Image Background
header
Umum M  A  R  A  H   (2)
M A R A H (2)
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. (Ef 4:26-27)

Bolehkah orang Kristen marah?
Dari tulisan Rasul Paulus yang dikutip di atas, jelas orang Kristen boleh marah. Marah bisa berlanjut ke dosa, tapi marah sendiri belum tentu dosa. Bahkan menurut saya, dalam beberapa hal kita perlu marah dan harus marah.
Kita tidak perlu marah ketika Tuhan kita dihina. Dia tidak perlu dibela.
Kita harus marah ketika melihat penindasan terhadap kaum yang lemah: wanita, anak-anak, kaum papa.
Kita perlu marah ketika melihat kehidupan orang-orang yang hidupnya hancur-hancuran dirusak oleh kuasa kegelapan melalui narkoba atau tindakan dosa lain.
Hanya saja, kita perlu marah kepada pihak yang tepat. Jangan marah kepada orang-orangnya yang hidupnya hancur, tapi marahlah kepada setan yang menghancurkan hidup mereka.
Marah belum tentu dosa, tetapi bisa berlanjut ke dosa karena dua hal:
Satu: marah yang lama; istilah Paulus adalah ‘janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu’. Menurut saya itu artinya janganlah marah dibawa sampai ke esok hari, apalagi tahun depan. Marah hari ini diselesaikan hari ini.
Beberapa orang menyimpan kemarahan sampai lama. Tindakan ini merusak tubuh, jiwa dan roh. Badan jadi sakit-sakitan; hati dan pikiran tidak tenang, tidak ada sukacita, tidak ada damai; doa terganggu, hubungan dengan Tuhan terganggu.
Kata Tuhan Yesus, lanjutan dari soal kemarahan yang kita kutip di atas, kemarahan harus diselesaikan segera bahkan, kalau perlu, kebaktian ditinggal untuk membereskan hal ini.
23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. (Mat 5:23-24)
Kemarahan diselesaikan dengan mengambil inisiatif mendatangi orang yang menyebabkan kemarahan untuk membereskan masalah yang terjadi, bukan menunggu dia datang.
Seseorang perlu datang dengan kerendahan hati: dia datang untuk minta maaf kalau dia salah.
Seseorang perlu datang dengan damai: dia sudah membuang kemarahannya SEBELUM dia datang. Dia sudah mengampuni orang yang menyakiti dia itu.
Bagaimana kalau yang satunya tidak mau baikan? Kalau demikian berlakulah petunjuk Rasul Paulus di Roma 12:18:
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!
‘Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu,…’ kalau kita sudah mendatangi dia untuk mengupayakan perdamaian, berarti sekarang bergantung kepada dia, bukan lagi kepada kita untuk perdamaian terjadi. Dalam hal ini, kalau perdamaian tidak terjadi, kita sudah tidak salah di hadapan Tuhan.
Dua: memberi kesempatan kepada Iblis. Hati-hati: Iblis bisa bekerja jauh lebih leluasa dalam diri orang marah daripada orang yang tidak marah. Marah, kalau tidak dikendalikan, membuat pikiran kita penuh dengan hal-hal negatif. Memori lama yang pahit muncul lagi. Marah, kalau tidak dikendalikan, membuat hati atau perasaan kita terbakar. Marah bisa membuat orang merusak barang, melukai orang bahkan membunuh orang. Kalau sudah begitu, Iblis yang bekerja. Dia mendapatkan kesempatan untuk merusak melalui kemarahan yang tak terkendali.
Nehemia melihat ketidakadilan yang terjadi di Yerusalem. Dia marah sekali.
6 Maka sangat marahlah aku, ketika kudengar keluhan mereka dan berita-berita itu. (Neh 5:6)
Tapi dia tidak menuruti emosinya. Ini yang dia lakukan:
7 Setelah berpikir masak-masak, aku menggugat para pemuka dan para penguasa. Kataku kepada mereka: "Masing-masing kamu telah makan riba dari saudara-saudaramu!" Lalu kuadakan terhadap mereka suatu sidang jemaah yang besar. (Neh 5:7)
“Setelah berpikir masak-masak…”: menenangkan diri, menimbang-nimbang keadaan dan pilihan yang tersedia, tidak mengambil tindakan buru-buru ketika dalam keadaan marah. Kalau saja Nehemia mengambil tindakan dalam keadaan marah besar, bisa saja tindakannya jadi tidak bijaksana, dan Iblis bisa mengambil kesempatan untuk membuat kekacauan besar.
Tapi saya orangnya emosian nih…
Kalau begitu, saudara harus dipenuhi Roh Kudus. Dari situ, kita akan hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Hidup kita akan memunculkan buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Semua obat kemarahan ada di sini.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT