Image Background
header
Umum M A S A L A H
M A S A L A H
1 Pada tahun yang ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, ke Yerusalem, lalu mengepung kota itu. 2 Tuhan menyerahkan Yoyakim, raja Yehuda, dan sebagian dari perkakas-perkakas di rumah Allah ke dalam tangannya.
(Dan 1:1-2)
Menurut Ensiklopedi Britanika terbitan thn 1982, Brian Heise dari kota Provo, Utah di Amerika Serikat mengalami serangkaian peristiwa buruk dalam 1 hari di bulan Juli.
 Apartemen kebanjiran karena pipa air pecah di unit di atas dia.
 Pergi menyewa alat penghisap air, menemukan ban mobilnya kempes.
 Ganti ban, lalu kembali ke apartemen untuk telpon teman minta tolong; kena setrum listrik dari telpon; telpon ketarik dan copot.
 Mau keluar lagi, pintu macet; terpaksa teriak ke tetangga minta tolong.
 Sementara ini sedang berlangsung, mobil dicuri orang.
 Mobil kehabisan bensin, ditinggal oleh maling di pinggir jalan.
 Terpaksa Brian dorong mobil ke pom bensin.
 Malam hari ikut upacara militer, menduduki bayonet yang ditaruh di kursi mobil.
 Pulang dan menemukan 4 burung kenari mati ketimpa gipsum yang jatuh dari langit-langit.
 Kepleset dan jatuh kena tulang ekor.
 Komentar Brian: mungkin Tuhan mau saya mati tapi Dia meleset terus.
Sebagian saudara mungkin tertawa membaca cerita ini. Kenapa? Karena terjadi pada orang lain… Kalau kita yang mengalami? Kenapa aku kenal sial terus ya Tuhan…? Kuasa dan kasih Tuhan kita pertanyakan… (apalagi kalau kita merasa selama ini kita berdoa tiap hari dan hidup benar).
Di antara semua bangsa yang pernah ada di dunia ini, rasanya tidak ada yang sebandel Yahudi. Hukuman berkali-kali diberikan atas mereka, masalah terjadi terus-menerus, tapi mereka tidak kapok-kapok. Sampai akhirnya mereka dibuang ke Babilonia. Dan mereka, tidak seperti Brian Heise, tahu benar bahwa itu memang hukuman Tuhan.
Daniel dan kawan-kawannya tiba di Babilon, ibukota kerajaan Babilonia, sebagai tawanan perang. Mereka diperlakukan dengan baik, mendapat makanan enak, dilatih dan akan diperbantukan di istana raja. Tapi namanya jadi tawanan di negeri orang, mana enak? Ingatan kepada negeri sendiri yang hancur tetap membawa kesedihan dan kemarahan.
Setiap orang hidup mengalami masalah. Masalah tidak mengenal agama, suku atau kondisi keuangan. Dia kadang datang dengan peringatan sebelumnya, seperti kasus bangsa Israel ini. Dia sering datang tanpa pemberitahuan, seperti kasus Brian Heise.
Beberapa orang mengalami kehancuran hidup karena masalah dalam hidup mereka. Beberapa orang lagi justru mengalami berkat yang muncul dari masalah, atau sesudah mereka mengalami masalah. Kenapa bisa demikian?
Yang menjadi masalah bukan masalahnya, tetapi cara anda menghadapi masalah itu.
Masalah pasti muncul. Cara kita menghadapi masalah yang menentukan kita dibinasakan atau diberkati oleh masalah itu.
Beberapa orang menghadapi masalah dengan sikap-sikap berikut ini:
1. Salahkan orang lain. Ini cara paling gampang dan sering dilakukan. Kambing hitam tersedia di mana-mana. Tuhan bisa disalahkan; tetangga bisa; pasangan hidup bisa; anak/orang tua bisa; atasan Apakah ini menyelesaikan masalah? Tidak, tapi boleh jadi ini menolong supaya kita tidak disalahkan. Hanya saja, cara begini adalah cara yang tidak menolong untuk jangka panjang. Kita lama-lama terbiasa memakai cara ini, sekalipun sudah jelas kita yang salah. Kita jadi manipulatif.
Kalau kita perhatikan situasi Daniel, dia sama sekali tidak menyalahkan siapapun juga, sekalipun dia bisa menyalahkan raja-raja Yehuda seperti Yoyakim atau Yoyakhin. Malah dia menyatakan dirinya sebagai yang ikut bersalah. Dengan pengakuan ini, maka dia menjadi bagian dari solusi.
2. Mengasihani diri sendiri. Istilah kerennya: victim’s mentality alias mentalistas korban. Orang yang demikian sungguh-sungguh mengira bahwa dia kena masalah karena salah orang lain. Bisa saja ini benar. Tetapi masalah dengan sikap ini adalah: orang ini merasa dia tidak usah dan tidak harus berbuat apa-apa untuk mengubahkan keadaan. Akibatnya lama-lama dia memang menjadi korban, tapi korban sikap dia sendiri. Dia tidak akan mau disalahkan, tidak mau diajak berubah. Orang demikian paling susah ditolong, karena dia tidak mau ditolong.
Daniel memutuskan untuk tidak menyalahkan siapa-siapa atau mengasihani dirinya. Dia memutuskan untuk tetap berharap kepada Tuhan, Allahnya. Dia menghadapi situasi yang ada dengan berani. Dia tidak tergilas oleh masalah, malah dia bangkit dan menerima berkat besar dari masalah yang terjadi. Kalau dia tidak ikut diangkut ke Babilonia, dia tinggal di Israel dan tidak ada orang yang kenal dengan dia. Justru di Babilonia, dia menjadi perdana menteri untuk beberapa raja musuh bangsanya. Hidupnya tercatat dalam sejarah karena keberanian dia menghadapi masalah dengan mengandalkan Allah yang dia sembah, yang juga adalah Allah yang saudara dan saya sembah di dalam Yesus Kristus.
Apa berkat terbesar bagi Daniel dan bangsanya melalui pembuangan itu? Semenjak itu, bangsa Israel atau Yahudi tidak pernah lagi menyembah berhala.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT