Image Background
header
Umum P  E  J  A  B  A  T
P E J A B A T
Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man"s character, give him power. (Hampir semua orang sanggup menghadapi kesukaran, tetapi kalau anda ingin menguji karakter seseorang, berikanlah dia kekuasaan.)
Abraham Lincoln, presiden AS ke 16, 1860-1865.

Perkataan Abraham Lincoln ini bisa kita lihat kebenarannya pada diri raja Israel bernama Saul (wafat thn 1010 sM). Ketika terpilih menjadi raja pertama Israel, dia adalah seseorang tanpa nama dan tanpa prestasi apa-apa. Karena itu, dia terkesan ‘kagok’ dan tidak tahu mesti berbuat apa sebagai raja. Tetapi Roh Tuhan menyertai dia sehingga, di awal pemerintahannya, dia cukup berhasil.
Selama 40 tahun jadi raja, dia berubah menjadi seorang yang haus kekuasaan dan penuh rasa tidak aman. Dengan berbagai cara dia berusaha mempertahankan kekuasaannya, bahkan dengan mengupayakan pembunuhan atas menantunya sendiri, yang kemudian menjadi Raja Daud.
Ketika seorang menduduki satu jabatan, bersama dengan itu, dia juga mendapat kekuasaan yang melekat di jabatannya itu. Kekuasaan ini diberikan supaya sang pejabat mampu melakukan apa yang harus dilakukan, sesuai dengan amanat jabatannya itu. Kekuasaan dan jabatan itu membuat dia berada di atas yang lain, sehingga dia bisa, kalau perlu, memaksakan kehendaknya (tentunya untuk kebaikan masyarakat/orang banyak). Jadi, kekuasaan ini memang harus ada.
Tapi kekuasaan cuma alat yang tergantung kepada pemakai. Dia seperti pisau, yang di tangan ahli bedah akan menjadi penolong orang, dan di tangan rampok akan menjadi penodong orang. Maka karakter pemegang kekuasaan akan menentukan bagaimana dia memanfaatkan kekuasaannya itu.
Jabatan, dengan kekuasaan yang melekat, adalah ujian sekaligus penyingkap. Dia menyingkapkan karakter asli seseorang dan juga kemampuan sejati seseorang. Ketika kampanye, semua bicaranya hebat dan serba bisa. Ketika sudah duduk di kursi, baru terlihat kemampuan asli.
Jabatan adalah ujian. Dia menguji konsistensi seseorang. Sebagian orang memulai jabatan dengan niat jahat. Rencana sudah disusun dengan rapi, siapa yang perlu dia sudahi dan kerjai. Daftar sudah ada di kepala, siapa yang perlu dikasih hadiah dan pahala. Semoga yang demikian dijauhkan dari kota dan bangsa kita.
Tetapi ada juga orang yang memulai dengan baik, dengan niat mulia. Di tengah jalan, kekuasaan memabukkan dia. Sebab kekuasaan tidak pernah sendirian. Bersama dia, selalu muncul peluang dan godaan untuk memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri sendiri, teman, saudara, atau memperjuangkan kepentingan kelompok.
Seperti raja Uzia di kerajaan Yehuda. Dia memulai dengan baik. Ini kata Alkitab di 2 Taw 26:
3 Uzia berumur enam belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan lima puluh dua tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem. Nama ibunya ialah Yekholya, dari Yerusalem. 4 Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Amazia, ayahnya. 5 Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil.

Lalu dia berubah:
2 Taw 16: Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.
Kekuasaan memiliki kekuatan untuk mengubahkan orang, biasanya dari baik menjadi jahat, dari tulus menjadi ambisius, dari sederhana menjadi serakah.
Oleh karena itu, ketika seseorang mendapat jabatan, orang itu sebenarnya jangan dikasih selamat. Jangan bikin pesta, atau kirim karangan bunga…
Si pejabat ini perlu berdiam di rumah, dia perlu sujud di hadapan Yang Maha Kuasa, dan dengan berurai air mata, dia memohon diberikan bimbingan dan petunjuk, teguran dan arahan selama menjabat, sehingga jabatan itu tidak menjadi awal kehancuran.
Keluarga dan teman-temannya perlu mendatangi dia bukan dengan senyum ceria dan daftar proyek idaman mereka, tetapi dengan muka muram dan memberikan janji ini: Beban berat ada di pundakmu. Kami akan mendukung kamu, dengan jalan mengawasi kamu.
Sebab kalau tidak hati-hati, rompi oranye sudah menanti…
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT