Image Background
header
Umum NAIK DAN TURUN
NAIK DAN TURUN
Dari 100 orang yang bisa menghadapi kegagalan, belum tentu ada 2 di antara mereka yang bisa menghadapi keberhasilan. – Thomas Carlyle
…apa saja yang diperbuatnya berhasil. – Mz 1:3

Sukses itu penting. Tetapi lebih penting lagi adalah mempertahankan kesuksesan. Sukses itu tidak gampang. Tetapi lebih tidak gampang lagi adalah mempertahankan kesuksesan. Saya berbicara tentang sukses bukan semata-mata dalam arti sukses secara keuangan, tetapi juga sukses berumah tangga, sukses melayani pekerjaan Tuhan, dll. Mempertahankan adalah lebih susah daripada mendapatkan. Kisah hidup raja Yehuda bernama Uzia mencerminkan hal ini.
Uzia artinya ‘Yahweh adalah kekuatanku’. Nama yang bagus. Alkitab mencatat prestasi raja Uzia dan menyimpulkan: "Nama raja itu termasyhur sampai ke negeri-negeri yang jauh..." (2 Taw 26:15). Dalam daftar raja-raja Yehuda sesudah raja Salomo, ia adalah raja Yehuda yang dianggap terbaik setelah raja Yosafat. Inilah orang yg memiliki segala-galanya: harta, kedudukan, kekuasaan dan ketenaran. Hal-hal yang dikejar mati-matian oleh manusia sudah dia nikmati. Darimana datangnya semua ini? Ayat yg sama melanjutkan: "... karena ia ditolong dengan ajaib sehingga menjadi kuat."
Sukses tidak pernah dicapai sendirian. Kita ada sampai hari ini, entah kita anggap diri kita sukses atau tidak, selalu ada unsur pertolongan pihak lain. Guru SD kita, teman lama kita, sahabat, orang tua atau saudara dll. Dan, terutama, TUHAN. Kata ayat 5: "Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil."
Cuma, karena Tuhan tidak pernah melempar uang atau rumah atau pabrik langsung dari langit, maka orang sering kali tidak melihat campur tangan Tuhan ini. Seperti kata Musa: …Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan… (Ul 8:18). Jadi, Dia memberikan kita ‘kekuatan’ alias sumber daya untuk memperoleh kekayaan.
Mari kita mencari TUHAN, bukan supaya segala usaha kita berhasil, tapi karena kita mengasihi Dia. Itulah yang menyenangkan hati TUHAN. Keberhasilan adalah akibat dari kita mencari TUHAN, tapi jangan itu yang jadi sasaran utama.
Raja Uzia memiliki segala-galanya: harta, kedudukan, kekuasaan dan ketenaran. Tetapi dia tidak sanggup mempertahankan SEMUA itu, karena dia gagal mempertahankan SATU hal: kerendahan hati. Uzia menjadi sombong. Inilah kata Alkitab:: "Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak…"(2 Taw 26:16)
Sukses punya kekuatan hebat untuk mengubah seseorang, umumnya ke arah kesombongan. Uzia mengambil alih tugas imam, yang bukan bagian dia. Para imam dengan tegas menegur dia. Uzia tidak terima teguran mereka, dan langsung dia terkena kusta dan akhirnya tinggal di pengasingan sampai meninggalnya. Akhir yang tragis dari seorang raja yang semula sangat berhasil... Hidupnya tidak mencerminkan arti namanya.
Kerendahan hati adalah barang langka saat ini. Sebab di mana-mana orang-orang berusaha meninggikan diri, menonjolkan kehebatan, mempromosikan keberhasilan. Pengkhotbah jatuh ke dalam jebakan ini. Pengusaha masuk ke dalam tipuan ini. Politisi ‘nyebur’ ke dalam ilusi ini.
Saya sama sekali tidak berkata bahwa orang tidak boleh menceritakan keberhasilan mereka. Tuhan bisa dipermuliakan melalui kesaksian-kesaksian yang luar biasa ini. Tetapi saya mengingatkan bahwa, kalau tidak hati-hati, kita bisa menjadi terperangkap, dan merasa bahwa semua itu kita dapat karena kita hebat dan pintar.
Alkitab menyebut Uzia ‘tinggi hati’. ‘Tinggi hati’ bisa muncul di permukaan, seperti Uzia. Tapi bisa juga ‘tinggi hati’ tetap di dalam hati. Ada kerendahan hati yang palsu, merendahkan diri di hadapan orang, tetapi sombong di dalam hati. Ini juga jebakan yang perlu kita waspadai.
Kita perlu orang-orang yang cukup mengasihi kita untuk berani menegur kita. Hargailah orang-orang yang demikian. Tapi kita sendiri juga harus cukup rendah hati untuk mau ditegur dan berubah. Memang tidak enak ditegur... tapi itu bagus buat kita. Seandainya saja Uzia mau mendengar, mungkin akhir hidupnya akan berbeda jauh.
Marilah kita meniru Yesus, Junjungan kita:
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. – Fil 2:6-7
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT