Image Background
header
Umum L U P A
L U P A
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. – Fil 3:13-14

Minggu lalu saya melayani di Christ Cathedral (GBI Basilea) di Gading Serpong. Ini kali kedua saya melayani kebaktian hari Minggu di sana. Seperti kali yang pertama, kali ini terjadi lagi hal yang sama: saya lupa bahwa gereja ini sudah pindah. Jadi saya pergi ke alamat gereja lamanya di Karawaci… padahal mereka sudah pindah tempat 6 tahun yang lalu.
Saya tidak tahu berapa dari saudara yang merasa atau mengaku sudah pelupa. Saya sendiri lupa apakah saya pelupa atau tidak…he..he..he.. Tapi separah-parahnya kita, rasanya belum separah seorang bapak yang pulang mudik naik sepeda motor di Lebaran yang lalu. Dia mudik bersama istrinya. Mereka berhenti untuk istirahat. Setelah itu, si bapak naik motor dan berangkat, meninggalkan istrinya di tempat istirahat itu. Dia lupa bahwa dia membawa istri!
Cerita orang lupa dari hotel: seorang pengusaha lupa akan mamanya yang dia tinggalkan di hotel. Di hotel Fairmont di Kanada, seorang tamu hotel ketinggalan kaki palsunya di kamar. Di hotel di Miami, seorang hamba Tuhan lupa membawa pulang uang pelayanan misi sebesar US$ 6.000,-. Puji Tuhan petugas kebersihan jujur dan mengembalikan uang tersebut.
Kalau saya ditanya apakah saya orangnya pelupa, jawaban saya adalah: saya suka lupa kalau saya hutang sama orang. Kalau dihutangi, saya ingat terus…
Lupa beda dengan melupakan.
Lupa itu tidak sengaja: ada hal tertentu yang harusnya diingat malah lupa.
Melupakan adalah sengaja, berusaha supaya lupa. Ada hal tertentu yang kita usahakan supaya bisa dilupakan (tapi teringat terus).
Jadi lucu manusia ini: yang harusnya diingat dia lupa, yang harusnya dia lupa, dia ingat-ingat terus…
Paulus berkata di Filipi yang kita kutip di atas bahwa: aku melupakan apa yang telah di belakangku. Ada hal-hal tertentu dalam hidup ini yang harus kita lupakan. Hal apa itu? Hal-hal yang menghambat kita untuk mengikut Tuhan. Apa saja wujudnya?
1. Hal-hal tentang latar belakang seseorang. Paulus berkata di pasal yang sama, ayat 4-5: “Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli,”. Bagi orang-orang tertentu, latar belakang dan status sangat mereka pentingkan dan banggakan. Kalau hal itu menghalangi kita ikut Tuhan, itu harus dilupakan.
2. Kepercayaan yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Di Fil 3:5 bagian ke dua: “tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,”. Farisi adalah satu kelompok rohani di Israel jaman dulu. Mereka orang-orang yang bangga dengan ajaran mereka dari hukum Taurat (sekalipun penafsiran mereka juga banyak ngawurnya, seperti ditunjukkan oleh Yesus Kristus). Kita harus tinggalkan hal ini di belakang.
3. Kesalahan di masa lalu. Seperti dikatakan oleh Paulus di ayat 6: “tentang kegiatan aku penganiaya jemaat,”. Kesalahan masa lalu sering membuat seseorang ‘macet’ dalam mengikuti Tuhan. Kemajuan terhalang karena ada suara yang selalu mengingatkan kita akan kesalahan kita. Kita harus melupakan hal ini juga.
4. Kebanggaan masa lalu. Paulus berkata di ayat 6 juga: tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat. Dalam pandangan manusia, Paulus ini orang hebat. Soal kesalehan mentaati hukum Taurat, dia tidak ada bandingannya. Kebanggaan ini harus dimatikan kalau kita ingin mengikuti Tuhan.
Perhatikan: melupakan bukan berarti menghapus memori. Paulus berkata bahwa dia melupakan apa yang ada di belakang, tapi dia masih berbicara tentang masa lalunya. Jadi maksud dari ‘melupakan’ adalah: memorinya masih ada, masih bisa ingat kejadiannya, tapi dia sudah tidak menguasai kita lagi. Kita taruhkan semua hal ini di tempat yang seharusnya, yaitu di masa lalu.
Sudahkah saudara melupakan?
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT