Image Background
header
Umum P  A  L  S   U
P A L S U
21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan
masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan
kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 22 Pada hari terakhir banyak orang
akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi
nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak
mujizat demi nama-Mu juga? 23 Pada waktu itulah Aku akan berterus
terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu!
Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
Mat 7:21-23
Semua orang ingin sukses dalam hidupnya. Tidak ada orang yang mau
gagal. Ini adalah sesuatu yang wajar dan berlaku di semua segi
kehidupan, sekuler maupun rohani.
Yang menjadi pertanyaan adalah: apa ukuran keberhasilan itu?
Secara umum, ukuran keberhasilan ini sifatnya eksternal (terlihat,
terukur): harta, kedudukan, ketenaran. Semakin banyak seseorang
memiliki hal-hal ini, semakin berhasillah dia, menurut anggapan ini. Dan
semua ini, kalau tercapai, diyakini akan membawa kepada kepuasan dan
kebahagiaan hidup. Kalau anda memiliki ini semua tapi tetap belum
bahagia atau puas, berarti anda masih kurang banyak memiliki. Anda
harus lebih kerja keras lagi untuk meraih harta lebih banyak lagi,
kedudukan yang tambah tinggi lagi, ketenaran yang makin luas lagi.
Saya kuatir bahwa dalam dunia pelayanan, para hamba Tuhan bisa saja
mengejar penanda keberhasilan yang sama palsunya. Seperti apa? Mirip-
mirip dengan yang di atas tadi: harta, kedudukan, ketenaran, tapi dalam
konteks rohani, yaitu: jumlah jemaat banyak, gedung besar milik sendiri,
undangan ke mana-mana, melayani orang-orang top dan konglomerat.
Pendeta dengan anggota jemaat 500 orang merasa gagah ketika ketemu
dengan pendeta dengan anggota jemaat 50 orang, tetapi langsung
sungkem ketika ketemu dengan yang punya 5000 anggota, sebagian
sosialita kelas tinggi, selebriti wangi dan pengusaha berdasi. Semua
penanda sukses eksternal ini dianggap sebagai tanda-tanda keberhasilan
seorang hamba Tuhan. Dan saya yakin semua ini adalah palsu.
Keyakinan ini saya dapatkan dari kata-kata Tuhan sendiri di Matius yang
kita kutip di atas. Di sini Tuhan BUKAN sedang berbicara tentang para
hamba-Nya yang tidak beres kerjanya, lemah doanya, ngawur
berkhotbahnya, kecil gerejanya, malas penggembalaannya, tidak jelas
teologianya. Di sini Tuhan jelas sedang berbicara kepada sekelompok
pendeta yang bekerja keras, terkenal dan banyak dicari orang, yang
dianggap ‘berhasil dan dipakai Tuhan’. Mereka melakukan mujijat,
mengusir setan dan bernubuat. Ini pelayanan yang dahsyat!
Mereka memanggil Yesus sebagai Tuhan dan membawa nama Tuhan ke
mana-mana. Semua yang mereka lakukan, menurut pengakuan mereka,
adalah demi nama Tuhan (3 kali mereka sebut hal ini). Dikenal oleh






ribuan, bahkan jutaan orang, tetapi tidak dikenal oleh Tuhan. Berbuat
banyak untuk pekerjaan Tuhan tetapi disebut sebagai pembuat kejahatan
oleh Sang Majikan. Orang-orang yang salah fokus dan salah sasaran, yang
mengira kesibukan adalah pelayanan, yang menganggap ketenaran
sebagai keberhasilan, yang menyamakan jemaat besar dan kekayaan
sebagai tanda perkenanan.
Kalau demikian, apa ukuran keberhasilan seorang hamba Tuhan? Di ayat
21: …melakukan kehendak Bapa-ku yang di sorga. Adakah yang lebih
simple daripada ini? Ukuran keberhasilan seorang hamba Tuhan tidak
rumit-rumit amat: lakukan saja kehendak Bapa kita yang di sorga.
Simple… tetapi dalam sekali…
Seseorang bisa saja sangat sibuk di ladang Tuhan tetapi melakukan
kehendak sendiri, bukan kehendak Bapa. Seseorang bisa saja menyebut
terus nama Tuhan dalam memperjuangkan agenda pribadinya. Bukankah
ini hal yang umum terjadi, baik sadar maupun tidak?
Untuk bisa melakukan kehendak Bapa di sorga, kita harus tahu dulu apa
kehendak-Nya. Sudahkah anda tahu apa kehendak Bapa di sorga untuk
pelayananmu?
Saya rasa ini harus menjadi doa dan pergumulan setiap hamba Tuhan,
sampai kita yakin dan mantap tentang apa kehendak Bapa di sorga untuk
kita. Inilah jaminan dari Tuhan kita sendiri untuk orang-orang yang
meminta, mencari dan mengetok (Mat 7:7-8):
"7 Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan
mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8 Karena setiap
orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari,
mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan."
Kalau seorang hamba Tuhan melakukan kehendak Tuhan, maka dia akan
menemukan keberhasilan yang ASLI, bukan palsu, di mata Sang Majikan.
Jemaatnya akan bertumbuh; dia akan dicari orang; pelayanannya akan
efektif; dia akan menjadi berkat bagi banyak orang; dan ketika dia sampai
ke surga, dia akan berjumpa dengan Sang Majikan yang berkata:
Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau
telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu
tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam
kebahagiaan tuanmu.
Satu-satunya pujian yang kita harus cari adalah pujian dari Gembala
Agung kita; pujian manusia tidak ada gunanya. Upah terbesar tersedia di
surga, bukan di dunia. Apa yang kita lakukan di dunia ini, menurut kita,
sudah hebat. Padahal itu belum apa-apa dibandingkan dengan apa yang
Tuhan sediakan bagi kita ketika kita berjumpa dengan Dia.

Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT