Image Background
header
Umum  M   A   L   U
M A L U
Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.
Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.
1 Tim 1:8, 12
Malu itu manusiawi… siapa yang tidak pernah mengalaminya? Seorang hamba Tuhan sedang berkhotbah ketika mendadak dia sakit perut luar biasa. Tanpa sopan santun, tanpa permisi, dia lari dari mimbar secepat kilat menuju toilet, dan untung, masih ada untungnya, dia tahu persis lokasi toilet. Dan untuuunngg, dia tiba di toilet pas pas pas… Kacaulah kebaktian hari itu. Hamba Tuhan itu adalah saya sendiri. Malunyaaa… Padahal itu tidak perlu malu sih sebenarnya… mencret bisa terjadi kapan saja, dimana saja.
Malu bisa muncul karena hal seperti ketahuan makan padahal mengaku puasa. Yang ini perlu malu.
Malu bisa terjadi karena dipermalukan. Seperti cerita tentang wanita yang ketangkap basah berselingkuh di Injil Yohanes pasal 8. Yang wanita diarak di jalan, yang pria dilepas. Yang ini bisa menimbulkan trauma, sekalipun perbuatannya adalah dosa.
Tapi orang bisa malu karena hal yang sebenarnya tidak usah malu. Ini yang ingin dijauhkan oleh Paulus dari anak rohaninya, Timotius. Timotius adalah satu anak muda yang cinta Tuhan, tetapi memiliki fisik tidak terlalu kuat dan percernaannya sering terganggu (1 Tim 5:23). Barangkali juga dia seseorang yang memiliki kepribadian lembut, kurang tegas, sehingga Paulus beberapa kali harus menguatkan dia, termasuk di bagian yang kita kutip di atas.
Perkataan Paulus ini penting. Orang yang menderita bisa merasa malu. Penderitaan dianggap sebagai sesuatu hal yang tabu dan harus dihindari dalam hidup manusia. Penderitaan sering dianggap sebagai tanda kekalahan dan kegagalan.
Orang yang malu adalah orang lumpuh. Dia akan bersembunyi, tidak berani tampil, tidak berani mencoba dan tidak akan bisa berbuat apa-apa. Perasaan malu menghalangi dia, menghancurkan semua potensi sebesar apapun dalam hidupnya.
Orang boleh memiliki suara emas sehebat gabungan Whitney Houston dan Celine Dion. Tapi kalau tiap kali maju ke panggung dia gemetaran karena dicekam rasa malu, yah… talenta hebat itu tidak ada gunanya. Makanya beberapa orang mengatakan bahwa syarat untuk maju adalah harus memiliki kulit badak alias tidak tahu malu.
Tiga kali Paulus menekankan soal jangan malu. Dua kali di ayat 8, dan satu kali di ayat 12 (dalam bahasa Ibrani, memang di ayat 8 kata ‘malu’ hanya muncul 1 kali, tetapi obyek dari ‘jangan malu’ ada dua, sehingga bisa dikatakan bahwa dia berbicara ‘jangan malu’ dua kali.) Ketika menulis surat kepada Timotius, Paulus sedang ada di penjara. Beberapa orang akan malu sekali dengan hal ini. Tetapi Paulus tidak demikian. Apa rahasianya?
Pertama: Paulus tahu kepada siapa dia percaya. Dia mengenal pribadi yang dia percayai. Ini adalah prinsip yang berlaku di mana-mana, baik itu dunia olah raga, politik, ekonomi dll. Kalau kita ingin percaya kepada seseorang, kita harus mengenal dia.
Di jaman medsos sekarang ini, apa yang kita lihat belum tentu adalah realita. Jangan terlalu gampang percaya. Contoh: ada seorang wanita yang jatuh cinta kepada seorang pria melalui Facebook. Sang pria mengaku tinggal di kota besar di Amerika Serikat, tampangnya ganteng luar biasa, memiliki rumah bagus, mobil mewah. Dan pria itu mengaku tergila-gila pada wanita ini (yang penampilannya biasa-biasa saja), ingin segera menikah dan membawa si wanita ke Amerika. Yang wanita langsung klepek klepek… Tidak pernah mengecek apakah benar tampangnya ganteng begitu, apakah itu memang rumah dan mobilnya. Akhirnya mereka pacaran jarak jauh via FB. Lalu si pria meminta kiriman uang. Uang ratusan juta dikirim dan si pria menghilang. Cerita klasik. Foto bertampang ganteng, foto mobil mewah dan rumah mewah bisa didapat dengan gampang di internet. Tinggal pasang di FB dan tunggu mangsa.
Siapakah pribadi yang dipercayai oleh Paulus? Namanya Yesus Kristus, Juru Selamat dunia. Yesus berkata: Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan. Perkataan ini tidak berani diucapkan oleh siapapun juga, selain oleh Yesus. Dia adalah kebenaran. Di dalam Dia tidak ada tipuan atau kebohongan. Dia 1000% bisa dipercaya. Ini dibuktikan oleh kematian-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati yang Dia sendiri janjikan.
Paulus sendiri berjumpa dengan Yesus yang dia anggap sudah mati. Maka dengan bekal pengetahuan akan karakter Yesus itu, Paulus tidak malu dengan penderitaannya.
Kedua: Paulus percaya bahwa Yesus berkuasa memelihara apa yang Yesus sudah percayakan kepada dia. Jadi, andalan Paulus bukan kepintaran, koneksi atau kekuatannya sendiri. Kepintaran manusia, koneksi manusia, kekuatan manusia, semuanya ada batas. Andalannya adalah Yesus, yang tanpa batas. Hal ini membuat dia mantap dan tidak malu menghadapi penjaranya.
Apakah saudara sedang terpenjara? Apakah ada hal tertentu dalam hidupmu yang membuat engkau malu selama ini? Kemiskinan, penderitaan, penyakit, orang tua, saudara atau hal lain? Selama itu bukan dosa, jangan malu. Andalkan Yesus.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT