Image Background
header
Umum P  E  R  D  U  L  I
P E R D U L I
Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.
Luk 10:33-35

Seorang anak perempuan ABG dari satu pedalaman AS lari dari rumah dan terdampar di New York. Baru sampai di kota besar itu 3 hari, dia diperkosa. Beberapa bulan kemudian dia sadar dirinya hamil akibat pemerkosaan tersebut. Dia hidup dari tunjangan pemerintah. Lalu waktunya dia melahirkan. Dia ke rumah sakit. Pada hari ke empat dia diminta keluar karena ranjangnya dibutuhkan orang lain. Dia masih memiliki uang US$ 6. Dia naik taksi sambil menggendong bayinya. Taksi hanya 4 dollar, tapi sopir taksi memaksa minta tip. Dia kasih tip 1 dollar. Sisa uang 1 dollar.
Dia meninggalkan bayinya di apartemen, lalu pergi untuk mengambil uang tunjangan sosial. Sampai di bank dia baru sadar bahwa dia membuat kesalahan fatal. Dia meninggalkan bayinya di apartemen bersama anjing yang sudah tidak makan 4 hari. Dan ketakutannya menjadi kenyataan ketika dia kembali ke apartemen. Bayinya sudah dimakan anjingnya.
Cerita ini membuat satu kota New York heboh. Senator Patrick Leahy berkata begini: Apa yang salah dengan kota kita, sehingga ada orang baru tiba 2-3 hari sudah mengalami pemerkosaan? Apa yang salah dengan rumah sakit kita sehingga orang yang masih pendarahan harus diminta pulang? Apa yang salah dengan kota kita sehingga sopir taksi harus memaksa minta tip dari penumpang? Kenapa ada begitu banyak hal yang salah dalam satu kehidupan yang masih begitu muda ini?
Pertanyaan beliau dijawab oleh seorang anggota dewan kota: Tuan Leahy, kalau anda meminta kami mengurusi masalah setiap orang di kota ini, itu seperti mendengar setiap helai rumput tumbuh. Suaranya akan bikin kita tuli!
Maksud anggota dewan ini adalah: kami tidak sanggup mengurusi semua orang.
Anggota dewan kota saja menyerah, padahal itu tugasnya. Dia memilih untuk cuek.
Kalau saudara tinggal di kota besar, saudara memerlukan jurus-jurus bertahan menghadapi kehidupan yang begitu keras. Salah satunya adalah cuek. Jangan terlalu campur urusan orang lain. Ada orang tergeletak di jalan? Lewati aja. Jangan berhenti, apalagi menolong. Nanti panjang urusannya. Ada kecelakaan? Fotoin aja, jangan turun dari mobilmu dan menolong. Amankan dirimu sendiri. Belajar egois.
Tetapi Yesus tidak mau kita egois. Dia mau kita perduli. Dan tidak hanya perduli tapi bertindak. Cerita tentang orang yang dirampok di tengah jalan antara kota Yerusalem dan Yeriko adalah cerita klasik tentang keperdulian.
Korban perampokan adalah Yahudi. Perampok? Tidak tahu. Lalu lewatlah sesama Yahudi. Pendeta lagi. Tapi dia melengos dan malah menyeberang jalan supaya terhindar dari orang malang itu. Lalu lewat lagi orang Lewi. Sesama Yahudi. Hamba Tuhan juga. Sama lagi tindakannya. Dia menyeberang jalan supaya tidak melewati korban itu.
Lalu lewatlah orang Samaria, musuhnya orang Yahudi. Dia, kita baca di atas, menaruh belas kasihan, perduli, dan bertindak menolong orang tersebut. Dia rugi dari segi waktu. Perjalanan terganggu karena harus mengurus orang itu. Dia rugi dari segi kenyamanan. Dia harusnya naik keledainya, tapi sekarang terpaksa jalan kaki karena keledai dipakai mengangkut korban. Dia rugi dari segi uang. Minyak dan anggur untuk bekal dipakai. Masih taruh deposit lagi di penginapan. Apa yang dia dapat? Barangkali tidak ada apa-apa. Paling-paling ucapan terima kasih, kalau ada. Tetapi tindakannya itu dilihat oleh sorga dan dicatat di sana. Dan suatu hari catatan itu akan dibaca di depan semua orang.
Kita hidup di kota besar, tapi jangan menjadi kebal dengan penderitaan sesama manusia, entah apapun agamanya dan warna kulitnya. Kita memang tidak bisa menolong semua orang. Hanya Tuhan yang bisa melakukan itu. Tapi mari kita ambil apa yang kita bisa, sekecil apapun itu, dan menolong orang yang sedang sudah. Kita mulai dengan yang dekat dengan kita. Dan kalau Tuhan membukakan pintu, kita akan membantu yang jauh di sana. Kita mau perduli karena Tuhan kita adalah Tuhan yang perduli.

Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT