Image Background
header
Umum LIHAT
LIHAT
3) Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi. (5) Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceriterakan. – Habakuk 1:3,5

Pada jaman kapal uap masih melayari sungai Missisipi di Amerika Serikat, ada dua kapal yang berlayar menuju ke satu kota yang sama. Dari saling sindir antar awak kapal, ke dua kapten kapal akhirnya jadi ikut panas dan mulai saling salip. Akhirnya ke dua kapal itu sepakat berlomba sampai ke kota tujuan. Di kapal pertama, para awak menemukan bahwa mereka kekurangan bahan bakar. Kalau mereka membakar barang muatan mereka, kapal mereka bisa berlayar lebih cepat. Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadikan muatan mereka sebagai bahan bakar. Mereka memenangkan perlombaan tidak resmi itu, tetapi kapal rugi besar karena harus mengganti muatan yang mereka bakar.
Ini adalah contoh orang yang terbakar emosi, kehilangan akal sehat, dan melakukan hal-hal yang dalam jangka pendek adalah bagus tetapi belakangan menjadi masalah. Dan ini adalah kecenderungan manusia. Kita sering kali kurang berpikir jangka panjang. Solusi yang kita temukan ternyata membawa masalah besar di belakang.
Menabung adalah contoh orang yang berpikiran jangka panjang. Yang berpikiran pendek berkata begini, “Belum tentu nanti saya bisa menikmati uang ini. Lebih baik sekarang saya pakai saja.”
Habakuk mencatat percakapannya dengan Tuhan Allah. Dari percakapan yang kita kutip di atas ini, kita bisa melihat perbedaan cara pandang manusia dan cara pandang Tuhan.
Perhatikan kata ‘lihat’ yang muncul di ayat 3 dan 5. Di ayat 3 Habakuk mengatakan bahwa dia diperlihatkan, artinya dia sudah melihat. Tetapi di ayat 5 dia disuruh oleh Tuhan untuk melihat. Loh, bukankah Habakuk sudah melihat, kenapa disuruh melihat lagi?
Karena melihat di ayat 3 berbeda dengan melihat di ayat 5.
Melihat di ayat 3 adalah melihat yang pendek, sempit, lokal, yaitu melihat dari sudut pandang bumi atau manusia.
Melihat di ayat 5 adalah melihat yang panjang, luas, global, yaitu melihat dari sudut pandang surga atau Tuhan.
Habakuk melihat kehancuran moral bangsanya. Yang tidak dia lihat adalah jalan keluar. Segala sesuatu buntu. Apa yang harus dilakukan untuk membereskan hal ini?
Tuhan menyuruh dia mengubah sudut pandangnya, dan melihat lebih tinggi dan luas. Jauh dari pandangan Habakuk, ada satu bangsa yang sedang Tuhan bangkitkan. Bangsa ini, Kasdim atau Babilonia, akan Tuhan pakai untuk melakukan pemberesan itu. Babilonia jaraknya lebih dari 800 kilometer dari Israel. Habakuk tidak cukup punya kemampuan untuk melihat sejauh itu.
Habakuk terkejut mendengar akan penjelasan Tuhan bahwa bangsa Kasdim ini kuat, tapi sekaligus ganas dan tidak bisa dilawan (Hab 1:6-11). Maka Habakuk protes. Kenapa Tuhan memakai orang jahat untuk menghukum orang baik (ayat 13)? Apa tidak ada lagi yang bisa dipakai oleh Tuhan? Tetapi Tuhan melihat dari sudut pandang yang berbeda.
Tuhan melihat jauh ke depan, sampai kepada kesudahan segala sesuatu. Kita hanya bisa melihat sampai detik ini saja, saat ini. Kita bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi 1 jam dari sekarang. Kita bisa mengira-ngira, tapi tidak bisa memastikan.
Tuhan melihat lebih luas, melebihi ujung bumi. Banyak hal ada di luar jangkauan penglihatan kita. Kita bahkan hanya bisa melihat beberapa ratus meter ke depan saja.
Oleh karena itu, marilah kita belajar percaya akan hikmat Tuhan. Bahwa apa yang tertulis dalam Firman-Nya barangkali tidak masuk akal, atau susah dipercaya. Tetapi dalam jangka panjang, kita akan melihat bahwa semua itu benar adanya.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT