Image Background
header
Umum M E M B A T A S I
M E M B A T A S I
Kata Yesus: "Angkat batu itu!" Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: "Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati." (Yoh 11:39)

Gubernur DKI Jakarta, Basuki T. Purnama alias A Hok, adalah orang top, kemana-mana dikejar orang. Sebagian mengejar dia untuk memarahi dia; sebagian besar lainnya mengejar dia untuk meminta foto bersama atau bercerita tentang kesusahan hidup.
Enak juga kayaknya jadi orang top ya…seperti presiden, kepala negara atau raja-ratu, keluarga bangsawan. Kemana-mana dilihati orang, dikagumi orang (atau diirii orang), dicari orang. Rasanya gimanaaaa gituh… Kita kita ini, yang kalau jalan bolak balik di mal berjam-jam tidak pernah dilirik orang, tentu berpikir bahwa jadi orang top itu asyik.
Tapi realitanya adalah: orang-orang ini sangat dibatasi gerakannya. Presiden Jokowi pegang payung saja jadi berita. Kenapa? Karena seharusnya presiden tidak usah, bahkan tidak boleh, pegang payung sendiri. Protokol ketat menyertai para orang top ini. Gerak gerik mereka diatur dengan ketat; cara bicara, isi pembicaraan, cara berdiri, dimana berdiri, sama siapa berdiri, baju sehari-hari, semua diatur ketat atau kata lain: dibatasi. Ketika Presiden Gus Dur muncul dengan celana pendek, seluruh Indonesia heboh…
Membatasi manusia sih boleh saja, karena manusia pada dasarnya memang terbatas. Masalah muncul ketika kita juga mulai berupaya membatasi Tuhan yang tak terbatas.
Yang benar saja…mana ada orang waras yang (berani) membatasi Tuhan?
Kutipan dari Yohanes itu baru satu contoh. Tuhan Yesus hendak membangkitkan Lazarus yang sudah mati. Adiknya (apa kakaknya) menghalangi dengan memberi peringatan kepada Tuhan: Tuhan (ya…Marta memanggil Yesus sebagai Tuhan), ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.
Maksudnya? Jangan buka kuburannya, kan dia sudah mati. Sudahlah, orang mati mau diapakan lagi?
Contoh lain: para Farisi yang merencanakan pembunuhan terhadap Yesus karena Dia melakukan penyembuhan pada hari Sabat. Bagi Farisi, Tuhan tidak akan, dan tidak boleh, melakukan kegiatan seperti penyembuhan pada hari Sabat. Ada yang malah bilang begini: “Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Bahasa Betawinya: “Emang kagak ada hare laen, sampe elu orang musti datang pas hare gene”?
Contoh lain: para murid Yesus ketika disuruh memberi makan 5000 orang pria (belum hitung wanita dan anak-anak). Ketika ditantang Tuhan, ini jawaban mereka: Jawab Filipus kepada-Nya: "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya: Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?
Barang kali kita membatasi Tuhan dengan niat baik: jangan sampai Tuhan hilang muka… Itu yang terjadi pada Marta. Dalam pikiran dia, sehebat-hebatnya Yesus, mana bisa Dia membangkitkan orang yang sudah mati 4 hari, yang jenasahnya sudah membusuk? Nanti kalau Dia doa terus Lazarus tidak bangkit, apa kata dunia? Maka, lebih baik kasih Dia peringatan supaya Dia jangan terlanjur berdoa dan tidak terjadi apa-apa…
Barang kali kita membatasi Allah dengan niat baik: Dia sudah bilang Dia beristirahat pada hari Sabat… biarkanlah Dia beristirahat, jangan diganggu. Seperti Farisi, kita mengira Dia itu seperti dokter yang memakai jam praktek. Atau Farisi merasa mereka sedang menegakkan Firman Allah tentang hari Sabat.
Kita membatasi Tuhan karena pola pikir dan perhitungan manusiawi. Seperti murid-murid Yesus. Menurut hitungan manusia, hanya 5 roti dan 2 ikan, mana bisa memberi makan orang sebanyak 5000?
Tetapi Allah kita adalah Allah atas kemustahilan. Seperti kata malaikat Gabriel kepada Maria: Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Mustahil bagi manusia, mungkin bagi Allah.
Bertahun-tahun yang lalu, ada seorang hamba Tuhan mengajak saya mendoakan seorang politisi kristen (waktu itu beliau masih anggota DPR) yang ingin menjadi Gubernur DKI Jakarta. Nama politisi itu adalah A Hok. Saya bahkan tidak tahu bahwa nama lengkapnya: Basuki Tjahaja Purnama. Saya menolak ikut, karena bagi saya adalah mustahil seorang kristen Tionghoa pakai nama A Hok bisa jadi gubernur Jakarta…
Jangan membatasi Tuhan…
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT