati pada pasangan, bisa memahami dan melihat pergumulan pasanganmu.
8. PRAKTEKKAN PENGAMPUNAN: Kadang keras hati bisa muncul karena terluka. Kita jadi orang yang melawan karena sakit hati. Belajarlah mengampuni pasanganmu.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT