Image Background
header
Umum P  I  K  I  R  A  N
P I K I R A N
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan
dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.
Filipi 4:8

Pikiran adalah ibu dari perbuatan, kata pepatah Inggris. Artinya: perbuatan kita selalu didahului oleh munculnya pikiran tentang perbuatan itu. Makan? Pasti didahului dengan pikiran tentang makan: makan di mana, makan apa, makan sama siapa atau makan siapa dll. Ibadah? Pasti didahului dengan pikiran tentang ibadah, umpama (jarang-jarang): gua mesti buruan dikit, minggu lalu telat, ga enak ama Tuhan…
Kalau pikiran seseorang itu putih, perbuatannya akan putih. Kalau pikirannya hitam, tingkah lakunya akan hitam. Pikiran segi tiga? Perbuatan segi tiga! Pikiran segi empat? Tindakan juga segi empat! Ini bukan bicara kemutlakan tanpa pengecualian, tapi secara umum itulah yang terjadi. Pengecualian bisa terjadi kalau ada intervensi. Contoh:
Ada seorang datang ke satu gereja dengan membawa pisau untuk membunuh pendeta di gereja itu, karena dia menyalahkan pendeta itu atas kematian adiknya. Ketika selesai khotbah, sang pendeta mengundang orang yang mau didoakan untuk maju ke depan. Orang ini maju ke depan dengan maksud untuk menusuk sang pendeta. Di tengah melangkah, mendadak dia berlutut dan mulai menangis. Dia bertobat dan sekarang calon pembunuh itu adalah seorang pendeta di Singapura. Dia sama sekali tidak terpikir untuk bertobat, tapi itu yang terjadi.
Tapi cerita di atas adalah pengecualian. Secara umum, kita melakukan apa yang kita pikirkan.
Berarti, kalau kita bisa menguasai pikiran kita, kita sebenarnya bisa menguasai tingkah laku kita.
Berpikir bisa dilakukan tanpa berpikir dulu. Ketika kita tidur, otak kita ternyata bekerja terus. Ketika kita pingsan atau koma, otak kita masih aktif. Begitu mata terbuka, bangun dari tidur, kita langsung berpikir (“Ini hari apa ya?” atau “Apa gua banting aja alarm ini?”). Tanpa perlu pemanasan, tanpa perlu aba-aba, otak kita mulai berjalan. Memang ada pengecualian sih. Beberapa orang perlu minum kopi atau teh dulu baru otaknya bisa mulai berjalan. Beberapa orang lagi harus diperintah dulu: “Mikir dong! Mikir!” Tapi secara umum, otak manusia bekerja terus selama kita masih hidup.
Sebagian orang membiarkan pikirannya mengembara, terutama mereka yang punya banyak waktu kosong. Mereka mikir tanpa mikir dulu. Orang-orang ini membiarkan dirinya dikuasai oleh pikirannya. Akibatnya, pikiran bergerak liar tanpa kendali, dan sering berakhir di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Kalau pikiran dibiarkan liar, imajinasi akan menguasai hidup manusia. Imajinasi memiliki kekuatan yang dahsyat. Dia bisa positif, tetapi lebih sering negatif.
Melalui imajinasi, seorang Einstein melahirkan teori relativitas. Melalui imajinasi, seorang Kho Ping Hoo mengarang cerita silat berlatar belakang negara Tiongkok, padahal belum pernah ke Tiongkok sekalipun.
Melalui imajinasi, seseorang terlihat lagi duduk manis di gereja mendengarkan khotbah, tapi sebenarnya dia sedang ada di Jepang, lagi makan ramen di Hokkaido (paling tidak di pikirannya). Kalau imajinasinya cukup kuat, dia akan menelan ludah membayangkan enaknya ramen itu.
Melalui imajinasi, seseorang bisa melakukan hubungan intim dengan siapapun juga dimanapun juga. Melalui imajinasi, seseorang bisa masuk ke istana, menjadi raja. Melalui imajinasi, seseorang bisa hidup dalam ketakutan dan kecurigaan/paranoid, atau menjadi terpenjara dalam penjara yang dibangun oleh imajinasinya.
Pikiran harus dijinakkan, kata Rasul Paulus di Fil 4:8. Kita harus berpikir sebelum berpikir. Setiap pikiran kita harus diperiksa untuk memastikan semuanya memenuhi kriteria yang Paulus sebutkan: semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan
dan patut dipuji…
Kendala utama kita adalah kita mendapat kenikmatan atau manfaat lain dari pola pikir yang tidak benar, tidak mulia, tidak adil, tidak suci, tidak manis, tidak sedap didengar, tidak bajik dan tidak patut dipuji. Maka kita mengikuti pikiran-pikiran ini. Akibatnya? Perbuatan kita menjadi tidak benar, tidak mulia, tidak adil, tidak suci, tidak manis, tidak sedap didengar, tidak bajik dan tidak patut dipuji.
Bagaimana caranya menjinakkan pikiran? Semua pikiran yang bertentangan dengan daftar yang disebutkan oleh Paulus harus dibuang dari pikiran kita. Memang bisa? Bisa! Saudara bisa memutuskan untuk tidak memikirkan sesuatu hal. Caranya? Tolak pikiran tertentu, lalu pikirkanlah hal-hal yang Paulus katakan: pikirkanlah semuanya itu, yang bertentangan dengan pikiran yang ingin dibuang. Memang ini tidak akan terjadi otomatis, perlu dilakukan berulang-ulang. Tetapi pada satu titik, kita akan berhasil kalau kita cukup konsisten, berdisiplin dan mau taat.
Pertanyaannya cuma satu: mau taat atau tidak kepada Firman Tuhan?
Footer
Wisma Achilles Lt 6, Jl Panjang No.29, Kedoya – Jakarta Barat | Phone: (021) 58908595,Fax: (021) 58357514 | Email: admin
@gbiputera.org©2015 GBI Putera. All Rights Reserved.
Jasa Pembuatan Website By IKT