Image Background
header
Umum N  Y  E  R  A  H
N Y E R A H
Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."
(1 Raj 19:4)

Pernah dengar kata-kata seperti begini?
Gua nyerah dah kalo ama anak ini…!
Aku ga sanggup lagi meneruskan usaha/rumah tangga/hidup ini. Aku nyerah…
Banyak orang menyerah dalam hidup ini. Dari meja pingpong sampai ke medan perang, dari ruangan direksi sampai ke kamar rumah sakit…
Menyerah adalah angkat bendera putih, lempar handuk/raket/pedang/tongkat, tinggalkan gelanggang. Menyerah adalah tidak sanggup lagi melanjutkan perjuangan. Entah karena lawan terlalu kuat atau kita sudah terlalu capai.
Menyerah itu agak mirip dengan pasrah. Pasrah adalah terserah mau diapakan, alias terima nasib. Pasrah sudah tidak mau melakukan apapun juga. Kita bisa bilang bahwa pasrah adalah kelanjutan dari menyerah.
Elia menyerah. Nabi besar dan berapi-api ini mendadak jadi ciut dan redup. Dia minta mati karena merasa diri gagal (sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.). Padahal sehari sebelumnya, dia baru saja melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukan para nabi sebelumnya, dan tidak pernah terulang lagi sesudahnya: memanggil api turun dari langit, habis itu menyatakan hujan turun dari langit, setelah itu membunuh ratusan nabi palsu. Kemarin dia sungguh gagah. Angin berkibar, mata menyala… dada tegak, tangan terkepal… suara cetar membahana, rakyat terpesona…raja dia lawan, nabi palsu dia binasakan… Sekarang dia sendirian di tengah keheningan gurun, mati angin, kesepian, kelelahan, meratapi nasib, minta mati… Sungguh kontras antara kemarin dan hari ini!
Barangkali ada yang bisa merasakan apa yang Elia rasakan. Minggu lalu uang masih berlimpah, hidup masih indah; minggu ini uang sirna, hidup terasa neraka. Lalu anda ingin menyerah.
Saya ajak anda untuk jangan menyerah, tapi berserah.
Menyerah adalah kalah, tidak bisa berbuat apa-apa, pasif dan pasrah.
Berserah itu jauh berbeda.
BERSERAH = MERENDAHKAN HATI
Ketika saya berserah, saya bukan berserah kepada keadaan. Kalau itu, namanya pasrah. Saya berserah kepada satu Kuasa yang lebih tinggi daripada saya. Saya mungkin belum menemukan kesulitan atau masalah dalam perjuangan saya, tetapi saya menyadari bahwa cepat atau lambat, tantangan dan masalah bisa muncul yang melebihi kemampuan saya, maka saya berserah kepada Tuhan Allah. Jadi berserah itu pro-aktif. Tidak menunggu masalah muncul baru mencari pertolongan; dengan demikian dalam berserah ada unsur kerendahan hati. Saya mengakui keterbatasan saya dan kebutuhan saya akan Tuhan.
BERSERAH = TANDA IMAN PERCAYA
Berserah adalah tanda percaya saya akan kebaikan dan kekuatan Tuhan Allah. Saya hanya bisa berserah kepada seseorang yang saya percayai. Saya percaya bahwa rencana Tuhan untuk hidup saya adalah yang terbaik. Saya beriman bahwa ketika saya berserah, saya tidak akan ditinggalkan.
BERSERAH = AKTIF
Berserah bukanlah duduk menunggu dengan pasif. Sebaliknya, berserah adalah aktif mencari arahan dari Dia, dan aktif mengambil tindakan sesuai dengan pimpinan Tuhan.
Berserah adalah berkata seperti Tuhan kita: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Kita yakin kehendak Dia adalah yang terbaik untuk kita. Maka kita berserah.
Elia akhirnya berserah. Dia semula memiliki harapan besar untuk mengubah bangsanya. Akhirnya dia sadar, bahwa dia tidak bisa melakukan hal tersebut dengan kekuatannya sendiri. Maka dengan arahan dari Tuhan, dia kembali ke Israel dan memuridkan Elisa, yang akan melanjutkan pelayanannya.
Mari kita tanggalkan semua keputusasaan kita.
Mari kita jangan menyerah kepada pergumulan kehidupan kita.
Mari kita percaya akan Dia yang berjanji menyertai kita.
Mari kita belajar berserah, bukan menyerah!
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT