Image Background
header
Umum MENGAPA ?
MENGAPA ?
M E N G A P A?
1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. 2 Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? 3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian." – Luk 13:1-5


Sulaeman pastilah tidak mengira bahwa Rabu pagi itu (21 Agustus 2013) adalah akhir kehidupannya di muka bumi ini. Pegawai toko gas ini sedang mengisi tabung gas ketika bis Giri Indah menghantam dia.
Delapan belas dari 60 jemaat GBI Rahmat Emmanuel Ministry (REM) yang menumpang di bis itu pasti juga tidak mengira bahwa hari itu adalah hari terakhir kehidupan mereka di muka bumi ini.
Bagi kita yang mendengar berita kecelakaan ini, pertanyaan besar muncul: bagaimana bisa orang habis berdoa tahu-tahu meninggal karena kecelakaan? Terus terang, saya tahu ada orang yang meninggal bukan habis berdoa, tetapi ketika sedang berdoa… Tentu ada yang bisa menjawab, “Loh, bukan masalah meninggalnya, tapi kenapa harus karena kecelakaan? Meninggal mah bisa kapan saja, tapi kan masih ada banyak cara lain…?” (Seolah-olah kita bisa memilih cara kita meninggal…#tepokjidat)

Tuhan Yesus, dalam kutipan Injil Lukas di atas, mendapat berita soal 2 bencana. Dan reaksi-Nya ‘dingin’ sekali. Tidak ada rasa terkejut, tidak ada turut berbelasungkawa. Yang ada adalah ‘tembakan’ ke inti masalah: bagaimana kita harus menanggapi berita bencana.

Kecenderungan manusia kalau melihat bencana adalah menonton dan mengomentari – ini adalah hal yang paling gampang dan manusiawi. Perhatikanlah kalau ada kecelakaan lalu lintas. Yang macet 2 jalur, yang ada kecelakaan dan jalur satunya yang tidak ada kecelakaan. Jalur yang tidak ada kecelakaan menjadi macet karena orang melambatkan kendaraannya, bahkan berhenti, untuk menonton kecelakaan. Sebagian keluarkan HP dan memotret untuk diunggah ke twitternya.
Ada tour model baru, namanya tour bencana. Ini serius. Lapindo adalah contoh bagus. Gunung Merapi menjadi obyek wisata setelah meletus. Aceh menarik wisatawan yang ingin melihat seperti apa kerusakan tsunami.
Dan penonton selalu paling pintar. Salah satu politisi top kita menyalahkan rakyat yang terkena bencana tsunami. ‘Salah sendiri, kenapa tinggal di pinggir pantai…’
Dari ucapan Yesus kita tahu bahwa orang-orang itu cenderung menghakimi. Dan Tuhan mengoreksi mereka.
Yesus mengajarkan 3 hal mengenai bencana. Dan dalam 3 hal ini, Dia memberikan perhatian justru kepada mereka yang TIDAK terkena bencana.
1. Jangan menghakimi orang yang menderita. Orang yang menderita ini tidaklah lebih parah di hadapan Tuhan daripada orang lain. Orang yang tidak menderita tidaklah lebih baik di mata TUHAN daripada mereka yang menderita. Di hari-hari penuh bencana ini, kita perlu perhatikan ini. Menghakimi adalah hal yang terbiasa kita lakukan, sering tanpa sadar, padahal itu tidak disukai oleh Tuhan. Yang berhak menghakimi hanya Tuhan. Maka, barang siapa yang berani menghakimi sesamanya adalah orang yang mencoba mengkudeta Tuhan. Dia mengambil alih kedudukan Tuhan! Ini berlaku bukan hanya mengenai bencana, tetapi dalam segala segi kehidupan. Melihat baju orang, menghakimi… melihat lenggang orang, menghakimi… melihat kesalahan orang, menghakimi… tanpa menyadari bahwa kesalahan kita sendiri juga sama banyaknya, atau malah lebih banyak dari orang yang kita hakimi, cuma jenisnya berbeda saja…
2. Periksa diri sendiri. Setiap orang seharusnya/pantas menderita bencana seperti itu. Jadi kalau menderita, jangan bertanya: “Kenapa saya, kenapa bukan si X yang jahat itu? Apa salah saya?” Pertanyaan begini tidak menolong. Yang tidak terkena justru harus bertanya, “Kenapa saya tidak kena?” “Bagaimanakah hidup saya selama ini?” Kalau saya dipanggil Tuhan hari ini, apakah saya siap?”
3. Bertobat. Setelah melakukan introspeksi diri di langkah 1 tadi, kita mengambil tindakan untuk mengubahkan hidup kita. Terlalu banyak orang sadar dia ngawur tapi tidak mengambil tindakan apa-apa. Akhirnya kesadarannya tidak ada gunanya. Kesadaran harus diikuti dengan keputusan dan dilanjutkan dengan tindakan.
Tuhan Yesus, ajar kami untuk tidak menghakimi orang lain, terutama mereka yang sedang menderita. Sebaliknya, bawalah kami untuk boleh memeriksa diri kami sendiri, dan memperbaiki diri kami. Doa kami untuk keluarga korban bis Giri Indah. Tuhan memberikan penghiburan dan kekuatan kepada mereka semua. Amin.
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT