Image Background
header
Umum M  A  K  L  U  M
M A K L U M
Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34)

Penulis buku terkenal, Stephen Covey, suatu Minggu pagi naik kereta api di kota New York. Di sebelah beliau duduk satu bapak yang membawa dua anak kecil. Kedua anak ini lari-lari dan berteriak-teriak di dalam kereta, mengganggu orang lain, sedangkan sang bapak duduk lemas sambil menutup mata. Terasa sekali sang bapak ini tidak berupaya menertibkan anaknya.
Covey mulai merasa jengkel terhadap bapak dan anak-anak ini. Dia berbicara kepada sang bapak, “Pak, anak bapak mengganggu orang-orang. Apa bapak tidak bisa kontrol sedikit anak bapak?” Sang bapak membuka mata, melihat ke kedua anaknya, lalu berkata begini kepada Covey, “Ya, anda benar. Saya mestinya tertibkan mereka. Kami baru pulang dari rumah sakit di mana mama mereka barusan meninggal. Saya lagi pusing, mungkin mereka juga bingung, yah…namanya anak kecil.”
Mendadak Steven Covey jadi maklum dengan diamnya bapak itu. Jengkelnya hilang.
Maklum adalah cara untuk memahami dan berempati dengan orang, terutama dalam hal kegagalan atau kesalahan seseorang.
Tuhan Yesus sedang tergantung di kayu salib. Darah segar terus mengalir dari luka di punggung-Nya dan kepala-Nya yang terkena duri-duri tajam. Nafasnya sudah kepayahan. Terjangan rasa sakit terus mendera di seluruh badan-Nya yang penuh luka. Beberapa jam kemudian Dia mati. Tetapi dalam keadaan separah itu, Dia mengampuni dan memaklumi tindakan orang-orang yang membuat Dia begitu menderita.
“…sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Itu alasan yang dipakai Yesus untuk mengampuni dan memaklumi.
Lawan dari maklum adalah maksa alias ‘kagak mau tahu’ (KMT). Orang-orang KMT memiliki alasan yang bagus kenapa mereka tidak mau maklum. Mereka beranggapan bahwa ada bahaya dalam maklum. Maklum adalah tindakan toleransi yang tidak boleh ditoleriri. Orang harus ditolelot alias dikasih peringatan, bukan ditolerir. Maklum adalah pembiaran yang kebablasan. Orang tidak bisa berubah kalau dimaklumi terus.
Memang pemakluman bisa disalahgunakan. Sudah bolak balik salah/gagal masih minta maklum terus, tapi tidak mau berubah. Kayak pemborong rumah telat terus, mundur terus tapi minta dimaklumi karena, alasannya, kekurangan tenaga. Coba diancam akan dilaporkan ke FPI alias Forum Pemborong Insyaf, langsung jadi cepat kerjanya.
Tapi jangan karena itu kita lalu tidak mau maklum. Itu seperti pasar yang ada tikusnya. Apa kita lalu tutup pasar itu karena ada tikusnya? Kan tidak. Singkirkan saja tikusnya, tapi pasar jalan terus.
Orang KMT adalah orang-orang yang tega, tegas sekaligus tegang. Mereka tega karena mereka tidak mau tahu kesulitan orang. Mereka tegas karena mereka tidak kompromi. Tapi mereka juga tegang karena harus terus berjaga-jaga terhadap kesalahan orang. Hidupnya jadi capek…
Kalau Tuhan Yesus saja bisa maklum, kenapa kita tidak bisa? Bahkan bukan hanya Tuhan Yesus saja yang maklum, Bapa di surga pun demikian.
14 Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu. (Why 103:14)
Konteks dari Mazmur 103 juga mirip dengan Luk 23: pengampunan. Dari maklum illahi itu, mengalirlah kasih karunia atau anugerah. Kasih karunia adalah suatu kebaikan yang sebenarnya tidak layak kita terima tapi tetap diberikan kepada kita. Jadi kasih karunia bukan berbicara tentang kebaikan penerima, tapi kebaikan Sang Pemberi. Kalau Allah tidak maklum dengan keadaan kita, maka Dia akan menuntut dari kita. Semua kita tidak akan bisa memenuhi tuntutan Allah.
Tapi maklum harus ada batasnya. Paling tidak ada dua:
Pertama: terhadap dosa (bukan terhadap orang berdosa). Tidak ada kompromi soal dosa. Dosa harus dilenyapkan dari hidup orang percaya.
tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu. (Yes 59:2)
Dua: terhadap orang yang menyalahgunakan kemakluman Allah. Hal ini mengalir dari yang pertama.
Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (Gal 6:7)
Allah kita memang panjang sabar dan memahami keadaan kita alias maklum, tapi janganlah maklum-Nya itu kita permainkan dan salahgunakan.
Marilah kita memeriksa hidup kita supaya kita jangan salah di hadapan Tuhan.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT