Image Background
header
Umum N O N T O N
N O N T O N
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Mat 7:3-5)
Pewahyuan bisa muncul di mana saja, termasuk di lapangan bola. Itu yang terjadi pada saya. Saya mendadak sadar akan bakat terpendam saya ketika menonton kesebelasan Real Madrid melawan AS Roma. Pertandingan berlangsung di suhu 5oC. Penonton 81.000 orang. Yang bertanding pemain kelas dunia yang gajinya perminggu bisa mencapai 5-6 milyar rupiah per orang. Tapi hasilnya? 0-0. Kacamata. Sungguh keterlaluan! Payah!
Selama pertandingan berlangsung saya baru sadar betapa besarnya bakat saya menjadi pelatih bola. Rafael Benitez, pelatih baru Real Madrid itu, banyak salahnya. Saya bisa tunjukkan kesalahan taktik dan strateginya. Semangatnya juga melempem. Coba kalau saya yang melatih, saya yakin hasil bisa minimal 3-0 untuk kemenangan Madrid. Seandainya para boss Madrid tahu bawah di tengah-tengah penonton itu ada seorang pelatih jenius…aih…
Saya juga baru sadar betapa hebatnya saya seumpama saya menjadi pemain bola. Itu yang namanya Ronaldo, banyak gagalnya. Saya bisa melihat jelas kesalahannya dalam berlari, mencari peluang, dan menendang. Dia banyak salah tendang. Kalau saja saya yang main dan ambil bola itu, gol sudah terjadi dari awal… Yah…begitulah ironi di hidup ini, banyak jenius seperti saya sering tersia-siakan oleh dunia… menyedihkan…
Sampai anak saya berkomentar, “Coba aja turun main pa…” Tooonnk! He..he..he.. saya cuma nyengir aja…
Hidup sering kali seperti pertandingan bola. Ada penonton, ada pemain.
Kalau saudara menjadi penonton, saudara akan merasa diri hebat! Yeah! Kesalahan orang lain terlihat sekali. Payah istri saya itu! Ampun deh suami saya! Papi saya? Nyerah deh… Itu pendeta apa perlu diajar lagi teknik berkhotbah ya?… Jemaat hanya kritik saja…
Bukan hanya kesalahan orang lain saja yang terlihat jelas, tapi kejahatan dan kejahilan mereka sangat gampang terdeteksi. Sama gampangnya juga melihat kebaikan, keindahan, kesabaran, kejujuran, kealiman, kesalehan, kedermawanan, kepintaran, dan kehebatan diri kita sendiri.
Penonton adalah juara kritik. Tukang tuding. Jagoan mencibir. Ahli protes. Farisi.
Menjadi pemain adalah hal yang berbeda. Bergumul di lapangan kehidupan membuka mata dan wawasan kita. Kita sadar akan kekurangan kita. Kita tidak gampang mengkritik orang lain. Kita sadar, semua kita bikin salah.
Ketika pemain bola berbuat salah, bahkan sampai membuat gol bunuh diri, pemain lain akan terperangah…tepok jidat, pukul kepala sambil menatap tak percaya. Habis itu? Adakah mereka ramai ramai menuding, memarahi dan mengeroyok si pembuat gol bunuh diri itu? Apakah mereka langsung copot sepatu andalan mereka dan keprukin kepala si pembawa sial itu? Sama sekali tidak! Mereka kasih kode kepada pemain itu: Ayo, main lagi…semangat lagi…jangan pikirkan gol itu! Cepat, kita balas mereka! Begitulah pemain yang benar. Mereka tahu bahwa memarahi teman mereka tidak akan menolong mereka menang dalam pertandingan. Tapi kalau penonton… orang itu dicaci maki, diketawain, diolok-olok, bahkan disambit!
Kepada para tukang kritik, penonton yang merasa diri pintar, Tuhan Yesus memberikan nasihat ini: Ketika kamu melihat selumbar (sebutir debu) di mata saudaramu, jangan sampai lupa bahwa pada saat yang sama, ada balok gede banget di matamu sendiri. Buang dulu balok di matamu, barulah bereskan debu di mata orang lain. Kalau tidak, mata orang bisa rusak oleh kita gara-gara pandangan kita terhalang balok tadi. Atau mungkin, setelah kita menyadari balok ada di mata kita, mungkin kita juga sudah tidak terlalu berani mempermasalahkan debu di mata orang lain.
Itulah ironi kehidupan. Sendiri ada salah besar, tapi mempermasalahkan kesalahan orang lain yang kecil dan remeh. Mungkin kita juga sengaja mempermasalahkan debu di mata orang lain, supaya balok di mata kita tidak terlihat orang…
Ikut Yesus itu seperti orang bertanding. Dan jelas sekali, di pertandingan ini kita bukan penonton, tetapi peserta. Kita tidak ada waktu untuk mengkritik orang lain. Kita sibuk bertanding. Kita sibuk mendukung teman-teman kita.
Bukan berarti pemain yang salah tidak dimarahi. Dia dimarahi. Tetapi yang berhak memarahi hanya satu orang: pelatih.
Apakah selama ini saudara lebih banyak nonton? Nonton kebaktian? Nonton pelayanan orang? Nonton hidup orang? Nonton rumah tangga orang?
Saya mengajak kita, sebagai sesama anggota tubuh Kristus, untuk tidak saling menjatuhkan, tetapi saling membangun. Untuk tidak saling melemahkan, tetapi saling menguatkan. Pakailah mulut kita bukan untuk gosip, tetapi untuk menyampaikan hal-hal baik tentang sesama kita. Pakailah mata kita bukan untuk memancarkan kebencian tetapi untuk menyampaikan kasih. Pakailah tangan kita bukan untuk menuding tetapi memberkati. Ampunilah saudara-saudari kita yang bersalah.
Mari berhenti nonton (dan mengkritik), dan sadari bahwa kita sebenarnya adalah sesama pemain. Kita ada di tim yang sama, dengan musuh yang sama, lapangan yang sama, Pelatih Agung yang sama: Yesus Kristus, Juru Selamat dunia. Dialah yang berhak menilai kita karena Dia adalah Hakim Agung atas orang yang hidup dan yang mati. Amin!
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT