Image Background
header
Umum P  E  R  A  N  G  (1)
P E R A N G (1)
10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. 13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. (Ef 6:10-13)

Toshifumi Fujimoto, supir truk dari Jepang, suka sekali jalan-jalan ke luar negeri. Hawaii, duduk-duduk di pinggir pantai? Tidak. Paris, melihat Menara Eiffel? Tidak. Sydney, melihat Opera House atau main petak umpet dengan kanguru? Tidak juga. Syria? Iya!
Fujimoto suka sekali jalan-jalan ke wilayah perang. Dia ke Mesir ketika sedang terjadi kekacauan besar setelah Hosni Mubarak ditumbangkan. Dia ke Yemen ketika demo anti Amerika dimulai. Dia kepergok wartawan kantor berita AFP di kota Aleppo di Syria sementara perang sengit berkecamuk. Dia sudah 2 kali mengunjungi Syria di tengah perang. Cita-cita Fujimoto adalah pergi ke Afghanistan untuk berkenalan dengan Taliban. (jangan-jangan dia ada di Jakarta tgl 4 November yang lalu?)
Wartawan AFP bertanya kepada dia, “Apakah anda tidak takut tertembak?” Jawaban Fujimoto, “Ah, saya bukan target sniper karena saya turis. Anda, reporter, yang perlu hati-hati.”
Turis kok ke medan perang? Ternyata karena Fujimoto orang frustrasi. Dia bercerai dengan istrinya. Tiga anak perempuannya sudah tidak berbicara dengan dia selama 5 tahun. Tiap kali bicara tentang anak-anaknya, Fujimoto pasti menangis. Dia berharap kalau dia mati nanti, anak-anaknya bisa mendapatkan uang asuransi dan bisa hidup nyaman.
Turis kok ke medan perang? Ini pertanyaan bagus. Dan penting bagi orang Kristen. Sebab kita semua juga sedang ada di medan perang setiap saat. Jangan sampai kita tidak sadar hal ini sehingga kita menjadi turis di medan perang.
Hanya saja, peperangan ini bukanlah peperangan yang bersifat fisik, atau memakai istilah Paulus di kutipan di atas, kita bukan melawan darah dan daging. Dia mengatakan bahwa lawan kita bukanlah manusia, entah itu dari negara tetangga ataupun rumah tetangga, entah itu ipar kita ataupun kaum teroris tukang bom anak kecil. Musuh kita adalah ‘pemerintah-pemerintah,… penguasa-penguasa,…penghulu-penghulu dunia yang gelap ini,…roh-roh jahat di udara.’. Ini berbicara tentang para penguasa kegelapan di alam roh.
Adalah penting dalam suatu peperangan untuk kita mengetahui siapa musuh kita yang sebenarnya. Kalau kita salah musuh, kita akan kalah. Sementara kita sibuk dengan musuh yang salah itu, musuh kita yang sebenarnya akan dengan gampang mengalahkan kita.
Ibaratnya: sakitnya di kepala, tapi yang diobati malah jempol kaki. Tumor di kepala tidak terdeteksi. Sementara jempol kaki gepeng habis kejepit pintu busway. Jadi yang diobati jempol kaki. Memang jempolnya jadi luar biasa sehat, tapi tetap mati gara-gara tumor di kepala tidak diobati.
Ini bukan mengatakan bahwa orang Kristen tidak memiliki musuh dalam arti manusia-manusia yang membenci kita dan menganiaya kita. Tapi itu bukan musuh yang sebenarnya. Itu cuma alat dari musuh kita yang sejati. Ini juga bukan berarti kita tidak bergulat dengan sifat-sifat jelek dalam diri kita. Tapi itu bukan musuh yang sejati.
Peperangan kita yang sebenarnya terjadi di alam roh. Setiap orang Kristen otomatis terlibat di peperangan rohani ini. Musuh sejati kita akan menganggap SETIAP orang Kristen sebagai sasaran tembak. Jadi, sekarang terserah saudara, mau ikut berperang atau pasif menunggu tembakan musuh tanpa perlindungan.
Kenapa mesti berperang? Bukankah kekristenan adalah anugerah semata alias Sola Gratia? Tidak perlu upaya? Hanya percaya saja alias Sola Fida?
Sola Gratia dan Sola Fida berlaku untuk keselamatan. Setelah kita diselamatkan, ada hal-hal lain yang harus kita lakukan di dalam mengerjakan keselamatan yang penuh anugerah ini (Fil 2:12: Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,).
Saya kutip kata-kata Pdt. D. L. Moody:
“Sewaktu saya menjadi orang percaya, saya membuat kesalahan ini: saya pikir peperangan sudah menjadi milik saya, kemenangan sudah didapat, mahkota sudah di tangan. Saya mengira yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang, dan hidup lama, sifat lama yang rusak, sudah menghilang. Tetapi saya menemukan, sesudah melayani Kristus beberapa bulan, bahwa menjadi percaya adalah seperti mendaftar menjadi tentara – bahwa ada peperangan yang harus dijalani.” (D.L. Moody)
Pembaca, mari kita sadari realita ini: ikut Yesus adalah menjadi tentara, bukan menjadi turis. Ada peperangan rohani yang harus kita jalani. Siapkah saudara berperang?
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT