Image Background
header
Umum LOKAL TAPI GLOBAL
LOKAL TAPI GLOBAL
Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:18-20)

Ketika Tuhan kita menyelesaikan tugas penjelmaan-Nya di muka bumi, Dia kembali ke sorga. Tapi tugas-Nya jelas belum selesai. Lalu siapa yang dia andalkan untuk meneruskan tugas-Nya ini? Ternyata bukan malaikat, tetapi sekelompok orang-orang tak dikenal dari Galilea. Dari kelompok kecil tersebut kemudian muncul yang namanya gereja. Kata ‘gereja’ artinya kelompok orang yang dipanggil. Kelompok kecil ini kemudian menggegerkan dunia, bahkan menjungkirbalikkan dunia.
Gereja adalah saudara dan saya, bukan gedung dan bukan organisasi. Dan adalah takdir kita untuk mengubahkan dunia. Itulah yang namanya gereja yang berdampak. Kehadiran gereja harus membawa suatu dampak atau pengaruh, apapun ukuran atau bentuk pengaruh itu (Mat 5:13-16). Gereja yang tak berdampak bukanlah gereja tetapi klub.
GBI Putera bukanlah klub. Kita adalah gereja. Ukuran gereja tidak selalu sama dengan dampaknya. Gereja bisa saja kecil dari segi jumlah jemaat tetapi berdampak besar. Atau sebaliknya, gereja bisa besar tetapi berdampak kecil. Visi GBI Putera adalah: Gereja lokal berdampak global. GBI Putera berkeinginan untuk menjadi satu gereja lokal yang mempunyai dampak global atau sampai ke ujung bumi, seperti amanat Tuhan Yesus di Mat 20:19-20 dan di Kis 1:8: “jadikanlah semua bangsa murid-Ku”; "menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Jadi, kalau kita berbicara dampak secara global, kita bukan katak yang merindukan bulan. Tuhan kita sendiri memberikan amanat-Nya untuk gereja menjangkau seluruh dunia. Hanya saja, dalam mencapai dampak itu, kita bekerja sama dengan anggota Tubuh Kristus (Gereja secara global/universal) yang lain. Kita tidak bermimpi melakukannya sendiri.
Dampak ini arahnya global tetapi tetap dimulai dari lokal. Gereja harus pertama-tama berdampak kepada anggota jemaat (kata ‘gereja’ dan ‘jemaat’ memiliki arti yang sama; hanya saja ‘gereja’ berasal dari bahasa Portugis, kata ‘jemaat’ berasal dari bahasa Arab). Orang yang hadir beribadah di GBI Putera haruslah merasakan suatu perubahan yang baik dalam hidupnya semenjak mereka beribadah di sini. Perubahan ini bisa terjadi dalam berbagai bentuk: rumah tangga yang berubah; karakter yang berubah; hidup yang berubah dan lain lain.
Setelah mengalami perubahan, anggota jemaat harus memberikan dirinya untuk Tuhan pakai. Mungkin yang dipakai adalah waktunya, bakat/talentanya, tenaganya, atau hartanya atau yang lain. Dari situ, dampak gereja akan semakin membesar ke mana-mana. Itulah yang harus terjadi.
Jadi, gereja kita ini harus menjadi gereja yang berdampak. Dan supaya itu boleh terjadi, kita semua harus mau dipakai Tuhan.
Kita harus bertumbuh dalam cara kita memandang diri kita dan Tuhan. Ada tiga level pertumbuhan yang harus kita capai:
KONSUMEN: Orang yang punya sikap konsumen datang karena ingin mendapat sesuatu. Apakah ini salah? Tidak juga. Semua kita memang perlu sesuatu dari Tuhan.
Semua kita mulai dari level ini. Ini level yang harus kita jalani. Ini level yang naluriah dan manusiawi. Dan sampai kapanpun, semua kita perlu berkat Tuhan. Jadi sikap ini tidak salah dan harus dipertahankan, asal kita tahu bahwa sikap ini berpotensi membawa kekecewaan: Seseorang menjadi kritis, gampang kecewa dan menuntut untuk dipuaskan (bayi yang rewel). Perubahan hidup belum terjadi pada level ini, tapi pada level berikut.
KONTRIBUTOR: Di level ini perubahan mulai terjadi: kita mulai memperhatikan orang lain, kita mulai mendoakan orang lain, kita mulai memberkati orang lain. Kita datang tidak lagi fokus kepada kebutuhan kita. Di sini kita mulai bertanya: Apa yang bisa aku beri? Kepada siapa aku memberi? Tetapi fokus masih di aku dan kekuatanku.
Kontributor tidak mencari posisi, tetapi mencari peluang untuk menjadi berkat. Dia siap untuk berkorban melalui berkat Tuhan yang dia terima, baik itu berupa doa, daya maupun dana.
Masalah dengan sikap ini: Bisa ada agenda pribadi. Dia hanya mau memberi ke orang ini; atau ke bagian itu atau ke proyek yang begini.
KOLABORATOR: pada level ini seorang anggota jemaat menjadi alat Tuhan dengan menjawab pertanyaan ini: Apa yang Tuhan mau dari hidupku? Apa yang menyenangkan hati Tuhan? Di sini fokusnya bukan lagi ‘aku’ tapi TUHAN. Dia melakukan kerja sama atau kolaborasi dengan Tuhan.
Karena kami adalah kawan sekerja Allah;… (1 Kor 3:9)
Agenda pribadi, proyek pribadi, kepentingan pribadi mati atau dimatikan pada level ini. Kehendak Tuhan, agenda Tuhan, hati Tuhan yang menjadi kompas. Di sini, doa menjadi penting. Seorang kolaborator adalah seorang pendoa. Tanpa doa, kita tidak mungkin masuk pada level kolaborasi dengan Dia. Melalui doa, kita mencari kehendak Tuhan dan agenda Tuhan.
Jemaat GBI Putera, gereja kita harus menjadi berkat bagi dunia. Dan kita harus menjadi kawan sekerja Allah. Tetapi kita perlu berkorban. Kita perlu mengorbankan kenyamanan hidup kita, keakuan/egoisme kita, harga diri kita dll. Siapakah sdr untuk hal ini?
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT