Image Background
header
Umum M  A  S  A  L  A  H
M A S A L A H
Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.
(Maz 90:10)

Dua bulan lalu, dalam rentang waktu 8 hari saya 6 kali mengunjungi 5 rumah duka untuk menghibur keluarga-keluarga yang mengalami kehilangan salah satu anggota mereka. Bulan ini saya mengunjungi 2 rumah sakit dalam 2 hari berturut-turut. Alangkah banyaknya orang sakit dan orang susah di dunia ini. Tapi kita tidak bisa tahu akan hal ini kalau kita tidak mengunjungi tempat-tempat ini.
Menurut Maz 90:10, masa hidup manusia adalah 70 tahun, dan kalau kita kuat, kita bisa mencapai usia 80 tahun. Tentu saja pengarang mazmur ini, Nabi Musa, tidak mengatakan bahwa tidak ada manusia yang bisa berusia lebih dari 80 tahun. Dia sendiri saja mencapai usia 120 tahun. Dia juga bukan menyatakan bahwa tidak ada orang yang meninggal sebelum usia 70 tahun. Dia hanya mengatakan bahwa umur manusia itu ada batas, baik itu 70 tahun atau 80 tahun atau di usia yang lain.
Lalu, apa yang bisa dibanggakan dari umur sekian puluh tahun ini? Kekayaan? Ketenaran? Kedudukan? Bukan semua itu. Menurut Musa, kebanggaan manusia hanya ada dua: kesukaran dan penderitaan. Yang terbaik dalam hidup kitapun ternyata hanyalah kesukaran dan penderitaan. Tidak percaya? Saya kasih contoh. Pernah dengar istilah POSD? Post Olympic Stress Disorder alias Gangguan Stres Pasca Olimpiade. Ini adalah gangguan kejiwaan yang dialami oleh para peserta Olimpiade.
Sebelum ikut Olimpiade, para peserta berlatih keras sekali selama bertahun-tahun. Meninggalkan keluarga, sekolah, teman dan kenyamanan. Memaksa tubuh sampai hampir di luar batas kemampuan. Menahan berbagai kesakitan dan penderitaan demi ikut Olimpiade.
Kalau kalah dan stres masih bisa dimaklumi. Tapi kalau sudah menang medali emas dan kemudian depresi? Tidak masuk di akal, tapi inilah yang terjadi. Kemuliaan Olimpiade hanya sekitar 5-10 menit, ketika medali dikalungkan dan lagu kebangsaan dinaikkan. Setelah itu, para pemenang kembali ke kehidupan normal, tanpa ada pengalungan medali, tanpa ada wartawan saling sikut memotret mereka. Di situ mereka mengalami POSD; merasa tersia-sia dan tidak berguna.
Hal yang sama dialami oleh para pesohor dan milyuner. Kekayaan dan ketenaran tidak ada artinya. Hidup berlalu buru-buru dan kita hilang dari bumi ini, bahkan dari ingatan manusia.
Test: coba sekarang juga sebutkan nama kakek dari kakek saudara/i, dan umur/tahun berapa beliau dipanggil Tuhan? Dari 100 orang yang ditanya pertanyaan ini, belum tentu ada 1 di antaranya yang bisa menjawab.
Test: tanpa membuka buku atau Google, siapa nama Perdana Menteri Indonesia yang terakhir? Dari 100 orang yang ditanya pertanyaan ini, belum tentu ada 1 di antaranya yang bisa menjawab.
Oleh karena itu, selama kita masih hidup di dunia ini, kita tidak boleh berharap hidup ini akan bebas dari masalah atau penderitaan. Banyak orang Kristen mengharapkan hidup seperti ini ketika mereka ikut Yesus: kuman dan virus akan menghindari mereka, banjir tidak akan melanda rumahnya, doa apapun dikabulkan, hidup kaya, mati bahagia, masuk surga.
Semua ini adalah akibat dari membaca Alkitab setengah-setengah. Ini adalah akibat dari mendengar khotbah yang muncul dari membaca Alkitab pilih-pilih ayat.
Mereka lupa apa kata Yesus sendiri di Mat 7:24-25:
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
Rumah yang dimaksud Yesus bisa berbicara tentang hidup kita. Sekalipun seseorang mendengar perkataan Yesus dan melakukannya (berarti dia hidup benar), tetap saja dia akan mengalami hujan (badai), banjir dan angin (ribut). Masalah tetap ada. Tetapi orang itu akan mendapatkan kekuatan dalam menghadapi semua masalah itu.
Jadi, mari kita hadapi masalah kehidupan dengan penuh iman dan keberanian. Jangan lari dari masalah. Ketika kita lari, masalah tidak hilang. Nanti dia akan muncul lagi dengan ukuran yang lebih besar. Mintalah hikmat dari Tuhan untuk menghadapi masalah kita.
Mari kita jalani hidup kita dengan satu doa:
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
(Maz 90:12)
Menghitung hari bukan semata-mata menghitung dengan memakai kalkulator (tanggal hari ini dikurangi tanggal lahir). Yang dimaksud menghitung di sini adalah menyadari hari kita terbatas, dan kemudian memeriksa hidup kita.
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, (Ef 5:15)
Periksalah hidup saudara, adakah hal tertentu yang harus diubah? Jikalau ada, mari kita berubah. Kita tidak akan hidup selamanya. Waktu kita terbatas. Lakukanlah itu, maka saudara akan menjadi arif alias bijaksana. Dan hidup ini akan menjadi berarti. Dan ketika kematian mendatangi kita, kita akan hadapi dia dengan moto ini:
Hidup tanpa penyesalan
Mati tanpa ketakutan
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT