Image Background
header
Umum N G A L A H  (2)
N G A L A H (2)
Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri."
(Kej 13:8-9)
Ketika masih miskin dan susah, kita gampang akur. Ketika sudah kaya, kita malah saling tempur.
Ketika usaha masih kecil, kita gampang bersatu. Berjuang bersama, lembur bersama, makan bersama, nangis bersama, meringis bersama. Wah… pokoknya akrab sekali… sampai waktunya uang mulai datang, dan usaha mulai membesar. Ketika uang mulai mengalir lancar, nah di situ kita mulai beradu; dari adu mata sampai adu mulut, lalu adu lihai dan akhirnya, bisa-bisa, adu pengacara. Berkat, kalau tidak ditangani dengan baik, bisa menimbulkan masalah baru.
Abraham meninggalkan negerinya. Dia hanya membawa istri, papa yang sudah tua, dan keponakannya bernama Lot. Kenapa Lot dibawa? Barangkali, menurut saya, karena Abraham tidak punya anak dan Lot tidak punya bapak. Bapaknya Lot, Haran, sudah meninggal.
Demikianlah paman dan keponakan ini berjuang bersama di negeri asing. Lalu keduanya menjadi kaya. Kambing dan domba mereka bertambah banyak, sementara sumber makanan dan air terbatas. Maka terjadilah gesekan antara anak buah mereka. Masing-masing lapor sama boss masing-masing. Kalau tidak segera ditangani, bisa-bisa paman dan keponakan menjadi musuh. Akhirnya mereka berdua melakukan konferensi tingkat tinggi.
Setelah cipiki cipika, minum susu kambing dan makan bakpao kacang merah, Abraham berbicara. Intinya: daripada kita ribut, mendingan kita pisah jalan. Lalu Abraham melakukan sesuatu yang luar biasa: dia mempersilahkan sang keponakan untuk memilih dulu mau ke mana, dia akan pergi ke jurusan sebaliknya. Ini kan bahaya!? Bagaimana kalau Lot memilih yang bagus-bagus?
Ini bisa diumpamakan seperti ada 2 orang Jakarta berbagi warisan berupa 2 rumah. Satu rumah di Menteng (Jl Teuku Umar) satu lagi di Pademangan IX gang 41 (mohon maaf bagi yang tinggal di Pademangan; nanti akhir ceritanya bagus kok). Terus yang satu bilang gini: “Elo pilih dulu deh yang mana elo mau, gue ambil sisanya ajah…” amblesss… orang pasti pilih rumah di Menteng (sekali lagi, mohon maaf sama yang tinggal di Pademangan; nanti akhir ceritanya saya jamin bagus).
Begitu juga Lot. Alkitab mencatat bahwa Lot melihat ke Lembah Yordan dan melihat bahwa daerah itu banyak air dan subur, jadi dia mengambil seluruh wilayah itu. Naseepp… Abraham kebagian wilayah yang coklat dan kering. Mengalah tidak selalu indah… di awalnya.
Mungkin anda pernah mengalami hal seperti ini. Seharusnya itu hak kita, lalu kita mengalah dan hak kita diambil. Kita suka menyesal kenapa mengalah. Yang mengambil hak kita kelihatan makmur dan menikmati hak kita itu. Tapi mungkin itu yang lebih baik daripada kita mendapatkan hak tersebut.
Terjadi sesuatu yang luar biasa setelah pemisahan tersebut. Kej 13:14-15:
Setelah Lot berpisah dari pada Abram, berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.
Abraham disuruh TUHAN melihat ke arah timur dan barat, utara dan selatan… Timur adalah Lembah Yordan… semua yang dia lihat itu, termasuk yang tadi diambil oleh Lot, TUHAN berikan kepada dia.
Orang yang mengalah ternyata mendapatkan segalanya.
Lot memilih Menteng…ee…eh… sorry, Lembah Yordan. Di situ hidupnya berakhir dengan tragis. Istrinya meninggal; dia meniduri 2 anak perempuannya yang akhirnya menurunkan 2 bangsa yang sekarang sudah punah: Moab dan Amon.
Pelajaran kehidupan apa yang bisa kita dapat dari cerita ini?
1. Kita selalu menyamakan mengalah dengan kalah. Padahal, ngotot dan memaksakan kehendak sering kali berakhir dengan tidak baik. Kalau satu berkat memang sudah bagian kita, dia tidak akan lari. Saya berbicara di sini dalam konteks berkat, bukan dosa. Kalau melawan dosa, kita jangan mengalah.
2. Tidak semua berkat menjadi berkat, malah bisa menjadi jerat. Ada orang-orang yang ketika hidup susah sangat cinta Tuhan. Begitu uang berlimpah malah lupa Tuhan. Ini bukan anti berkat, tapi mari kita sadari bahwa berkat perlu ditangani dan dihadapi dengan baik.
3. Tahu berterima kasih. Seandainya saja saya jadi Lot, saya akan berkata begini, “Om, saya ini kaya sekarang ini kan karena Om juga. Om yang bawa saya ke sini. Om jangan suruh saya pilih duluan. Om yang pilih duluan saja. Kalau Om ke kiri, aku ke kanan. Kalau Om ke kanan, aku ke kiri.” Kalau Lot lakukan hal ini, mungkin hidupnya tidak akan berakhir dengan kacau.
4. Kalau mau pilih tempat tinggal, perhatikan lingkunganmu. Ini catatan Alkitab tentang pilihan Lot di Kej 13:12-13: Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. Adapun orang Sodom sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN. Lot tidak menjadi jahat karena Sodom, dia tetap hidup benar. Tetapi dia menderita sengsara akibat memilih hidup di lingkungan Sodom. Bacalah Kejadian pasal 19 untuk melihat apa yang terjadi di sana.
Saudara sekalian, hidup ini pilihan. Terkadang, pilihan paling baik adalah membiarkan TUHAN memilihkan buat kita. Kita tidak ngotot dengan maunya kita dan keinginan kita, tetapi kita berserah kepada Dia. Doa kita diakhiri dengan kata-kata ini:
Bagaimanapun juga ya Bapa, biarlah kehendak-Mu yang jadi, bukan kehendakku…
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT