Image Background
header
Umum N Y A L A K A N
N Y A L A K A N
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
(Mat 5:12)
Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan.
(Pdt William Watkinson, 1907)

Pada tahun 1985, saya masih seorang kristen yang baru bertobat. Gembala sidang kami ketahuan melakukan satu dosa yang mengagetkan kami semua. Ternyata dia sudah sering berbuat demikian. Akibatnya kegoncangan besar terjadi, sehingga sebagian jemaat pergi, hanya menyisakan beberapa gelintir orang di gereja itu. Saya termasuk yang tinggal.
Sekitar 2-3 tahun setelah peristiwa itu, ada yang bertanya kepada saya melalui telpon mengapa saya tidak ikut meninggalkan gereja itu, atau bahkan meninggalkan kekristenan. Jawaban saya ada beberapa butir, antara lain:
1. Saya datang ke gereja dan berjumpa dengan Yesus dengan cara susah payah dalam keadaan sakit parah. Saya tidak mau meninggalkan iman saya hanya gara-gara seorang manusia yang melakukan tindakan dosa yang kebangetan (sekalipun itu adalah orang yang mendoakan saya hingga sembuh dan yang membaptis saya).
2. Kalau kita (saya dan penelpon itu) merasa bahwa pendeta itu kebangetan, dan kita merasa diri kita bisa lebih baik daripada dia, mari kita jadi pendeta.
Saya berbicara tentang menjadi pendeta ini bukan karena saya bercita-cita menjadi pendeta. Mikir aja kagak… Saya hanya merasa seperti yang saya katakan: kalau merasa kita bisa berbuat yang lebih baik daripada orang lain, mari kita lakukan sesuatu. Kalau mengikuti kutipan pendeta William Watkinson: Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan.
Sekarang ini di gereja ada banyak orang yang peka dan waspada dengan kegelapan. Mereka tanggap dengan berbagai hal yang salah dengan gereja (sebenarnya tidak sulit-sulit amat menemukan kesalahan di gereja), lalu mengkritik berbagai kesalahan tersebut. Istilah Watkinson: mereka pintar dalam hal mengutuki kegelapan. Karena jaman now adalah jaman sosmed, maka kritik mereka itu diunggah ke berbagai sosmed. Lalu beberapa orang yang memiliki pandangan serupa (yang selama ini diam) ikut bersuara. Pengkritik pertama merasa dia benar karena ada dukungan. Dia jadi tambah berani dan mantap. Ramailah suasana di FB, Instagram dan Twitter.
Yang menjadi masalah menurut saya adalah bahwa banyak dari mereka ini hanya pintar mengutuki kegelapan, tetapi tidak pernah mengambil tindakan konkrit untuk memperbaiki kesalahan yang mereka bukakan. Mereka tidak menyalakan lilin. Kalau meminjam kata-kata pendeta Watkinson: Mengkritik lebih gampang dan murah daripada melakukan sesuatu, dan menjadi godaan yang populer.
Akibatnya adalah kegelapan tidak pernah hilang, karena tidak ada tindakan nyata. Para pengkritik jadi tambah mengkritik dan marah. Tapi kegelapan tidak hilang juga. Akhirnya orang-orang ini mengambil tindakan yang paling gampang: keluar dari gereja (dalam keadaan pahit dan sakit, untuk nantinya di tempat lain menularkan penyakitnya itu ke orang lain).
Kalau mengikuti pengamatan pdt Watkinson, harusnya begini: daripada banyak protes, mendingan lakukan tindakan nyata.
Contoh: kalau ada yang merasa bahwa pendeta A tidak benar, silahkan sekolah pendeta lalu tunjukkan cara yang benar. Itu lebih baik, daripada mencela ke sana-sini.
Kalau ada yang merasa pendeta B tidak benar dalam menggembalakan jemaat, silahkan rintis satu gereja dan lakukan dengan cara yang benar. Itu lebih baik, daripada menudingkan jari ke sana-sini. Terkecuali kalau anda adalah nabi utusan Tuhan yang diberi tugas membongkar kesalahan.
Masalahnya adalah: beberapa orang memang hanya punya ilmu mengutuki, tanpa ilmu menyalakan.
Sekali lagi, mencari kesalahan adalah hal yang gampang. Anak kecil juga bisa. Kritik dan protes itu tidak susah. Semua orang bisa.
Tuhan Yesus mengajarkan kita satu hal penting ini: jadilah terang.
Daripada meributkan kenapa ruangan begitu gelap, nyalakanlah senter di HP saudara.
Daripada menghabiskan waktu mengkritik orang, ambillah tindakan nyata untuk menunjukkan cara yang benar.
Jadilah seperti Bapa kita di surga. Dia bukan bertahta di surga sambil mengomeli manusia yang kurang ajar. Dia mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki keadaan bagi manusia, dengan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, menjelma menjadi manusia, mati di kayu salib, dikubur tetapi bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Haleluyah!
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT