Image Background
header
Umum M I S S
M I S S
"Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung… Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. (Mat 11:21-24)
Si pengamen itu duduk dengan anggun. Kaki mengangkang lebar, cello mahal tersandar. Jemari tangannya memainkan musik yang mengalun lembut di udara dingin menusuk tulang. Di pusat kota Melbourne, di pinggir jalan Swanston, sore itu dia menyajikan musik klasik yang mengelus jiwa. Suhu 8o derajat itu tidak terasa menggigit ketika saya berhenti lama untuk menikmati musiknya.
Saya tidak tahu dia siapa, tapi tampangnya mengingatkan saya akan pesulap David Copperfield. Wajah ganteng, kulit agak gelap, rambut ikal berkibar terkena angin kutub. Bermantel tebal, sepatu pantofel. Keren! Jelas bukan pengamen kelas ecek-ecek seperti yang banyak beredar di Jakarta, modal tutup botol dipaku di kayu lecek. Dari permainannya terlihat bahwa orang ini pemain cello yang beneren. Dengan latar belakang gedung State Library yang megah, ini sungguh sajian gratis yang istimewa. Sayangnya, ratusan, bahkan ribuan orang lewat, tapi hanya segelintir yang perduli dan berhenti… apalagi memberi (by the way, saya ikut memberi…).
Saya jadi ingat akan Joshua Bell, salah satu pemain biola paling hebat di dunia saat ini. Januari 2007, Bell diundang bermain di kota Washington, ibukota negara Amerika Serikat. Tiket acara untuk kelas kambing US$ 100 per orang (sekitar Rp. 1.350.000,-, per kurs minggu ini; minggu depan bisa lebih ancur lagi). Penonton melimpah, mengelu-elukan sang maestro muda.
Tiga hari kemudian, suatu eksperimen diadakan. Bell mengamen di pintu masuk stasiun kereta api di kota itu. Kamera tersembunyi merekam apa yang terjadi. Di pojok pintu Bell berdiri, celana jeans, T-shirt dan topi. Dan selama 43 menit berikut dari tangannya mengalir 6 komposisi khusus biola karangan berbagai komposer besar, antara lain komposer Jerman, Bach dan Schuman. Biola yang dipakai adalah karya Stradivarius, buatan tahun 1713. Jadi biola itu sudah berumur 302 tahun. Harga biola? Sekitar US$ 3.5 juta alias hampir 50 milyar rupiah! Yang melewati dia hari itu: 1.097 orang. Yang berhenti dan menonton? Hanya 27 orang, tidak sampai 3%. Sisa 1.070 orang, 97% lebih, berlalu tanpa perduli akan kehadiran dan permainan sang maestro biola di situ. Berapa hasil ngamen hari itu? US$ 32,17 saja. Itupun karena ada satu orang yang mengenali pemusik kelas dunia itu dan menyumbang US$ 20.
Kata Bell, “Kok, orang tidak melihat ke saya ya? Padahal suara biola saya keras sekali loh!”
Saudara, banyak hal dalam hidup ini yang kita miss alias lolos dari pengamatan kita.
Banyak keindahan hidup ini yang kita lewati tanpa sadar setiap hari.
Banyak hal yang membawa sukacita luput dari mata kita.
Banyak berkat Tuhan yang kita lalui tanpa apresiasi.
Banyak keajaiban yang berlalu saja tanpa kita sempat terpesona.
Banyak mujijat terjadi tanpa kita sadari.
Kita sudah terlalu sibuk dengan banyak hal, lari sana lari sini. Tekanan, persaingan, dead-line, krisis, media sosial dll sudah terlalu mendominasi hidup ini. Kita tidak sempat lagi untuk berhenti sejenak, dan mengagumi keajaiban di sekeliling kita.
Yesus mengecam orang-orang yang demikian. Dalam kutipan di awal, Dia mempermasalahkan orang-orang di kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum yang miss, gagal melihat atau tidak perduli dengan mujijat-mujijat yang terjadi di tengah-tengah mereka. Demikian beratnya kecaman Tuhan Yesus atas mereka, sehingga Dia merendahkan mereka lebih daripada Sodom, kota yang melambangkan kekelaman dosa. Kata-kata yang keras ini perlu kita camkan, supaya kita bisa belajar dan jangan jatuh dalam kesalahan begini.
Hidup ini indah. Kalau kita ada waktu untuk berhenti sejenak dari kesibukan kita.
Mujijat itu nyata. Tapi hanya untuk mereka yang membuka mata.
Saya tidak bilang kita semua harus duduk berjam-jam setiap hari mendengarkan musik di pinggir jalan. Saya tidak bilang kita tidak boleh bekerja keras mencari nafkah.
Saya bilang: kita jangan terikat dengan rutinitas hidup kita. Terpaku pada keinginan untuk menang terhadap tetangga di sebelah. Terjebak dalam lingkaran persaingan kehidupan dunia. Buta terhadap karya Tuhan di depan kita.
Karena ketika kita berhenti sejenak, di situlah mata kita akan terbuka. Dan siapa tahu, pada saat itu Tuhan sedang bekerja di dekat kita, bahkan melalui kita.
Ambillah waktu di jam ibadah ini untuk melihat Tuhan. Dia ada di tengah-tengah kita, sedang bekerja. Keajaiban sedang tercurah di tengah-tengah kita. Dan itu terlihat nyata, bagi mereka yang membuka mata…
Tuhan, bukakan mata jasmani, jiwani dan rohaniku, supaya aku bisa melihat mujijat-Mu…
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT