Image Background
header
Umum L U K A
L U K A
25 …Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
26 … Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!" 27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku… (Yoh 20:25-27)

Ada yang mau check-up kesehatan gratis? Cuma, tempatnya jauh sekali.
Laut Mati, di perbatasan antara negara Israel dan Yordania, adalah fenomena alam yang sangat menarik sekali. Air di danau tersebut mengandung kadar garam yang sangat tinggi, hampir 10 kali lebih asin daripada air laut. Kadar garam yang tinggi ini bagus sekali kalau saudara mau check up untuk mengetahui apakah di badan saudara ada luka atau tidak.
Satu hal yang perlu kita ketahui adalah bahwa di kulit kita sering kali ada luka yang tersembunyi karena ukurannya yang kecil atau letaknya di bagian tubuh yang tidak terlihat oleh mata kita. Begitu kita mencelupkan badan kita ke air di Laut Mati, air garam tersebut akan terkena ke bagian yang luka dan akan menyebabkan rasa perih. Tidak percaya? Cobalah bercukur dan kemudian berendam di Laut Mati atau air garam di manapun.
Jadi, rasa sakit sering kali menjadi penanda, indikator, alarm akan adanya luka di badan kita.
Bukan hanya di luka badan kita, luka di jiwa pun demikian. Seperti badan bisa terluka, demikian pula jiwa kita bisa juga terluka.
Dan boleh jadi, ada luka-luka di jiwa kita yang tersembunyi tetapi perlu disembuhkan. Bagaimana kita tahu dia ada? Ketika kita mengingat satu peristiwa dan kita merasakan sakit. Air mata, rasa marah, ketakutan, sering kali menjadi tanda-tanda kita merasakan luka.
Beberapa luka jiwa bisa sembuh sendiri, beberapa yang lain memerlukan pengobatan secara serius.
Semua luka harus sembuh tetapi tidak semua bekas luka harus hilang.
Yesus bangkit dari kematian dan menampakkan diri kepada beberapa dari murid-murid-Nya. Salah satu murid, Tomas, tidak percaya akan hal ini dan menuntut bukti berupa luka di badan Yesus. Jadi, Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan menawarkan kesempatan kepada Tomas untuk merasakan lukanya.
Cerita ini membangkitkan rasa penasaran. Apakah orang yang meninggal dalam keadaan cacat akan bangkit dalam keadaan cacat juga? Hilang satu tangan di dunia berarti hilang satu tangan di surga juga? Bukankah surga tempat kesempurnaan?
Saya meyakini bahwa Yesus berbeda dengan kita dalam hal ini. Luka yang Dia alami adalah luka yang unik, tidak ada duanya di dunia ini. Luka itu menjadi penanda siapa Yesus itu. Dialah Juru Selamat satu-satunya. Luka itu yang membedakan Dia dengan yang lain: Juru Selamat yang mati di kayu salib dan yang bangkit kembali pada hari yang ke tiga. Karena itu, luka itu tetap ada. Bukan karena luka itu tidak bisa hilang, tetapi memang sengaja dibiarkan tetap ada sebagai penanda. Akankah Tomas percaya kalau Yesus muncul dengan tubuh tanpa luka? Mungkin tidak.
Saya percaya bekas luka memiliki kegunaan. Dia sering berfungsi sebagai pengingat. Bekas luka di siku kita atau di kaki kita bisa menjadi pengingat kita untuk berhati-hati. Begitu juga bekas luka di jiwa kita. Sering kali seseorang menjadi lebih bijak karena adanya suatu pengalaman traumatis yang menyakitkan di masa lalu. Pernah sakit hati ditinggal pacar? Pernah ditipu orang? Pernah dicacimaki tanpa tahu salah apa? Semua itu adalah peristiwa di masa lalu yang membekas.
Tempatkanlah semua itu di tempat yang seharusnya, yaitu di masa lalu. Ucapkanlah ‘good-bye’ atas semua peristiwa itu, sekalipun peristiwa itu membekas.
Ampunilah orang yang bersalah. Jadikanlah ‘luka’ menjadi ‘bekas luka’.
Akhir kata, hargailah bekas luka saudara, baik di badan maupun di jiwa. Semua itu adalah pengingat:
1. bahwa kita hidup di dunia yang tidak sempurna.
2. supaya kita belajar untuk tidak terpaku pada dunia ini, tetapi juga memikirkan surga dan kekekalan.
3. supaya kita semua menjadi lebih baik, lebih hati-hati, lebih bijak, lebih pengertian dan lebih bersyukur.

Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT